MALANG POST – Malang Post- Di balik layar gedung-gedung kampus Universitas Negeri Malang (UM), sebuah tim kecil dari Fakultas Sastra tengah menorehkan sebuah prestasi yang membanggakan bangsa.
Juara I Musabaqah Mahasiswa Tafsir Hadis (MUMTASH) X tingkat nasional. Mereka adalah Tim Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ) dari Departemen Sastra Arab.
Berkompetisi pada ajang bergengsi di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, berhasil menaklukkan babak-babak menantang dengan kecermatan intelektual, ketahanan mental dan sinergi tim yang solid.
Tiga pilar utama tim MFQ UM adalah Wildan Mujtahid Ubaidillah, Faizur Rosyid Azhari dan Muhammad Fikri Al Faroby. Mereka menjadi pusat perhatian tatkala nama UM perlahan bermuncul di daftar juara.
Mereka bukan sekadar hafiz hafalan semata. Tugas mereka di MUMTASH X adalah membuktikan bahwa memahami kandungan Al-Qur’an secara menyeluruh melampaui kemampuan menghafal, menjelaskan makna, konteks serta keterkaitannya dengan persoalan keislaman kontemporer.
Ajang MFQ yang berlangsung pada Rabu–Kamis (4–5 Februari 2026) ini menampilkan format yang menekankan pemahaman mendalam terhadap isi Al-Qur’an dan pengetahuan syariat.
Peserta dituntut mampu mengurai makna, konteks historis, serta relevansi tematik ayat-ayat suci dengan isu-isu keislaman modern. Di mata para juri dan penonton, kompetisi ini menjadi pertemuan antara tradisi tafsir dengan tantangan intelektual masa kini.
“MFQ MUMTASH X adalah arena yang cukup unik secara teknis,” ungkap Faizur Rosyid Azhari. “Di sini, bukan sekadar hafalan, melainkan bagaimana kita bisa menjelaskan kandungan Qur’an secara terstruktur, membangun argumen ilmiah, dan menunjukkan relevansi dengan dinamika keislaman saat ini. Banyak peserta berasal dari perguruan tinggi yang punya lini kuat di MFQ.”
Penyisihan demi penyisihan, tim UM menunjukkan performa konsisten. Persiapan intensif selama satu bulan menjadi landasan mereka menaklukkan tantangan teknis lomba. Membagi materi, menghafal ayat-ayat, menggali pemahaman konsep, serta membangun kekompakan tim.
Selama periode latihan itu, setiap sesi tidak hanya tentang hafalan, tetapi juga tentang bagaimana menyusun jawaban yang tidak hanya tepat tetapi juga meyakinkan di hadapan para ahli di bidang tafsir hadits.
“Selama sebulan penuh kami berlatih, menghafal, dan memperdalam pemahaman materi agar dapat menjawab setiap soal dengan tepat,” tutur Faizur menambahkan.
Raut wajah mereka menggambarkan campuran tekad dan kebersamaan—sesuatu yang menurut mereka adalah kunci meraih kemenangan.
Prestasi ini lebih dari sekadar trofi di rak. Ia mencerminkan komitmen UM untuk membangun generasi muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berkarakter religius.
Dalam konteks tujuan SDGs, terutama Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas, pencapaian ini dipakai sebagai bukti bahwa akses pendidikan yang bermutu mampu mendorong pengembangan kompetensi, pola pikir kritis, dan nilai-nilai moral yang kokoh.
Faizur berharap kemenangan ini menjadi langkah pertama menuju capaian lebih luas di masa depan.
“Kami berharap dapat terus melaju dan meraih prestasi di berbagai event MFQ lainnya, sehingga dapat membanggakan Universitas Negeri Malang, khususnya Fakultas Sastra dan Departemen Sastra Arab,” katanya, menutup kisah mereka dengan nada optimis dan penuh harapan.
Di ujung cerita, kemenangan Tim MFQ UM bukan sekadar kenangan sorik di lembar-lembar lomba. Ia menjadi simbol bagaimana kedalaman ilmu, kerja keras, dan kebersamaan dapat menuntun sekelompok mahasiswa meraih prestasi nasional, sambil tetap menjaga komitmen terhadap nilai-nilai keimanan dan tanggung jawab sosial pendidikan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




