MALANG POST – Dinas Pendidikan Kabupaten Malang bersama Komisi IV DPRD dan akademisi menggembleng intervensi kebijakan serta program Siber ATS guna mengembalikan 16.536 Anak Tidak Sekolah (ATS) ke bangku pendidikan formal dan nonformal, Kamis (5/11/2026).
Persoalan anak putus sekolah di wilayah Kabupaten Malang disikapi secara transparan dan terukur oleh pemerintah daerah.
Dalam perbincangan Idjen Talk di Radio City Guide FM pada Kamis (5/11/2026), Plt Kabid PAUD dan Pendidikan Masyarakat Disdik Kabupaten Malang, Dewi Ruhillah, membeberkan peta data faktual rentang usia 6 hingga 18 tahun.
Berdasarkan data Pusdatin Kemendikdasmen per 2 November 2026, angka ATS di Kabupaten Malang menembus 16.536 anak.
Rinciannya mencakup 3.900 anak drop out (DO), 6.400 anak tidak melanjutkan sekolah, serta 6.100 anak yang belum pernah mengecap pendidikan.
Kecamatan Dampit mencatatkan angka tertinggi dengan jumlah 973 anak.
Faktor penyebabnya didominasi oleh rendahnya kesadaran pentingnya pendidikan, diikuti masalah ekonomi, pernikahan anak, geografi, hingga korban perundungan.
Guna menekan angka tersebut, Disdik menerjunkan tim Siber ATS tingkat kecamatan sejak 2025.
Hasilnya, sebanyak 454 anak berhasil dikembalikan ke sekolah formal lewat bantuan beasiswa maupun jalur nonformal PKBM Paket A, B, dan C.
“Sebanyak 454 ATS berhasil kita kembalikan ke sekolah. Jalur formal kita dukung beasiswa, nonformal melalui PKBM,” ujar Dewi.
Desak Intervensi Kebijakan dan Target 2027
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Zia ‘ulhaq, mendesak agar Pemkab Malang tidak menutupi tingginya data ATS di lapangan.
Keterbukaan data menjadi alarm pengingat bagi pemerintah daerah untuk melancarkan intervensi anggaran yang lebih agresif.
Zia meminta Pemkab menetapkan target penurunan angka ATS secara presisi dan terukur pada alokasi APBD 2027 mendatang.
“Data ATS tidak perlu ditutupi. Ini pengingat agar Pemkab lebih peduli. Tahun 2027 harus ada target jelas berapa angka yang diturunkan,” tegas Zia.
Inovasi Sekolah dan Peran Perguruan Tinggi
Sementara itu, Dekan FIP Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Cicilia Ika Rahayu Nita, menyuarakan pentingnya inovasi lingkungan sekolah.
Sekolah dituntut menciptakan atmosfer belajar yang menarik agar anak-anak betah menimba ilmu.
Cicilia juga menyoroti keterbatasan SDM guru serta rangkap jabatan kepala sekolah yang menghambat lahirnya inovasi.
Perguruan tinggi siap diterjunkan untuk mencetak tenaga pendidik kompeten berbasis riset guna mendongkrak kualitas pembelajaran di desa.
Sinergi pemerintah, sekolah, dan perguruan tinggi menjadi kunci penuntasan persoalan ATS di Kabupaten Malang. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




