Sachio Theodore, S.Aktr., Wisudawan Terbaik FMIPA. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Universitas Brawijaya (UB) menggelar Wisuda Periode XIII Tahun Akademik 2025–2026 pada Sabtu (31/1/2026). Pada momen ini, UB secara istimewa mengukuhkan wisudawan terbaik dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari aktuaria hingga seni rupa.
Berikut dua cerita perjalanan akademik wisudawan terbaik UB yang mencuri perhatian.
SACHIO THEODORE, S.Aktr., WISUDAWAN TERBAIK FMIPA
Ketertarikan terhadap cara manusia memahami dan mengelola ketidakpastian membawa Sachio Theodore meraih predikat Wisudawan Terbaik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Mahasiswa asal Jakarta Selatan ini memilih Ilmu Aktuaria karena minatnya pada manajemen risiko, khususnya dalam industri asuransi. Ia memandang aktuaria sebagai disiplin yang secara ilmiah mengukur ketidakpastian demi pengambilan keputusan yang lebih hati-hati.
“Ketidakpastian dalam kehidupan tidak bisa dihindari, seperti risiko kematian, bencana alam, atau investasi, tetapi bisa diukur dan dikelola. Memahami risiko memungkinkan pengambilan keputusan yang efisien dan berkelanjutan,” ujar Sachio.
Ketertarikan tersebut juga terwujud dalam skripsinya yang mengangkat topik asuransi jiwa dan pemodelan aktuaria, dengan tujuan memperkuat ketahanan industri asuransi.
Selama masa kuliah, Sachio tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif berkontribusi di berbagai organisasi. Ia menjabat sebagai Koordinator Mentor SIGMA di Badan Eksekutif Mahasiswa FMIPA dan terlibat dalam Komunitas Anak Aktuaria Indonesia.
Prestasinya juga terlihat di bidang non-akademik: meraih Juara III infografis National Statistic Challenge serta mendapatkan pendanaan Program Mahasiswa Wirausaha untuk merintis rencana dan digitalisasi bisnisnya.
“Di UB saya bisa mengeksplorasi minat di bidang data dan teknologi. Lewat organisasi, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan soal posisi, melainkan kesiapan bertanggung jawab,” kata Sachio, yang juga memiliki hobi fotografi, memasak, dan olahraga.
Kini, ia memasuki dunia profesional di bidang analisis risiko dengan cita-cita menjadi profesional yang menjembatani analisis dan kebijakan, sehingga keputusan tidak hanya akurat secara data, tetapi juga bijak secara nilai.

KAYLA RACHMA NOVALIA, S.Sn., WISUDAWAN TERBAIK FIB
Sedangkan bagi Kayla Rachma Novalia, S.Sn., keterbatasan ruang pameran formal bagi pelaku seni di Malang justru menjadi pemantik kreativitas.
Dalam gelombang minat tersebut, Kayla meneliti fenomena penambahan fungsi kafe sebagai ruang pameran seni (art space) dalam skripsinya, dan berhasil meraih IPK 3,96 sebagai Wisudawan Terbaik Program Studi Seni Rupa Murni, Fakultas Ilmu Budaya (FIB).
Penelitian Kayla berawal dari keresahan seniman lokal terhadap akses galeri konvensional yang sering punya regulasi ketat.
Melalui observasi mendalam dan diskusi panjang, ia melihat bahwa kafe tidak lagi sekadar tempat bersantap, tetapi juga ruang publik yang menawarkan pengalaman artistik.
“Fokus kajian saya adalah pada proses komodifikasi ruang publik, di mana kafe tidak hanya berfungsi sebagai ruang konsumsi, tetapi juga menambah fungsi sebagai art space dan bagaimana fasilitas serta pengalaman yang ditawarkan bisa disejajarkan dengan galeri seni,” katanya.
Proses riset Kayla berlangsung sekitar dua tahun, mulai akhir 2023 melalui mata kuliah Metode Penelitian Seni.
Menggunakan teori Fenomenologi dari Alfred Schutz, ia menemukan bahwa pemanfaatan kafe sebagai ruang pamer dipengaruhi oleh latar belakang pemilik usaha, visi budaya, serta strategi bisnis agar ruang tersebut tetap menjadi medium ekspresi yang bermakna tanpa kehilangan esensi seni.
“Keberlanjutan ruang pamer alternatif di kafe sangat bergantung pada sinergi antara pemilik usaha, seniman, komunitas, dan audiens,” tambah Kayla.
Selain prestasi akademik, Kayla juga aktif terlibat dalam proyek-proyek seperti Fine Art Festival dan berbagai pameran lintas ruang.
Kini, setelah meraih gelar sarjana, Kayla menyalurkan ilmunya sebagai guru seni (art teacher) di sebuah lembaga kursus kreatif, mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya tidak hanya secara teknis, tetapi juga teoretis dan kontekstual.
Kedua kisah ini menandai babak penting dalam Wisuda Periode XIII UB, sebuah momentum untuk menghargai upaya, dedikasi, serta kontribusi nyata para lulusan yang siap berkontribusi pada berbagai sektor di masa depan. (Humas UB-M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




