BERI MASUKAN: Wali Kota Batu sekaligus anggota CooSAE, Nurochman saat melakukan paparan dan memberi masukan dalam RAT CooSAE. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Upaya memperkuat ekonomi kerakyatan melalui sektor pertanian terus didorong Pemkot Batu. Salah satunya melalui penguatan kelembagaan petani berbasis koperasi.
Hal itu ditegaskan Wali Kota Batu, Nurochman saat menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 Koperasi Produsen Multi Pihak Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE) yang digelar di Hall Arjuna Selecta, kemarin.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Nur sapaan Nurochman hadir bukan hanya sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai anggota koperasi. Ia memberikan apresiasi terhadap CooSAE yang dinilai menjadi pelopor penguatan koperasi pertanian di Kota Batu.
Menurutnya, keberadaan koperasi tersebut telah membuka ruang bagi penguatan kelembagaan ekonomi petani, bahkan sebelum munculnya program koperasi lain yang digagas pemerintah pusat.
“CooSAE ini bukan sekadar organisasi formal. Perannya sangat penting sebagai penguat posisi tawar petani di tengah dinamika pasar,” ujar Cak Nur.
Ia menilai CooSAE berperan sebagai katalisator dalam pembangunan ekosistem pertanian yang terintegrasi. Mulai dari sektor hulu hingga hilir. Keberadaan koperasi dapat membantu memperluas akses distribusi hasil panen petani sekaligus memastikan produk pertanian terserap pasar dengan harga yang lebih layak dan berkelanjutan.
“CooSAE mempercepat integrasi pertanian dari hulu sampai hilir. Distribusi pasar terbuka lebih luas dan hasil panen petani bisa terserap dengan harga yang lebih baik,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi multipihak serta pemanfaatan teknologi dalam pengembangan sektor pertanian. Dengan pendekatan tersebut, sektor pertanian di Kota Batu diharapkan tetap adaptif, produktif dan memiliki daya saing tinggi.
Cak Nur juga menilai pelaksanaan RAT menjadi momentum penting bagi koperasi, untuk mengevaluasi kinerja sekaligus merumuskan arah kebijakan ke depan.

Ia berharap setiap keputusan yang dihasilkan dalam forum tersebut dapat benar-benar berpihak pada kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah. “Saya berharap CooSAE terus tumbuh dengan integritas dan menjadi penggerak utama pertanian di Kota Batu, serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua KMP CooSAE, Rakhmad Hardiyanto menjelaskan, bahwa RAT kali ini mengusung agenda utama evaluasi kinerja Tahun Buku 2025 serta penetapan rencana kerja dan anggaran koperasi untuk tahun 2026.
“Forum tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat arah strategis koperasi menuju ekosistem pertanian modern berbasis teknologi dan kolaborasi multipihak,” katanya.
Dalam laporan pertanggungjawaban pengurus, CooSAE mencatat sejumlah capaian positif pada tahun awal berdirinya. Hingga saat ini koperasi tersebut telah memiliki hampir 100 anggota aktif.
Selain itu, koperasi juga telah melengkapi berbagai aspek legalitas serta membuka akses pasar melalui sejumlah kemitraan dengan berbagai sektor, mulai dari B2B, B2G hingga B2C. “Kami juga berhasil membangun akses pasar melalui kerja sama dengan berbagai sektor usaha dan pemerintah,” ujar Rakhmad.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi. Di antaranya implementasi standar operasional produksi yang belum optimal, keterbatasan infrastruktur seperti packing house, hingga sistem rantai pasok yang masih dalam tahap pengembangan dan digitalisasi.
Secara finansial, koperasi juga masih berada pada fase investasi. Sehingga fokus utama kegiatan usaha saat ini lebih diarahkan pada pengembangan pasar serta riset dan pengembangan (R&D).
Menjawab berbagai tantangan tersebut, CooSAE telah menyiapkan strategi akselerasi untuk tahun 2026. Beberapa fokus utama yang akan dilakukan antara lain penguatan tata kelola koperasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta standardisasi kualitas produksi berbasis kebutuhan pasar.
Selain itu, koperasi juga akan mengembangkan infrastruktur logistik dan distribusi, memperkuat digitalisasi sistem rantai pasok dan akuntansi koperasi, hingga memperluas akses pembiayaan dan pemasaran.
“Seluruh langkah ini kami siapkan untuk memperkuat ekosistem pertanian modern yang lebih efisien dan terintegrasi,” jelas Rakhmad.
Dalam proyeksi tahun 2026, CooSAE menargetkan pendapatan koperasi mencapai Rp2,45 miliar. Target tersebut menjadi indikator awal menuju koperasi pertanian yang berkelanjutan sekaligus mampu mencetak keuntungan.
“Target ini menjadi langkah awal menuju koperasi yang sehat, berkelanjutan dan pada akhirnya bisa memberikan manfaat ekonomi bagi seluruh anggota,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




