MALANG POST – Di tengah pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata dan arus informasi digital yang semakin tak terbendung, Pemkot Batu menilai penguatan nilai moral masyarakat menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Peran pesantren pun dipandang sebagai salah satu benteng penting dalam menjaga karakter masyarakat di Kota Wisata ini.
Hal itu disampaikan Wali Kota Batu Nurochman saat menghadiri acara Silaturahmi dan Halal Bihalal keluarga besar Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Malang Raya di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, kemarin.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Nur sapaan Nurochman menyoroti berbagai tantangan sosial yang mulai muncul seiring berkembangnya pariwisata dan teknologi informasi. Mulai dari degradasi moral di media sosial, kasus perundungan (bullying), hingga ancaman penyalahgunaan narkoba.
Menurut dia, Kota Wisata seperti Batu membutuhkan keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan penguatan nilai-nilai moral masyarakat.
“Di tengah tumbuh kembangnya pariwisata, kita juga menghadapi tantangan sosial. Kita mulai kehilangan sopan santun di beberapa ruang sosial. Karena itu, pesantren memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan antara modernitas dan akhlakul karimah,” tutur Cak Nur.

Wali Kota Batu Nurochman saat menghadiri acara Silaturahmi dan Halal Bihalal keluarga besar Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Malang Raya di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Ia menilai, pendidikan pesantren memiliki karakter universal yang mampu membentuk pribadi berakhlak sekaligus tangguh menghadapi perubahan zaman. Tradisi ketawadukan santri kepada kiai, menurutnya, menjadi nilai penting yang dapat menjadi inspirasi bagi kepemimpinan di pemerintahan.
“Ketawadukan para santri kepada kiai adalah suplemen luar biasa bagi kami di pemerintahan. Nilai itu yang perlu kita jaga bersama,” tambahnya.
Cak Nur juga menegaskan komitmennya bersama Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto untuk menghadirkan birokrasi yang lebih membumi dan dekat dengan masyarakat. Keduanya yang sama-sama berasal dari desa di wilayah Kota Batu ingin memastikan kebijakan pemerintah tidak berhenti pada konsep, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kami ingin birokrasi Kota Batu lebih adaptif dan tidak kaku. Kebijakan yang dibuat harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat kecil,” ujarnya.
Melalui momentum silaturahmi tersebut, Ia juga berharap doa serta nilai-nilai yang diajarkan di pesantren dapat menjadi penguat bagi jajaran pemerintah dalam menjalankan amanah.
Ia menilai keberadaan alumni pesantren, khususnya dari lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, turut memberi warna religius di lingkungan pemerintahan Kota Batu. Berbagai kegiatan keagamaan yang rutin digelar dinilai mampu menghadirkan suasana positif di lingkungan birokrasi.
“Tentu saya berharap ada referensi maupun rekomendasi kebijakan dari para santri. Bagaimana nilai-nilai santri Lirboyo bisa ikut memberi warna dalam kehidupan masyarakat di Kota Batu,” katanya.
Acara silaturahmi tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh keakraban. Sejumlah tokoh ulama turut hadir, di antaranya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batu Abdullah Thohir, serta tausiah atau mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Ahmad Kafa dan Adib dari Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
Melalui pertemuan tersebut, sinergi antara ulama dan umara diharapkan semakin kuat. Pemkot Batu berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam membangun daerah yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga berkarakter kuat dan berdaya saing. (Ananto Wibowo)




