INDUSTRI perhotelan Indonesia sedang menghadapi perubahan yang tidak lagi bisa dibaca sebagai siklus biasa. Banyak pelaku usaha awalnya mengira perlambatan okupansi, turunnya permintaan MICE, dan tekanan harga hanyalah fase pemulihan pascapandemi. Waktu dianggap sebagai obat.
Kini semakin jelas, yang terjadi bukan sekadar pemulihan yang tertunda. Struktur pasarnya berubah.
Fenomena yang dalam literatur global disebut The Hollowed Out Middle—mengosongnya segmen menengah—sedang berlangsung di depan mata. Dan hotel bintang tiga serta empat berada tepat di tengah pusaran itu.
Data Bank Dunia menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia turun dari lebih dari 60 juta orang pada 2019 menjadi 47,9 juta pada 2024. Dalam lima tahun, lebih dari 12 juta orang keluar dari kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi nasional.
Bagi industri hotel, angka ini bukan sekadar statistik demografi. Ini adalah penyusutan pasar inti.
Hotel menengah selama puluhan tahun hidup dari pelaku perjalanan bisnis skala menengah, kegiatan pemerintah, keluarga urban, dan komunitas. Ketika daya beli kelompok ini melemah, lubang permintaan langsung terasa.
Pada saat yang sama, pemulihan ekonomi berbentuk huruf K semakin nyata. Segmen atas tetap tumbuh. Segmen bawah bertahan dengan strategi harga. Segmen tengah terhimpit dari dua arah.
Di tingkat global, 10 persen kelompok berpendapatan tertinggi di Amerika Serikat kini menyumbang hampir 50 persen belanja konsumsi, naik tajam dibandingkan awal 1990-an. Pola konsentrasi ini juga terlihat di Indonesia. Hotel mewah relatif tidak menghadapi resistensi harga. Sementara hotel menengah harus berjuang keras menjaga okupansi.
Perubahan perilaku generasi muda memperjelas tekanan ini. Bank Indonesia mencatat pengeluaran diskresioner Milenial dan Gen Z turun 14 persen pada 2024. Di sisi lain, transaksi paylater perbankan tumbuh lebih dari 46 persen pada 2025. Total pinjaman online mencapai Rp 92,92 triliun. Gagal bayar usia di bawah 19 tahun melonjak 763 persen.
Keinginan bepergian tetap ada. Namun fondasi finansialnya rapuh. Permintaan menjadi fluktuatif dan sensitif harga. Bagi hotel menengah, volatilitas ini berisiko tinggi.
Kontras wilayah semakin mempertegas bifurkasi pasar. Bali mencatat 2024 sebagai tahun terbaiknya. RevPAR naik 14 persen, ADR mencapai Rp 2,4 juta, okupansi 75 persen. Pertumbuhan didorong segmen atas yang relatif tidak sensitif terhadap kenaikan tarif.
Jakarta menghadapi tekanan berbeda. Kedatangan internasional hanya 1,98 persen dari total nasional. Ketergantungan pada pasar domestik dan kegiatan pemerintah sangat tinggi. Awal 2025, 96,7 persen hotel di Jakarta melaporkan penurunan okupansi. Proyeksi menunjukkan penurunan lanjutan hingga hampir 6 persen dibandingkan 2024.
Kebijakan efisiensi anggaran melalui Inpres Nomor 1 Tahun 2025 mempercepat tekanan tersebut. Pemangkasan anggaran Rp 306,6 triliun berdampak langsung pada perjalanan dinas dan rapat di hotel. Padahal bagi banyak hotel menengah, segmen pemerintah menyumbang 40–60 persen pendapatan.
Survei PHRI menunjukkan 83 persen hotelier memasuki 2025 dengan sentimen negatif. Lebih dari 30 persen mengalami penurunan pendapatan di atas 40 persen. Di beberapa daerah, okupansi turun drastis dan sektor MICE nyaris berhenti.
Pada saat yang sama, biaya operasional meningkat. Upah minimum nasional naik rata-rata 6,5 persen. PPN menjadi 12 persen. Biaya utilitas ikut terdorong. Margin tertekan dari dua sisi.
Dalam situasi seperti ini, respons instan yang sering muncul adalah perang harga. Namun strategi banting tarif hanya membawa industri ke persaingan yang saling melemahkan. Margin terkikis, kualitas terancam, dan nilai merek menurun.
Masalah yang dihadapi bukan sekadar persoalan okupansi, melainkan persoalan relevansi.
Hotel menengah tidak bisa lagi mengandalkan posisi “cukup nyaman dan cukup terjangkau”. Standar minimum tidak lagi menjadi pembeda. Pasar menuntut identitas yang jelas dan pengalaman yang bermakna.
Rebranding sejumlah properti menjadi hotel berkonsep lifestyle menunjukkan arah transformasi. Diferensiasi berbasis cerita lokal, pengalaman inderawi, dan kedekatan emosional memberi ruang untuk mempertahankan daya tawar harga.
Teknologi juga tidak lagi bersifat opsional. Sekitar 41 persen pelaku industri pariwisata telah mengalokasikan anggaran untuk implementasi AI pada 2025. Optimalisasi harga secara real time, analisis perilaku tamu, dan otomatisasi proses administratif menjadi instrumen menjaga efisiensi di tengah tekanan margin.
Diversifikasi pendapatan menjadi langkah lain yang mendesak. Pemanfaatan ruang untuk coworking, penguatan konsep F&B, hingga kolaborasi dengan komunitas non-pemerintah membantu mengurangi ketergantungan pada satu segmen pasar.
Tahun 2026 diperkirakan membawa stabilisasi investasi. Proyeksi global menunjukkan pertumbuhan volume investasi hotel 15–25 persen. Namun pasar tidak akan kembali seperti sebelum pandemi.
Struktur konsumsi berubah. Psikologi tamu berubah. Ketimpangan daya beli membentuk pasar yang terpolarisasi.
Dalam konteks ini, The Hollowed Out Middle bukan sekadar istilah akademik. Ia menjadi realitas yang menuntut keputusan strategis.
Hotel yang mampu menjadi sangat efisien atau sangat relevan akan bertahan. Mereka yang tetap berada di posisi “biasa saja” berisiko tergerus dari dua sisi.
Industri perhotelan Indonesia memasuki fase seleksi alam. Bukan yang terbesar yang pasti bertahan, melainkan yang paling cepat membaca perubahan dan berani beradaptasi. Pilihan untuk berubah ada pada setiap pelaku usaha. Waktunya tidak panjang. (***)




