ESPULSO: Wasit Yudai Yamamoto asal Jepang, saat memimpin laga Bhayangkara FV vs Arema FC. Empat kartu merah dikeluarkan untuk Arema, salah satunya kepada Matheus Blade, justru setelah pertandingan selesai. (Foto: Instagram Bhayangkara FC)
MALANG POST – Arema FC mencatatkan rekor baru, dalam perjalanan keikutsertaannya pada kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Yakni mendapatkan empat kartu merah langsung dalam satu pertandingan.
Catatan transfermarkt, sejak Arema turun di Liga Super Indonesia (LSI) musim 2012/2013, hingga pekan ke-25 Super League musim 2025/2026, baru Selasa (10/3/2026) kemarin malam, Arema mendapatkan kartu merah terbanyak dalam satu laga.
Itu terjadi saat Arema FC dijamu Bhayangkara Presisi Lampung FC, di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung. Tepatnya tiga kartu kuning dan empat kartu merah diterima pemain dan ofisial Arema.
Wasit Yudai Yamamoto, memberikan kartu merah langsung kepada Gildson Pablo de Oliveira Silva menit 45+8 dan Dalberto Luan Belo menit 70. Dua lainnya diterima Matheus da Conceicao Nascimento dan Rahmat Taufiq Hentihu (ofisial tim), setelah pertandingan.
Sesuai dengan Laws of the Game yang diadopsi oleh I.League, operator Super League, wewenang disiplin wasit dimulai sejak ia memasuki lapangan untuk pemanasan, hingga ia meninggalkan lapangan pertandingan setelah laga berakhir.
Jika terjadi pelanggaran berat (seperti protes berlebihan, penghinaan, atau tindakan kekerasan) saat pemain/ofisial sedang berjalan menuju ruang ganti, wasit berhak mengeluarkan kartu merah secara langsung.
Itulah yang terjadi pada Matheus Blade dan Rahmat Taufiq. Keduanya dianggap melakukan protes berlebihan, dengan menghampiri wasit saat masih berada di tengah lapangan, beberapa saat setelah Wasit Yudai meniup peluit akhir pertandingan.
Tanpa ragu, wasit asal Jepang itu langsung memberikan kartu merah langsung untuk Matheus Blade dan Rahmat Taufiq. Secara otomatis, keduanya akan dilarang bermain atau mendampingi tim, pada satu pertandingan berikutnya.
Konsekuensi empat kartu merah tersebut, membuat Pablo Oliveira, Dalberto Luan Belo dan Matheus Blade, harus absen saat Arema menjamu Malut United di pekan ke-26, pada Jumat (3/4/2026) mendatang. Sedang Rahmat Taufiq, juga sekali dilarang mendampingi tim.
Tetapi mengingat dua kartu merah, yang diterima Pablo Oliveira dan Dalberto bersifat langsung (straight red) dan melibatkan tindakan fisik (pelanggaran keras dan aksi saling pukul), Arema FC bisa saja terancam sanksi yang lebih berat dalam sidang Komdis mendatang.
Karena sesuai Kode Disiplin Pasal 49, tindakan kekerasan biasanya memicu tambahan larangan bermain minimal dua pertandingan. Jika terbukti, Pablo dan Dalberto bisa absen hingga pertengahan April.
Ketika itu, Pablo Oliveira menerima kartu merah langsung pada menit ke-45+8, setelah rekaman VAR memperlihatkan gelandang asal Brasil itu menginjak kaki Frengky Missa.
Sedangkan kartu merah untuk Dalberto, juga dikeluarkan Wasit Yudai, setelah melakukan review on field pada layar VAR. Dalam rekaman terlihat, di menit ke-70, Dalberto didakwa melakukan pemukulan dengan Slavko Damjanovic.
Pada awalnya, Dalberto dan Slavko, hanya diganjar kartu kuning, setelah Wasit Yudai berdiskusi dengan asisten wasit 1. Tetapi usai melihat VAR, keputusan berubah. Dalberto diganti kartu merah. Sedang Slavko tetap mendapat kartu kuning.
“Apa yang dilakukan wasit (Yudai Yamamoto) hari ini (Selasa, Red.) sudah melewati batas.”
“Saya pernah bekerja di Serie A Liga Brasil, di Copa Libertadores dan berbagai kompetisi lainnya. Tapi saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya,” kata Marcos Santos, Pelatih Arema, dalam sesi jumpa pers usai laga.
Pelatih asal Brasil itu tak terima, jika Arema harus menelan kekalahan karena keputusan ganjil dari wasit. Baginya, keputusan itu sama saja dengan tidak menghormati Arema secara institusi.
“Saya tidak sedang berbicara tentang sistem perwasitan secara keseluruhan. Selamat kepada pimpinan komite wasit. Saya bahkan tidak ingat namanya. Dia orang Jepang. Tetapi apa yang dilakukan wasit terhadap Arema hari ini (Selasa, Red.), tidak bisa diterima.”
“Sepak bola harus dijalankan dengan rasa hormat dan kemenangan harus ditentukan di lapangan.”
“Kami bisa saja kalah, tetapi bukan dengan cara seperti ini. Menurut saya, ini tidak menghormati institusi Arema dan para suporternya. Saya belum pernah melihat hal seperti ini dalam sepak bola,” ungkap pelatih 48 tahun ini dengan nada tinggi. (Ra Indrata)




