MALANG POST – Rekomendasi Kota Malang menjadi Kota Metropolitan sangat baik dan masyarakat juga harus mendukung. Salah satu yang bisa dilakukan masyarakat, adalah meningkatkan kepeduliannya terhadap kota. Termasuk menjaga kebersihan kota.
Terlebih-lebih perkembangan Kota Malang ini cukup pesat, yang didorong oleh peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Penegasan itu disampaikan Pengamat Tata Kota, Ir. Budi Fathony, MTA., saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Rabu (1/4/2026).
Kata Budi, giat gotong royong harus konsisten dilakukan dan jangan hanya digencarkan saat hari besar nasional saja. Atau ketika menuju momentum penghargaan kota.
Di sisi yang lain, Budi Fathony juga melihat, Kota Malang punya banyak potensi dari peninggalan masa kolonial. Sehingga identitas ekologi dan konsep bangunan yang dikembangkan harus sesuai.
“Pemkot Malang harus mulai memikirkan pembangunan kota jangka panjang. Salah satunya melalui pemberdayaan kota heritage yang hidup.”
“Termasuk menguatkan branding kota pendidikan yang berkarakter, kota heritage tropis , hingga kota humanis berbasis kampung,” tandas akademisi dari ITN Malang ini.
Selain itu menurut Budi, revitalisasi kampung-kampung berbasis peradaban kearifan lokal, juga harus dipertimbangkan. Agar adanya integrasi kawasan heritage dengan ekonomi kreatif , sehingga mampu membangun grand story Kota Malang yang semakin mbois. Diikuti dengan kepemimpinan yang visioner.
Sementara itu, Staf Pengajar S-2 Magister Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang, Dr. R Reza Hudiyanto, M.Hum., menambahkan, Pemkot Malang harus mempertahankan branding sebagai kota pusaka. Salah satunya melalui mempertahankan bangunan-bangunan peninggalan kolonial atau bangunan cagar budaya.
“Kawasan Kayutangan Heritage yang ada, bisa dikembangkan lebih jauh lagi, melalui kolaborasi dengan ekonomi kreatif,” sebutnya.
Namun disisi lain, Reza juga melihat jika Kota Malang masih memiliki PR, untuk memaksimalkan pemanfaatan bangunan heritage yang terbengkalai. Salah satunya gedung kembar yang ada di perempatan Rajabally. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




