MALANG POST – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) angkatan 2023 Ibnus Shabil, kembali menunjukkan produktivitasnya di bidang literasi dengan menerbitkan buku keempat yang berjudul Kismat. Sebuah karya sastra reflektif yang memadukan puisi, cerpen, serta narasi perenungan diri yang secara resmi dirilis pada 14 Februari 2026 melalui RO Publishing.
Buku Kismat lahir dari gagasan mengenai takdir yang tidak semata-mata dipahami sebagai nasib baik ataupun buruk. Melainkan sebagai rangkaian pengalaman, persinggahan hidup, serta dinamika batin yang membentuk identitas seseorang dalam proses pencarian makna kehidupan yang lebih mendalam.
“Untuk kata kismat ini sebenarnya kiasan, dari sebuah takdir, di mana saya menggambarkan bahwa takdir bukan hanya terkait takdir buruk atau takdir baik dalam perjalanan kita,” ujar Ibnus saat menjelaskan latar belakang pemilihan judul bukunya.
Ia menuturkan bahwa keseluruhan isi buku tersebut merupakan representasi dari pengalaman personal yang ia alami selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus individu yang tengah bertumbuh, sehingga setiap tulisan di dalamnya tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga menjadi ruang kontemplasi dan pengakuan diri.
“Segala hal yang saya alami selama saya membuat karya, itu saya kiaskan dalam kata kismat, entah itu puisi, cerpen, maupun refleksi tentang hidup,” jelasnya.
Dalam proses kreatifnya, Ibnus mengaku tidak menetapkan waktu pasti kapan ia mulai menulis naskah tersebut, namun ia memperkirakan proses penyusunan telah dimulai sejak pertengahan tahun 2025, tepatnya ketika ia memiliki lebih banyak waktu luang untuk melakukan refleksi dan pengembangan ide.
Ia juga menyampaikan bahwa waktu yang paling produktif baginya untuk menulis adalah pada malam hari, terutama setelah tengah malam, ketika suasana cenderung sunyi dan minim distraksi sehingga memungkinkannya untuk lebih fokus dan leluasa dalam mengembangkan gagasan.
“Biasanya saya menulis di jam 12 malam atau setengah satu, karena di waktu itu saya lebih enjoy dan lebih banyak menemukan ide,” ungkapnya.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris yang memiliki tanggung jawab akademik cukup padat, Ibnus menerapkan manajemen waktu yang terstruktur dengan membagi aktivitas hariannya ke dalam dua periode utama agar tetap dapat menjaga keseimbangan antara akademik dan produktivitas literasi.
“Saya membagi waktu menjadi dua bagian dalam satu hari, yaitu dari pagi sampai sekitar jam tujuh malam untuk fokus pada kuliah dan tugas, lalu setelah itu baru saya gunakan untuk menulis, mengikuti lomba, atau kegiatan pengembangan diri lainnya supaya tidak multitasking dan tetap fokus,” tuturnya.

Ia mengakui bahwa tantangan terbesar dalam proses penulisan bukan hanya soal konsistensi, tetapi juga bagaimana menjaga variasi topik agar tidak monoton, sehingga setiap bagian dalam buku tetap memiliki kedalaman makna sekaligus daya tarik tersendiri bagi pembaca.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya mengenali diri sendiri sebelum memutuskan untuk menulis, karena menurutnya banyak penulis pemula yang cenderung memaksakan diri untuk meniru gaya orang lain tanpa terlebih dahulu memahami identitas dan suara personalnya.
“Kenali diri sendiri, karena kalau kita sudah mengenal diri kita, kita akan lebih enjoy dan tahu apa yang ingin kita lahirkan dalam setiap kata,” ujarnya.
Melalui Kismat, Ibnus berharap buku tersebut dapat menjadi ruang bagi para pembaca, khususnya kalangan remaja hingga dewasa, yang mungkin merasa kehilangan arah, kurang dihargai, atau masih berjuang menemukan jati dirinya di tengah tuntutan kehidupan.
“Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya, jadi jangan merasa tertinggal hanya karena waktu kita berbeda dengan orang lain,” ucapnya.
Lebih jauh, ia juga menilai bahwa masa mahasiswa merupakan fase emas atau golden age yang seharusnya dimanfaatkan secara maksimal untuk membangun identitas, prestasi, dan karya yang dapat menjadi jejak intelektual sekaligus personal di masa depan.
“Di umur 18 sampai 22 itu golden age, jadi silakan dimanfaatkan untuk melahirkan karya, karena setelah lulus nanti fokus kita akan terbagi ke karier dan tanggung jawab lainnya,” katanya.
Bagi Ibnus, menerbitkan buku bukan sekadar upaya komersial ataupun pencapaian simbolik, melainkan bentuk ikhtiar untuk mengabadikan gagasan dan memperpanjang jejak eksistensi melalui tulisan yang dapat terus dibaca bahkan ketika dirinya tidak lagi hadir secara fisik.
“Sejujurnya saya tidak ingin menjual buku ini secara umum, karena tujuan utama saya adalah memanjangkan umur saya lewat karya, agar ketika saya sudah tidak ada, nama saya masih hidup dalam tulisan,” ujarnya. Sebelumnya, Ibnus telah menerbitkan tiga buku, yaitu, Penyamun Kata di Kastil Malam, Sweet Seventeen, dan Tentang Kita.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




