MALANG POST – Prestasi tak selalu lahir dari fasilitas yang lengkap. Dua pecatur cilik asal Kabupaten Malang, Muhammad Akbar Maulana dan Claretta Meisie Santiano, membuktikannya dengan menembus jajaran 10 besar dan 15 besar nasional dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-51 Tahun 2026 di Serang, Banten.
Akbar, pecatur kelompok umur (KU) 09 putra asal Turen, mengumpulkan enam poin.
Sementara Claretta, atlet KU 09 putri asal Kepanjen, meraih lima poin.
Keduanya bersaing menghadapi atlet-atlet muda dari berbagai provinsi, dalam turnamen yang berlangsung pada 23–29 Oktober 2026 di Hall UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Kota Serang.
Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga sekaligus membawa nama Kabupaten Malang, ke arena persaingan catur nasional.
Namun, di balik hasil yang membanggakan itu, orang tua kedua atlet menyoroti minimnya dukungan pembinaan yang mereka rasakan, dari organisasi catur dan pemerintah daerah.
Perjalanan kedua atlet tidak mudah. Akbar harus menghadapi persaingan ketat, termasuk saat berhadapan dengan Ryo Jaden Hu dari Jawa Barat.

TERBAIK: Dua atlet catur cilik asal Kabupaten Malang, yang berhasil menembus 10 dan 15 besar nasional pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-51 & Rakernas Percasi ke-46 Tahun 2026 di Serang, Banten, Rabu (28/10/2026). (Foto: Istimewa)
Claretta juga berhadapan dengan atlet-atlet unggulan dari Jawa Tengah, salah satunya WPM Vanessa Koolin Santoso.
Meski sempat mengalami kekalahan pada babak-babak awal, keduanya tetap melanjutkan pertandingan dan berusaha mengumpulkan poin hingga sembilan babak.
Akbar akhirnya mengoleksi enam poin dan masuk 10 besar, sedangkan Claretta mengamankan lima poin untuk menembus 15 besar.
Orang tua Akbar mengaku bersyukur atas pencapaian anaknya.
Menurutnya, hasil tersebut menjadi pengalaman penting bagi Akbar, untuk mengukur kemampuan sekaligus mengevaluasi kekurangan saat menghadapi lawan-lawan dari berbagai daerah.
“Meskipun Akbar berada di posisi 10 besar, saya selaku orang tua sangat mengapresiasi kerja kerasnya melawan atlet-atlet terbaik dari berbagai provinsi.”
“Semua ini berangkat dari keterbatasan dan tanpa perhatian dari Percasi Kabupaten Malang maupun pemerintah daerah,” ungkapnya.
Ia mengatakan, keberangkatan Akbar dilakukan dengan biaya mandiri.
Meski demikian, keluarga tetap bersyukur karena sang anak, mendapat kesempatan bertanding di tingkat nasional dan membawa pulang pengalaman berharga untuk pengembangan kemampuannya.
Keluhan serupa disampaikan Wendy, orang tua Claretta.
Ia menilai persaingan di tingkat nasional menuntut persiapan yang serius, termasuk dukungan fasilitas dan pembinaan yang memadai.
Menurut Wendy, keberangkatan atlet dari daerah lain, memperlihatkan pentingnya dukungan terhadap proses persiapan.
Ia menyayangkan jika atlet Kabupaten Malang harus berjuang dengan keterbatasan dukungan ketika mengikuti kompetisi sebesar Kejurnas.
“Mereka yang datang ke Banten bukan pemain sembarangan. Tentunya semua sudah mempersiapkan diri dan fasilitas yang memadai.”
“Beda dengan Kabupaten Malang, atletnya berangkat tanpa ada pelepasan dari pengurus Percasi maupun pemerintahannya,” ujar Wendy.
Ia menegaskan, kritik tersebut bukan dimaksudkan untuk menyalahkan organisasi semata.
Namun, menurutnya, perhatian terhadap atlet seharusnya diberikan sejak tahap pembinaan, bukan hanya ketika mereka berhasil meraih medali atau menorehkan prestasi.
“Kita tidak menyalahkan organisasinya, namun ini bukan rahasia umum kalau Kabupaten Malang tidak pernah mendukung atlet caturnya.”
“Kalau KONI dan Percasi Kabupaten Malang baru mau melihat atlet setelah ada medali, lalu apa sebenarnya fungsi pembinaan?” tegasnya.
Wendy mengingatkan, pembinaan atlet usia dini membutuhkan proses panjang.
Selain kemampuan teknis dan pendampingan pelatih, atlet juga membutuhkan kesempatan mengikuti turnamen, dukungan biaya, fasilitas latihan, serta lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang secara konsisten.
Menurutnya, keberhasilan atlet muda tidak bisa dilepaskan dari dukungan sejak awal.
Jika beban persiapan dan biaya sepenuhnya ditanggung keluarga, kesempatan atlet untuk mengikuti kompetisi dan meningkatkan kemampuan berisiko menjadi terbatas.
“Jangan sampai ketika anak-anak sudah berprestasi, semua ingin disebut bagian dari keberhasilan.”
“Tetapi ketika mereka masih berjuang dari bawah, orang tua harus pontang-panting mencari biaya dan komunitas harus bergerak sendiri. Itu bukan pembinaan prestasi, itu namanya menunggu panen tanpa pernah ikut menanam,” kritiknya.
Ia berharap KONI dan Percasi Kabupaten Malang lebih aktif mendampingi atlet sejak usia dini, termasuk ketika mereka masih belajar, belum meraih medali, dan membutuhkan dukungan untuk berkembang.
“KONI dan Percasi, hadirlah ketika atlet masih kecil, masih belajar, masih kalah, dan masih membutuhkan dukungan. Sebab kalau bibit dibiarkan tumbuh sendiri, jangan salahkan siapa pun ketika Kabupaten Malang kehilangan generasi juaranya,” pungkas Wendy.
Prestasi Akbar dan Claretta menjadi bukti potensi atlet catur muda Kabupaten Malang.
Tantangan berikutnya adalah memastikan capaian tersebut mendapat tindak lanjut melalui pembinaan yang berkelanjutan, sehingga peluang berprestasi di tingkat nasional tidak hanya bergantung pada perjuangan keluarga. (Diky Prasetyo/Ra Indrata)




