MALAM ke-28, tidak terasa kita sudah berada di penghujung garis waktu Ramadhan yang begitu berharga.
Setelah melewati malam-malam ganjil yang penuh tantangan, kini saatnya kita melakukan “pembersihan besar-besaran” terhadap Jiwa. Selama hampir sebulan ini, jiwa kita seringkali tidak sengaja terpapar oleh debu-debu peradaban yang menyesakkan.
Debu itu bernama kesibukan hawa-nafsu-dunia-syetan (HNDS), gawai yang tak henti menyita perhatian, hingga ego yang seringkali muncul saat lelah melanda.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams: 9-10).
Menyucikan jiwa di malam ke-28 ini berarti kita berusaha membasuh segala kotoran jiwa agar cahaya (Ruh/Iman) bisa kembali masuk dengan leluasa.
Rasulullah SAW pun senantiasa memohon kebersihan jiwa dalam doanya: “Allahumma ati nafsi taqwaha, wa zakkiha anta khoiru man zakkaha” (Ya Allah, berikanlah ketaqwaan pada jiwaku, dan bersihkanlah ia dengan sifat Iman (Ruh): siddiq-amanah-tabligh, fathonah. Engkaulah sebaik-baik yang membersihkannya).
Agar jiwa kita(dengan sifat, hawa-nafsu-dunia-syetan) kembali bersih dari debu peradaban, mari lakukan amalan sederhana namun mendalam berikut ini:
Pertama, Putuskan koneksi sejenak dari dunia digital. Matikan ponsel, simpan jauh-jauh, dan berikan hak penuh bagi mata serta pikiran untuk beristirahat dari hiruk-pikuk media sosial. Jadikan malam ini sebagai “detoks digital” agar jiwa tidak lagi gelisah memikirkan penilaian manusia.
Kedua, Berzikir atau mengingat Allah dan Rasul-Nya di Baitullah dengan melepaskan keterikatan pada makhluk. Ucapkan Laa ilaha … illallah dengan meresapi bahwa tidak ada yang berhak dicintai melebihi Allah. Lepaskan rasa sakit hati atau dendam kepada sesama dengan memaafkan mereka secara tulus sebelum tidur.
Ketiga, Melakukan shalat tasbih dengan penuh kesadaran. Lakukan empat rakaat shalat sunnah tasbih, lalu berdiri, ruku’ dan sujudlah yang lama sambil mengingat (berdzikir) bahwa Allah sedang melihat dan menerima penyesalan kita.
Keempat, Membaca Al-Qur’an dengan (Tadabburi isi – fahami maknanya). Pilihlah satu surat yang menenangkan, baca ayatnya, lalu pahami maknanya agar hati kita tersentuh – hidayah dan terbasuh oleh wahyu-Nya.
Kelima, Bertutur kata lembut, lemparkan senyum kepada keluarga dan lingkungan. Jangan biarkan lelah berpuasa membuat kita marah atau kasar kepada orang-orang terdekat di rumah dan tetenggaa lainnya.
Bersihkan jiwa dengan berbuat baik kepada orang yang paling dekat dengan kita, karena itu adalah cermin kebersihan jiwa dengan hati nurani di dalam dada (berupa rasa-nikmat) yang sesungguhnya (diri sebenarnya diri).
Ingatlah, bahwa debu peradaban (HNDS) mungkin akan selalu datang, namun jiwa yang dibersihkan dengan sifat ruh-iman (siddiq-amanah-tabligh-fathonah), zikir, tasbih, dan taubat akan senantiasa terpelihara kejernihannya dan kita ikhtiarkan terjaga sampai sebelas bulan yang akan datang.
Jangan biarkan sisa malam Ramadlan ini terbuang percuma hanya untuk menyesali masa lalu atau mencemaskan masa depan yang tetap terhias dengan berbagai gejolak dan tantangan yang tiada henti.
Fokuslah pada saat ini, saat di mana kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri di hadapan Sang Pemilik Jiwa dan nurani.
Semoga Allah SWT mencuci bersih JIWA kita dari segala penyakit batin-hati (bersifat tidak mau kelintasan, tidak mau kerendahan, tidak mau kekurangan, dan tidak mau kalah (4), dan berkembang menjadi ajib, riya’, takabur, iri, dengki, hasut, fitnah, tamak, loba, dan sombong (10), serta diakhiri dengan sifat benci, dendam, dan menghancurkan (3) = 17), yang Insya Allah 17 sifat tersebut bisa dihapuskan dengan shalat fardu/wajib 17 rakaat sehari semalam, sehingga kita kembali suci saat hari kemenangan tiba. Wallahu’alam.
Semoga bermanfaat,
Barakallahu fiekum.
Malam ke-28 Ramadlan 1447 H
18 Maret 2026.




