MALANG POST – Pemkot Batu terus memacu kesiapan infrastruktur pendukung Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu yang dikebut adalah pembangunan dan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur gizi yang menjadi pusat produksi makanan bagi para pelajar.
Hingga saat ini, progres pembangunan dapur MBG di Kota Batu menunjukkan perkembangan positif. Dari target puluhan titik dapur yang direncanakan, sebagian besar sudah mulai beroperasi dan melayani ribuan penerima manfaat.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto mengatakan, saat ini sudah terdapat 23 dapur SPPG yang beroperasi penuh. Dapur-dapur tersebut melayani 43.599 siswa penerima manfaat yang tersebar di berbagai sekolah di Kota Batu.
“Progresnya cukup baik. Saat ini sudah ada 23 dapur gizi yang beroperasi. Target kami seluruh titik dapur yang diproyeksikan sekitar 38 sampai 40 titik bisa segera beroperasi total,” ujar Heli, pekan lalu.
Menurutnya, keberadaan dapur SPPG menjadi kunci utama keberhasilan program MBG. Melalui dapur tersebut, distribusi makanan dapat dilakukan secara terorganisir, merata, sekaligus memastikan kualitas gizi tetap terjaga.

CEK DAPUR: Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto bersama stakeholder terkait saat melakukan pengecekan ke salah satu dapur SPPG di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Karena itu, Pemkot Batu juga memberikan kemudahan bagi para pengelola dapur, khususnya terkait proses legalitas dan perizinan. Salah satu yang diprioritaskan adalah percepatan penerbitan Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).
Heli menegaskan, dirinya telah menginstruksikan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk mengawal langsung proses penerbitan sertifikat tersebut agar tidak menghambat operasional dapur gizi.
Menurutnya, SLHS menjadi instrumen penting untuk menjamin makanan yang diproduksi benar-benar aman dikonsumsi serta diproses di fasilitas yang memenuhi standar kebersihan dan kesehatan.
“Pemkot Batu memberikan kemudahan legalitas, terutama dalam penerbitan SLHS. Ini penting agar setiap makanan yang keluar dari dapur SPPG dipastikan aman dikonsumsi dan memiliki standar gizi yang baik,” katanya.
Dengan sertifikasi tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap porsi makanan yang sampai ke tangan siswa tidak hanya bergizi, tetapi juga diproduksi di dapur yang memenuhi standar sanitasi yang ketat.
Sementara itu, Koordinator SPPG Wilayah Kota Batu, Meita Syahrani memastikan, bahwa seluruh proses produksi hingga distribusi makanan telah melalui pengawasan yang ketat. Setiap porsi makanan yang disalurkan kepada puluhan ribu siswa dipastikan memenuhi parameter gizi serta standar higienitas yang telah ditetapkan.
“Setiap menu disusun dengan standar gizi yang jelas. Proses pengolahan hingga distribusinya juga kami pastikan memenuhi standar kebersihan,” ujarnya.
Untuk menjaga kepercayaan masyarakat, pihaknya juga menyiapkan mekanisme mitigasi jika sewaktu-waktu terjadi kendala di lapangan. Salah satunya dengan membangun sistem pengaduan yang terintegrasi bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu.
Melalui sistem tersebut, masyarakat maupun pihak sekolah dapat segera melaporkan jika ditemukan kejadian yang memerlukan penanganan cepat, termasuk terkait kualitas makanan maupun distribusi.
“Meski kualitas kami kawal ketat, kami tetap menyiapkan posko pengaduan bersama Dinkes. Ini sebagai bentuk komitmen transparansi sekaligus perlindungan bagi para penerima manfaat,” tambahnya.
Pemkot Batu menargetkan seluruh dapur SPPG dapat beroperasi penuh dalam waktu dekat. Dengan begitu, program Makan Bergizi Gratis dapat menjangkau lebih banyak pelajar sekaligus memastikan distribusi makanan bergizi berjalan optimal di seluruh wilayah Kota Batu. (Ananto Wibowo)




