MALANG POST – Ahli gizi mengingatkan pola seimbang dalam memilih makanan, setelah berakhirnya Lebaran tahun ini. Karena ada kebiasaan faktor balas dendam makanan, setelah tidak lagi menjalani ibadah puasa.
Hal itu disampaikan Dosen Departemen Gizi FIKES Universitas Brawijaya, Titis Sari Kusuma S.Gz., MP., saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Kamis (26/3/2026).
“Karena itu, kami menekankan pentingnya kembali ke pola makan gizi seimbang, dengan prinsip piring makanku yang kaya serat. Karena ada kebiasaan di masyarakat, untuk mewaspadai fenomena ‘balas dendam’ makan setelah bulan puasa berakhir,” jelasnya.
Menurut Titis, konsumsi santan dan gula berlebih saat Lebaran, harus segera diimbangi dengan asupan air putih yang cukup.
Hal ini sangat krusial untuk membantu metabolisme tubuh kembali stabil dan membuang sisa-sisa lemak jenuh.
Titis juga menyarankan, agar masyarakat mulai mengatur ulang jam makan yang sempat berubah selama bulan Ramadan.
“Konsistensi dalam mengatur porsi makan, akan mencegah risiko penyakit degeneratif seperti kolesterol dan hipertensi,” sebutnya.
Sementara itu, Owner Aroma Catering Malang, Chef Avi, memberikan solusi bagi masyarakat yang mulai merasa jenuh dengan hidangan bersantan khas Lebaran. Dengan menyarankan mulai mengolah bahan makanan dengan teknik steaming atau grilling guna mengurangi asupan minyak berlebih.
Chef Avi juga menekankan pentingnya penggunaan bumbu rempah alami, sebagai pengganti penyedap rasa buatan dalam masakan rumahan.
“Rasa lezat tetap bisa didapatkan dari kesegaran bahan baku, tanpa harus mengandalkan lemak hewani yang tinggi kolesterol,” sebutnya.
Kreativitas dalam menyajikan sayuran segar, juga menjadi kunci utama agar anggota keluarga lebih bersemangat beralih ke pola makan bersih.
Dengan pengolahan yang tepat, menu sehat pasca Lebaran justru bisa menjadi hidangan favorit baru yang menggugah selera. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




