Analis dan Dosen Komunikasi Dr. Verdy Firmantoro, S.I.Kom., M.I.Kom., (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Analis Komunikasi Universitas Brawijaya (UB), Dr. Verdy Firmantoro, S.I.Kom., M.I.Kom., menilai fenomena Knetz vs SEAbling bukan sekadar tawuran antar penggemar K-Pop. Baginya, ini adalah kontestasi identitas digital lintas negara atau disebut transnational digital identity conflict.
“Platform seperti X mempercepat polarisasi, karena algoritmanya dirancang mendorong keterlibatan yang memicu kemarahan. Jadi konflik ini bukan hanya soal budaya, tetapi soal platform yang memperkuat emosi kolektif,” ujar pria berkacamata itu.
Dr. Verdy juga menjelaskan bahwa ejekan Knetz ini berhasil mempersatukan netizen Asia Tenggara yang suka ribut sendiri. Kebiasaan netizen ASEAN yang terfragmentasi seperti rivalitas ini sirna ketika hadir ancaman eksternal.
Hal tersebut membuktikan bahwa dalam konteks digital, apa yang mendorong solidaritas bukan karena negara, tetapi karena pengalaman sama-sama dihujat.
“Perspektif komunikasi menyebut hal ini sebagai reactive solidarity, yaitu pembingkaian ulang mengenai identitas regional SEAbling,” tambah Dr. Verdy.
Sementara itu, melihat dari kacamata yang berbeda, pakar antropologi UB, Franciscus Apriwan, M.A., menilai kejadian Knetz vs SEAbling sebagai suatu hal yang pola dasarnya akan sama seperti isu lainnya. Isunya akan naik, kemudian turun dan terlupakan.
“Apa yang dilakukan pengguna ruang digital ini hanya atas dorongan dopamin. Saat muncul isu yang lebih seru, maka mereka akan berpindah tempat untuk menaruhkan komentar,” tutur Frans.

Franciscus Apriwan, M.A., Pakar Antropologi Universitas Brawijaya. (Foto: Istimewa)
Frans memang sepakat tentang munculnya solidaritas baru warga ASEAN. Namun, menurutnya, solidaritas ini terbentuk bukan karena kesamaan semata, melainkan karena adanya kelas menengah.
“Mereka adalah kelas menengah yang mencintai budaya K-Pop. Orang-orang yang punya kesempatan keliling ASEAN sehingga memiliki relasi kuat.”
“Ketika Knetz menarasikan Asia Tenggara sebagai wilayah tertinggal, orang-orang ini ingin menunjukkan kebanggaan menjadi SEAbling,” jelas Franciscus.
Bagi Frans, terkadang banyak orang ketika ada konflik seperti ini berharap akan menjadi besar dan perlu melakukan sesuatu, namun nyatanya hal itu akan redup tertutup isu lain.
Namun, bagi Dr. Verdy, meskipun tidak langsung berdampak pada relasi diplomatik formal, jika sentimen ini terus membesar dan opini publik meluas, maka dampaknya bisa mengganggu diplomasi publik orang ke orang (people-to-people relations).
Konflik Knetz vs SEAbling bermula dari sepetak cuitan netizen Malaysia di platform X. Netizen tersebut mengatakan ada warga Korea ke konser Day6 di Negeri Jiran yang nekat membawa kamera profesional. Padahal itu melanggar peraturan penyelenggara.
Postingan tersebut ramai diserbu netizen Korea (Knetz). Bukan untuk meminta maaf, tetapi untuk menyerang balik.
Knetz tidak hanya melempar umpan kepada Malaysia, tetapi juga menggeneralisasi Asia Tenggara untuk menghina, sehingga hal ini menjadi pemicu kemarahan SEAbling. SEAblings merupakan gabungan dari kata Southeast Asia (Asia Tenggara) dan siblings (saudara kandung). (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




