MALANG POST – Universitas Negeri Malang (UM) resmi menghadirkan Smart Shelter, sebuah fasilitas titik penjemputan untuk layanan transportasi online, bertempat di depan area parkir Stadion UM.
Inisiatif ini difungsikan sebagai pusat naik-turun penumpang bagi pengguna ojol/taxol (ojek online/taxi online) dan mitra pengemudi, dengan tujuan mengurai kemacetan serta kebingungan lokasi yang sering muncul saat proses penjemputan di lingkungan kampus.
Daya tarik utama dari Shelter ini adalah penempatan strategis yang memudahkan akses bagi mahasiswa maupun mitra pengemudi. Keberadaan shelter dengan penanda visibilitas yang jelas membuat proses penjemputan lebih tertata.
Mengurangi waktu tunggu, dan meminimalkan kebingungan akan titik berhenti yang tepat. Fasilitas ini tidak sekadar tempat menunggu, tetapi juga menjadi pusat mobilitas kampus yang lebih terstruktur.
Kenyamanan menjadi fokus lain dari Smart Shelter. Di dalamnya tersedia tempat duduk yang nyaman dan colokan listrik untuk pengisian daya perangkat, terutama penting selama jam sibuk perkuliahan. Mahasiswa UM, Teguh, menyatakan manfaat nyata dari fasilitas ini.
“Menunggu di sini menyenangkan. Pengemudi tidak perlu lagi kebingungan mencari tempat berhenti,” ujarnya.
Senada, Zahra yang kerap menggunakan layanan ini menilai shelter membantu penjemputan menjadi lebih terorganisasi.
“Saya sering menunggu di sini, karena tidak panas dan lokasinya mudah dikenali. Jadi tidak ada lagi kesalahan titik penjemputan,” katanya.
Secara geliat kebijakan, kehadiran Smart Shelter mendekatkan UM pada mobilitas kampus yang lebih tertib, aman dan efisien. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen universitas terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 11 yang menekankan kota dan permukiman berkelanjutan melalui pengelolaan transportasi yang lebih terintegrasi.
Dengan fasilitas ini, UM menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas layanan publik kampus sekaligus membangun ekosistem transportasi yang ramah, teratur dan berorientasi pada kebutuhan mahasiswa.
Smart Shelter menjadi contoh konkret bagaimana kampus dapat menjadi pelopor solusi mobilitas urban yang inklusif dan berkelanjutan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




