MALANG POST – Dua rider muda asal Kota Batu benar-benar tampil menggila di lintasan ekstrem Sirkuit Klemuk, Kelurahan Songgokerto, Minggu (26/10/2025). Fajar Abdul Rahman dan Pandu Satrio Perkasa sama-sama membuktikan ketangguhannya pada sesi final run seri 3 Kejuaraan Sepeda Gunung 76 Indonesian Downhill (IDH) 2025.
Setelah mendominasi sesi seeding run sehari sebelumnya, keduanya kembali mencatat waktu tercepat di kelas masing-masing. Fajar dari Spartan Racing Team menjadi yang terbaik di kelas Men Junior dengan catatan waktu 2 menit 12 detik, disusul Luke Wong (2 menit 13 detik) dan Mileochim Vincoy (2 menit 14 detik).
Sementara di kelas Men Elite, Pandu tampil luar biasa. Rider Sego Anget Racing Team itu kembali tak tertandingi setelah menorehkan waktu tercepat 2 menit 5 detik, unggul dari Rendy Varera Sanjaya (2 menit 8 detik) dan Dois Audy Fikriansyah (2 menit 9 detik).
Di kategori Women Elite, persaingan tak kalah ketat. Ayu Triya keluar sebagai yang tercepat dengan waktu 2 menit 15 detik. Di belakangnya ada Rizka Amelia Agustina (2 menit 19 detik) dan rider asal Thailand Vipavee Deek Aballes (2 menit 21 detik).
Hasil tersebut menempatkan Pandu Satrio Perkasa sebagai Juara Umum Men Elite 2025 dengan total 473 poin. Dia menyalip perolehan Pahraz Salman Alparisi (Ganas Madu Team) di peringkat kedua yang koleksi 400 poinnya tak bertambah lantaran absen di final run. Sedangkan peringkat ketiga diraih Dois Audy Fikriansyah (Spartan Racing Team) dengan 354 poin.
Sementara Rizka Amelia Agustina berhasil menjadi Juara Umum Women Elite dengan total 535 poin, membuatnya tak lagi bisa dikejar pesaingnya di klasemen Women Elite. Rider dari Marin Astri Indo Racing ini menegaskan dominasinya atas Ayu Triya Andriana (Polair DH Team Wiucycling) di peringkat kedua dengan 455 poin. Di posisi ketiga Nilna Murni Ningtias (Spartan Racing Team) mengantongi total 335 poin.
Pandu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya usai memastikan gelar juara umum. “Menjadi juara umum tentu sangat senang sekali. Ini keberuntungan buat saya, karena saya tidak menyangka bisa juara di tahun pertama saya masuk kelas Men Elite,” ujarnya.
Di tahun sebelumnya, rider 19 tahun itu turun di kelas Men Junior. Ia mengaku, untuk mencapai level sekarang ini butuh proses panjang. “Nggak bisa instan. Harus benar-benar dilatih dari mental dan fisik agar siap secara keseluruhan,” tambahnya.
Perjuangan Pandu tak mulus. Saat final run berlangsung, lintasan Klemuk sempat diguyur hujan. Kondisi itu membuat sebagian rider kesulitan menjaga keseimbangan. Namun, Pandu justru tampil tenang. “Tadi sempat grogi karena hujan, tapi saya berusaha fokus dan enjoy. Untungnya sudah pakai setelan ban basah, jadi tetap bisa ngontrol,” ungkapnya.

NAIK PODIUM: Para jawara di kelas Men Elite saat menaiki podium untuk mendapatkan piagam penghargaan dan medali. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sebagai putra asli Kota Batu, Pandu mengaku cukup mengenal karakter lintasan Klemuk. Meski begitu, adanya beberapa section baru tetap menantang. “Ada beberapa bagian baru yang cukup tricky, tapi seru. Saya senang bisa tampil maksimal di rumah sendiri,” ujarnya.
Pandu menargetkan bisa terus menjaga konsistensi di musim depan. “Minimal bisa bertahan di tiga besar juara umum. Selain itu saya juga ingin bisa masuk pelatnas dalam 1–2 tahun ke depan,” katanya.
Ia juga menganggap gelar juara ini sebagai pembuktian. “Banyak yang bilang, masuk kelas elite itu perlu adaptasi 1–3 tahun. Tapi saya ingin membuktikan, kalau kita disiplin latihan dan kuat secara mental, bisa langsung bersaing,” tutur Pandu.
Sementara itu, Rizka Amelia harus puas di posisi kedua pada race terakhir, meski begitu ia tetap keluar sebagai juara umum Women Elite. Ia mengaku sesi final berlangsung cukup menegangkan karena hujan turun saat dirinya bersiap start.
“Dari start sampai tengah-tengah track, saya banyak kontrol karena tanahnya mulai mengkilat dan licin. Setelah melewati section negatif baru saya mulai ngegas karena bagian itu sudah agak kering,” tidak terlalu basah.
Menurutnya, di kondisi basah, strategi lebih penting daripada ego. “Kalau digas terus, risikonya jatuh. Jadi saya main aman. Ternyata masih bisa finish kedua dan tetap jadi juara umum. Berarti belum beruntung aja karena kena hujan,” ujarnya.
Meski begitu, Rizka tetap puas dengan performanya. “Saya senang bisa konsisten dari seri pertama sampai terakhir. Seri satu dan dua juara satu, seri terakhir kedua. Ini overall pertama saya, jadi benar-benar berkesan,” katanya.
Event Director 76 Indonesian Downhill, Aditya Nugraha mengaku puas dengan hasil keseluruhan musim 2025. Menurutnya, semangat kompetisi para rider meningkat signifikan di setiap seri.
“Mulai dari seri pertama hingga ketiga, semua kelas saling kejar poin untuk jadi overall champion. Jadi bukan hanya kelas prestasi, tapi juga kelas hobi pun ikut kompetitif,” ujarnya.
Aditya menilai, musim ini banyak kejutan. “Di kelas Men Elite, misalnya, Pandu sebagai pendatang baru bisa juara umum. Itu di luar ekspektasi kami. Dari awal dia stabil, progresnya signifikan meski tidak terlalu mencolok. Hasilnya luar biasa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti performa Ayu Triya di kelas Women Elite dan para rider muda di kelas Men Junior yang semakin menunjukkan potensi besar. Melihat antusiasme peserta dan penonton, Aditya memastikan IDH tahun depan bakal dikemas lebih matang.
“Kami ingin informasi seri berikutnya bisa lebih terstruktur, terutama bagi peserta asing. Jadi sejak awal mereka tahu fasilitas, sistem poin, hingga jadwal. Harapannya makin banyak rider internasional yang ikut sejak seri pertama,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




