Anak-anak menanti air mancur di Alun-alun Merdeka yang mati segera hidup. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
MALANG POST – Revitalisasi Alun-alun Merdeka Kota Malang telah rampung. Biayanya dari CSR Bank Jatim sebesar Rp 5 miliar. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, juga telah meresmikan revitalisasi alun-alun ini, Rabu (28/1/2026) malam.
Sehari setelah peresmian, alun-alun inipun dibanjiri pengunjung. Tak hanya dari Kota Malang. Tetapi juga dari luar daerah. Terutama dari wilayah Kabupaten Malang.
Mereka melihat tampilan baru Alun-alun Kota Malang dengan mengajak anak-anaknya. Untuk main di playground atau bermain air mancur.
Dari pantauan Malang Post, dua wahana itu jadi favorit tempat bermain anak-anak. Mereka berbuka ria bermain air di wahana air mancur. “Lebih bagus,” komentar singkat Dani dari Lesanpuro.
Hasnia yang sore itu mengajak tiga anaknya mengaku penasaran dan ingin melihat tampilan baru alun-alun. “Sebenarnya saat peresmian ingin lihat, tetapi belum bisa dan baru sore ini datang,” katanya.
Hasnia pun menyanjung wahana air mancur di alun-alun. Kalau dulu air mancurnya hanya untuk dilihat karena ada kolamnya, sekarang anak-anak tak hanya sekadar melihat tetapi juga bisa bermain air.
“Asyik sekarang. Hanya saja ini tadi anak-anak baru bermain, air mancurnya mati,” ujar Hasnia asal Kotalama.
Ditanya mengapa mati, Hasnia mengaku tidak mengetahui. Namun Malang Post melihat sejumlah petugas sedang memperbaiki instalasi air mancur yang tidak jauh dari lokasi. Setelah diperbaiki sekitar 15 menit, air mancur kembali menyala dan disambut suka cita anak-anak untuk main air.
Ahmad Nawawi asal Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, mengaku juga merasa penasaran untuk melihat tampilan baru dari Alun-alun Kota Malang. Karena itu, seusai dari belanja di mall langsung refhresing di alun-alun. “Ya, ada peningkatan. Lebih asri dan nyaman,” ujar Nawawi.

Wahana playground Alun-alun Merdeka jadi tempat favorit anak-anak untuk bermain. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
Ditanya saran dan masukan, menurut Nawawi perlu ada kopi gratis dan Jumat Barokah untuk pengunjung. Meski hanya seminggu sekali. Selain itu, perlu tambahan wahana anak-anak. Mungkin di sisi timur. Sehingga saat yang barat penuh, anak-anak bisa main di timur.
Dia juga berharap Alun-alun Kota Malang bebas dari pedagang kaki lima. Usulan serupa disampaikan Agus dari Parangargo, Wagir, Kabupaten Malang. “Sebaiknya steril dari PKL. Agar suasananya tetap nyaman bagi pengunjung,” katanya.
Terkait revitalisasi, menurutnya selain air mancur, sedikit ada perbedaan tampilannya dibanding dulu. Yaitu, ada tambahan kecil sarana permainan di playground. Ditanya soal tambahan lampion khas Kota Malang, dia setuju agar penampilannya lebih mbois.
Sementara Walikota Malang, Wahyu Hidayat, saat peresmian mengatakan bahwa revitalisasi alun-alun ini didukung penuh Corporate Social Responbility (CSR) Bank Jatim. Ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki bagi masyarakat.
“Kami ingin masyarakat ikut menjaga dan memelihara. Membangun itu mudah, yang sulit adalah merawatnya. Dengan rasa memiliki, keasrian alun-alun ini akan terus terjaga,” kata Wahyu.
Wajah baru Alun-Alun Merdeka kini hadir dengan berbagai fasilitas yang lebih segar dan inklusif. Selain daya tarik utama berupa atraksi air mancur yang menawan, perbaikan signifikan juga dilakukan pada area toilet, penyediaan ruang bagi ibu menyusui, serta penambahan arena bermain anak. Rencana ke depannya adalah penyediaan area membaca yang didukung oleh kehadiran mobil perpustakaan keliling secara rutin.
Sebagai paru-paru kota, Alun-Alun Merdeka tetap difungsikan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan sistem resapan air yang optimal. Selain itu, desain baru ini juga dirancang untuk mendukung kegiatan keagamaan di Masjid Agung Jami’ Malang.
“Jika ada kegiatan besar di Masjid Agung, seperti Salat Id atau acara keagamaan lainnya, Alun-alun Merdeka ini bisa terintegrasi dan dimanfaatkan oleh jemaah untuk beribadah dengan nyaman,” jelasnya.
Terkait PKL dan parkir, Wahyu menegaskan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan kajian mendalam terkait relokasi PKL ke tempat yang representatif, namun tetap dalam radius yang dekat dengan alun-alun.(Eka Nurcahyo)




