Plh. Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang. (Foto: Iwan Irawan/Malang Post)
MALANG POST – Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang mengaku kekurangan armada pengangkut sampah, dari tempat pembuangan sampah (TPS) menuju ke TPA.
Saat ini, Kota Malang memiliki 78 titik lokasi TPS, yang tersebar di 57 kelurahan. Jumlah armada yang dimiliki baru 49 unit. Idealnya, satu TPS dilayani satu unit truk sampah. Dengan begitu, DLH masih kekurangan 29 unit truk pengangkut sampah.
“Pada tahun 2025 kemarin, kami hanya mendapat tambahan satu unit truk pengangkut sampah. Jadi totalnya baru 49 unit. Itupun kemairn ada empat unit yang tengah diperbaiki. Jadinya, pengangkutan sampah sempat terganggu,” ungkap Raymond di Balai Kota Malang, Rabu (25/03/2026).
Dampak dari kekurangan armada tersebut, sempat terjadi kemacetan di TPS Borobudur. Kemudian di TPS Mulyorejo, kemacetannya bahkan sampai dikeluhkan warga sekitar.
Sedangkan empat armada yang sedang diperbaiki, justru seharusnya sudah diremajakan. Itulah sebabnya, DLH berharap setiap tahun, bisa melaksanakan pengadaan unit baru. Guna bisa memenuhi angka ideal untuk kebutuhan truk pengangkut sampah.
Raymond mengakui, saat terjadi kemacetan di lapangan, di luar perkiraannya. Karena proses perbaikan kendaraan, butuh waktu lebih dari satu minggu. Hingga akhirnya proses pengakutan sampah harus antre di lokasi.
“Ke depannya, kami akan berinsiatif jemput bola dengan mengambil sampah-sampah langsung dari rumah. Meski belum semuanya. Baru pada TPS tertentu.”
“Kami juga berupaya mencari pengganti TPS seperti di Muharto. Mengingat lokasinya juga sudah kurang relevan,” ujar dia.
Persoalan sampah di TPS Muharto, lanjut dia, DLH memaksimalkan pengangkutannya menggunakan truk sampah berukuran besar. Dengan harapan, sekali angkut bisa teratasi semuanya. Sebab, lokasinya sangat padat dan sempit untuk ruang jalannya.
“Untuk ukuran skala kecil, pembuatan TPS baru butuh lahan sekitar 100 meter persegi. Jika lebih luas lagi, penempatan TPS tentunya ada di lahan aset milik Pemkot Malang. Kita masih cari lokasi yang pas dan tepat,” sambung mantan Kabid di Dishub Kota Malang.
Rymond juga menyebut, pada momen-momen tertentu, volume sampah mengalami peningkatan. Seperti saat Lebaran, tahun baru masehi atau acara insidentil semacam haul atau lainnya.
Dalam situasi momen tertentu tersebut, tambahnya, pengangkutan sampah biasanya bisa dua sampai empat kali pengangkutan. Terlebih jika bersamaan dengan masa perawatan dan pemeliharaan kendaraan, menyebabkan armada pengangkutan sampah harus bergantian.
“Biasaya kita siasati dengan mengambil armada dari TPS terdekat. Agar jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dan waktunya pengangkutan juga lebih cepat,” pungkasnya. (Iwan Irawan/Ra Indrata)




