DUO BRASIL: Gustavo Franca dan Walisson Maia, dua pemain baru Arema yang tidak butuh waktu lama, untuk bisa beradaptasi dengan tim. Penampilan mereka mampu mengubah formasi Arema. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Duel sengit sekaligus pembuktian kekuatan Arema FC -setelah melakukan perombakan di putaran kedua- diprediksi bakal tersaji di pekan ke-23 Super League, musim 2025/2026.
Pada Kamis (26/2/2026) malam, di Stadion Segiri Samarinda, Arema FC akan dijamu Borneo FC. Tim papan atas klasemen sementara, yang saat ini berada di peringkat ketiga.
Di atas kertas, skuadra Pesut Etam, lebih kuat dibandingkan Singo Edan. Karena sudah menang 15 kali dari 21 laga. Sedangkan Arema, baru bisa menang delapan kali dalam 22 pertandingan.
Pelatih Arema FC, Marcos Santos, sepertinya paham dengan kondisi tersebut. Walhasil, ada 23 pemain diboyong ke Pulau Kalimantan. Mereka dinilai paling siap untuk menghadapi Borneo FC.
Termasuk didalamnya ada tiga mantan penghuni Stadion Segiri. Mulai dari Leo Guntara, Joel Vinicius dan kiper terbaru Arema, Gianluca Pandeynuwu.
Sayangnya dalam pertemuan ke-21 kedua tim sejak 2016 lalu, penjaga gawang yang sedang naik daun, Adi Satryo, harus ditinggal di Malang. Kiper yang mencatatkan empat clean sheet tersebut, cedera seusai Arema menahan imbang 2-2 Madura United.
Tetapi Arema juga memiliki tambahan kekuatan. Arkhan Fikri yang tidak main di Madura karena cedera, dibawa serta bersama Pablo Oliveira. Praktis legiun asing yang tidak ikut ke Kalimantan, tinggal Betinho Filho dan Valdeci Moreira.
Melihat formasi 23 pemain yang diboyong Marcos Santos, Arema sepertinya tidak banyak mengubah komposisi pemain yang akan menghuni starting eleven.
Formasi duet striker Dalberto Luan Belo dan Joel Vinicius, tetap menjadi andalan sebagai tukang gedor. Diback-up penuh Gabriel ‘Gabi’ Silva dan Gustavo Franca. Yang terus mendapatkan tempat di skuad utama.
Hanya saja, meski sudah menjadi andalan Arema, tetapi Gustavo França mengaku masih merasa belum puas dengan penampilannya di putaran kedua.
Sejauh ini, pemain asal Brasil itu telah tampil dalam lima pertandingan. Menit bermainnya juga sudah menembus 380 menit. Menandakan statusnya bukan sekadar penggembira belaka.
França juga sudah mengemas satu gol dan assist perdana, untuk Arema saat menghancurkan Semen Padang 3-0 pekan lalu. Pemain berusia 28 tahun itu, juga dipercaya sebagai eksekutor bola-bola mati Arema.
“Saya memang belum lama berada di sini. Tapi saya sudah mulai memahami ide permainan dari pelatih.”
“Dengan kedatangan pemain-pemain baru, kami bekerja sangat keras dan mulai mendapatkan hasil yang baik. Tapi saya masih ingin melihat Arema naik di posisi klasemen yang lebih baik,” kata França.
Gelandang asal brasil itu juga ingin selalu fokus di tiap laga bersama Arema, di sisa putaran kedua. Pemilik jersey bernomor punggung 77 itu, siap memberikan yang terbaik demi hasil yang maksimal.
“Tentu saja, kami belum bisa mencapai target yang ditentukan. Semua ini adalah proses, selangkah demi selangkah.”
“Sekarang saya akan fokus pada tiap pertandingan berikutnya. Saya akan berlatih keras, bekerja keras, dan mengikuti arahan pelatih agar kami bisa kembali meraih tiga poin,” tandasnya.
Sementara itu, defender Brasil, Walisson Maia, merasa beruntung dalam menjalani putaran kedua Super League 2025-2026. Pihaknya mengaku bisa beradaptasi dengan cepat dengan tim Arema berkat keberadaan 10 pemain Brasil yang ada di tim.
Maia datang ke Arema di bursa transfer pemain paruh musim bersama empat pemain Brasil lainnya. Yakni Gabriel Silva, Gustavo França, Joel Vinicius, dan Pablo Oliveira. Padahal di Arema sudah ada lima pemain dari Negeri Samba lainnya. Dari Lucas Frigeri, Matheus Blade, Valdeci Moreira, Betinho Filho, hingga Dalberto Luan Belo.
Belum lagi jajaran tim pelatih Arema yang juga dijejali pelatih berpaspor Brasil. Marcos Santos sebagai pelatih kepala yang dibantu asistennya Andre Caldas, pelatih fisik Carlos Airon, dan penerjemah Claudio de Jesus.
“Sebagian besar pemain di Arema adalah orang Brasil. Tentu saja, itu sangat memudahkan proses adaptasi, bukan hanya dengan klub, tetapi juga dengan kompetisi.”
“Bahasa sangat membantu. Ada pemain-pemain yang sudah mengenal klub dengan baik, bahkan memiliki julukan karena kontribusi mereka. Mereka adalah pemain berpengalaman yang memahami sepak bola,” kata Maia.
Maia mengaku senang disambut dengan baik di tim Arema. Bukan cuma oleh orang-orang Brasil di tim ini saja, bahkan para pemain lokal juga membuka lebar tangan mereka penuh kehangatan sebuah keluarga.
“Para pemain, staf pelatih, semuanya menyambut saya dengan sangat baik. Bahkan sebelum saya tiba, mereka sudah menghubungi saya dan menanyakan apakah saya membutuhkan sesuatu. Ini sangat membantu saya beradaptasi,” imbuh pemain berusia 34 tahun itu. (*/Ra Indrata)




