MALANG POST – Kota Wisata Batu menghadapi paradoks pariwisata sepanjang 2025. Di satu sisi, kota berjuluk Kota Apel itu masih tampak ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat musim liburan. Namun di sisi lain, data menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah kunjungan.
Sepanjang 2025, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Batu tercatat sekitar 9,7 juta orang. Angka itu turun sekitar 1,3 juta dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 11 juta kunjungan. Penurunan ini berdampak pada sektor pariwisata, terutama perhotelan, yang merasakan penurunan okupansi dan lama tinggal wisatawan.
Pakar Pariwisata, A. Faidlal Rahman menilai, isu kepercayaan turut memengaruhi keputusan wisatawan. Ulasan negatif di media sosial, seperti praktik getok tarif parkir hingga kasus villa bodong, cepat membentuk persepsi risiko dan membuat kapok wisatawan
“Dalam era digital, satu pengalaman buruk bisa menyebar luas dan langsung memengaruhi keputusan berkunjung,” jelas Faid, Jumat (23/1/2026)
Dampaknya bukan hanya pada penurunan jumlah wisatawan, tetapi juga menurunnya minat menginap dan lama tinggal. Wisatawan menjadi lebih berhati-hati dan memilih kunjungan singkat, atau bahkan mengalihkan tujuan ke destinasi lain.
Ia juga menyampaikan, penurunan tersebut tidak bisa dilihat secara sempit sebagai kegagalan daerah menarik wisatawan. Menurutnya, fenomena itu merupakan bagian dari dinamika pariwisata global pascapandemi.
“Wisatawan sekarang jauh lebih rasional. Mereka sensitif terhadap biaya, cenderung mempersingkat durasi perjalanan dan memilih perjalanan singkat atau day trip,” ujar Faid.
Ketidakpastian ekonomi global, lanjut dia, mendorong perubahan pola berwisata. Liburan tidak hilang, tetapi ditekan biayanya. Cara paling mudah adalah dengan tidak menginap, memperpendek waktu kunjungan, atau sekadar singgah.
Akibatnya, banyak destinasi termasuk Kota Batu terlihat tetap ramai. Namun, nilai ekonomi yang dihasilkan justru menurun, terutama bagi sektor perhotelan dan usaha pendukung lainnya.
“Ini menjelaskan kenapa kota masih padat wisatawan, tapi hotel justru mengeluhkan okupansi,” jelasnya.
Fenomena tersebut tercermin jelas di Kota Batu yang karakter pariwisatanya didominasi wisata keluarga dan wisata buatan. Menurut Faid, segmen ini sangat sensitif terhadap tekanan biaya dan perubahan preferensi pasar.

Pakar Pariwisata, A. Faidlal Rahman. (Foto: Istimewa)
Selain faktor ekonomi, kepadatan dan kemacetan saat musim liburan juga memunculkan kejenuhan destinasi. Wisatawan akhirnya membatasi waktu kunjungan agar tidak terjebak macet terlalu lama.
“Persoalannya bukan sekadar jumlah wisatawan yang turun, tetapi kualitas kunjungan dan kontribusi ekonominya,” tegas Faid.
Ia menilai penurunan kunjungan pada 2025 seharusnya dibaca sebagai sinyal perlunya transformasi strategi pariwisata. Kota Batu, kata dia, perlu mulai bergeser dari orientasi kuantitas menuju kualitas.
“Fokusnya bukan hanya menarik orang datang, tapi menciptakan alasan kuat agar mereka mau tinggal lebih lama,” katanya.
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah maraknya gaya liburan tek-tok. Wisatawan datang pagi, menikmati satu atau dua atraksi, lalu pulang atau melanjutkan perjalanan ke kota lain.
“Pola ini membuat manfaat ekonomi tidak menyebar optimal, terutama ke hotel dan sektor pendukung,” ujarnya.
Kondisi tersebut diperparah oleh sejumlah faktor lain, seperti kemacetan, kepadatan saat libur panjang, kejenuhan terhadap destinasi yang padat, hingga belum kuatnya daya tarik tematik yang mendorong wisatawan untuk menginap.
“Artinya, bukan hanya daya beli yang melemah, tetapi juga belum cukup kuatnya alasan untuk tinggal,” tambahnya.
Terkait persepsi mahal, Faid menilai biaya wisata di Kota Batu sebenarnya relatif. Kota ini memiliki rentang harga yang luas, mulai dari wisata alam gratis hingga wahana berbayar dengan tiket tinggi.
“Persepsi mahal muncul karena wisata yang paling terekspos adalah wisata buatan dan wisata keluarga yang biayanya terakumulasi tiket, parkir, konsumsi dan penginapan,” paparnya.
Ketika persoalan biaya tersebut dikombinasikan dengan isu parkir dan akomodasi bermasalah, wisatawan merasa pengeluaran tidak sebanding dengan pengalaman yang didapat. “Jadi bukan semata harganya yang mahal, tapi soal value for money,” tegasnya.
Menurut Faid, Kota Batu masih relatif terjangkau. Namun, diperlukan penataan harga, transparansi biaya, serta diferensiasi produk wisata agar persepsi ‘wisata mahal’ tidak terus menguat.
“Penurunan ini seharusnya menjadi momentum perubahan. Tantangannya bukan lagi menarik orang datang, tapi membuat wisatawan betah tinggal,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




