Siti Rohani, Ph.D. berfoto bersama mahasiswa program magister pada kegiatan International Week 2026 di Université Polytechnique Hauts-de-France, Prancis. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Sesuatu yang jarang terdengar di sela-sela kesibukan kampus adalah bagaimana sebuah pertemuan singkat bisa mempertemukan nilai-nilai budaya yang berbeda hingga membentuk cara pandang baru terhadap pekerjaan dan profesionalisme. Pada International Week 2026 yang diselenggarakan Université Polytechnique Hauts-de-France (UPHF) di Prancis, itu terwujud lewat kehadiran dua dosen dari Politeknik Negeri Malang (Polinema) yaitu, Siti Rohani, Ph.D., dan Hilda Cahyani, Ph.D., sebagai visiting lecturer.
Dari tanggal 9 hingga 13 Februari 2026, kedua dosen Indonesia ini berbagi pengetahuan dengan mahasiswa program magister yang berasal dari berbagai negara. Tujuan acara ini jelas, yaitu memperkuat kerja sama internasional dan mendorong pertukaran pengetahuan lintas budaya.
Namun di balik jadwal kuliah yang padat itu, tersirat satu pesan penting bagi para peserta. Bagaimana bahasa, gaya komunikasi dan nilai budaya saling memengaruhi. Bukan sebagai hal yang terpisah, melainkan sebagai elemen yang saling melengkapi dalam konteks global.
Dalam rangkaian mata kuliah yang diajarkan, Siti Rohani membawakan Cross-Cultural Pragmatics and Trust-Building in Global Marketing Communication. Materi kuliah ini menelusuri bagaimana perbedaan budaya dan cara berkomunikasi membentuk kepercayaan dalam pemasaran global.
Fokusnya tidak sekadar teori, melainkan praktik pragmatik lintas budaya. Membedah norma komunikasi Asia dan Barat lewat studi kasus branding serta negosiasi.

Hilda Cahyani, Ph.D. berfoto bersama mahasiswa program magister dalam kegiatan International Week 2026 di Université Polytechnique Hauts-de-France, Prancis. (Foto: Istimewa)
Para mahasiswa diajak berdialog, menganalisis iklan dan slogan. Hingga menyimulasikan skenario pemasaran yang menguji kemampuan mereka untuk merancang strategi komunikasi yang sensitif budaya dan berlandaskan kepercayaan.
Sementara itu, Hilda Cahyani, Ph.D mengampu mata kuliah Intercultural Business Communication & Trust-Building in Global Organizations. Di sini, perhatian tertuju pada bagaimana budaya mempengaruhi kepemimpinan, negosiasi, hingga kerja tim dalam organisasi internasional dan era digital yang serba terkoneksi.
Pembelajaran dilakukan lewat kuliah interaktif, diskusi kelas, studi kasus dunia nyata, serta mini proyek perancangan strategi komunikasi lintas budaya. Mahasiswa tidak sekadar menghafal teori, melainkan diajak merancang kerangka komunikasi yang inklusif, etis, dan empatik sebagai landasan kerja sama profesional di masa depan.
Kedua mata kuliah itu menekankan sensitivitas budaya sebagai fondasi utama dalam lingkungan kerja global. Selama pelaksanaan perkuliahan, partisipasi aktif mahasiswa terlihat jelas. Diskusi berjalan hidup, analisis skenario bisnis internasional mengalir dengan percaya diri dan semangat untuk memahami dinamika komunikasi lintas budaya pun tampak nyata.
Keberanian mereka untuk menantang asumsi pribadi dan menyesuaikan diri dengan norma budaya yang beragam menjadi cermin dari pelaksanaan International Week yang dinamis. Partisipasi dosen Indonesia ini tidak hanya menjadi bukti kemampuan akademisi dalam menjalin jejaring internasional, tetapi juga menandai sebuah langkah konkret Polinema dalam menjalin kerja sama yang resiprokal dengan UPHF.

Pembukaan kegiatan International Week edisi ke-6 yang diselenggarakan oleh IAE Valenciennes, Prancis. (Foto: Istimewa)
Keterlibatan mereka adalah bagian dari komitmen institusi untuk membangun kolaborasi global, memperkaya kualitas pendidikan melalui pertukaran pengetahuan, perspektif, dan pengalaman lintas budaya.
Edisi ke-6 International Week di IAE Valenciennes pun menjadi pangkal pelajaran penting bagi semua pihak yang terlibat. Di tengah rangkaian kuliah yang diadakan dalam Bahasa Inggris, mahasiswa program magister serta program Sarjana Global Business ditempa untuk berpandangan luas.
Dunia bisnis tidak lagi dibatasi oleh batas negara, tetapi oleh kemampuan kita memahami, menghargai, dan bekerja sama dengan budaya yang berbeda. Dari Belgia hingga Turki, dari Kamboja hingga Jerman, para peserta belajar tidak hanya soal teori manajerial, melainkan tentang bagaimana membentuk kepercayaan, membangun hubungan, dan merespons tantangan global dengan empati, kecerdasan budaya, dan komitmen profesional.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kualitas pendidikan tidak hanya dinilai dari kapasitas teknis semata, tetapi juga dari kemampuan melihat dunia melalui kacamata beragam budaya. Bagi para mahasiswa internasional yang menimba ilmu di UPHF, perjalanan singkat di tengah kelas-kelas intensif itu menjadi kilometiran cara pandang yang nantinya akan membentuk cara mereka berkomunikasi, bernegosiasi, dan bekerja sama di mana pun mereka berada. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




