MALANG POST – Jurusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Poltekkes Kemenkes Malang menggelar program digitalisasi data stunting berbasis aplikasi e-PPGBM bersama Puskesmas Sumbermanjing Wetan di Kabupaten Malang, Selasa (27/10/2026), guna memutakhirkan akurasi pencatatan antropometri balita dan memperkuat koordinasi pendampingan kader.
Jurusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) Poltekkes Kemenkes Malang, berkolaborasi dengan Puskesmas Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, menghelat kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema: “Penguatan Implementasi Digitalisasi Layanan Kesehatan Primer: Upaya Peningkatan Akurasi Data e-PPGBM untuk Stunting di Wilayah Kabupaten Malang”.
Pembukaan kegiatan turut dihadiri Kepala Desa Druju, yang menyambut positif sinergi lintas sektor demi peningkatan derajat kesehatan warga.
Rangkaian program diawali dengan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD), serta penyerapan data awal pada 20 Agustus 2026.
Agenda dilanjutkan dengan sosialisasi pemanfaatan aplikasi guna memutakhirkan akurasi data SIGIZI Terpadu pada 9 September 2026, serta ditutup dengan peninjauan pemantauan (monitoring) pada Selasa (27/10/2026).
Sekretaris Jurusan RMIK Poltekkes Kemenkes Malang, Achmad Zani P., S.SiT., MMRS, menjelaskan bahwa FGD, diselenggarakan sebagai pijakan awal untuk memetakan dinamika kendala sekaligus memformulasi solusi integratif.
“FGD ini bertujuan mengidentifikasi hambatan teknis di lapangan, memetakan praktik baik yang telah berjalan, serta merumuskan pemantauan berkala guna menjamin validitas data stunting,” jelas Achmad Zani, Selasa (27/10/2026).
Mengidentifikasi Kendala Lapangan dan Sinergi Kader

FGD yang melibatkan Kepala Puskesmas, tenaga kesehatan, kader Posyandu, serta kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) mengurai sejumlah tantangan mendasar. Di antaranya, masih ada sebagian orang tua yang belum konsisten memeriksakan tumbuh kembang anak ke Posyandu seusai tuntas masa imunisasi dasar.
Di samping itu, tingkat keakuratan antropometri anak saat rewel membutuhkan pengukuran ulang (re-checking) secara cermat.
Kepala Puskesmas Sumbermanjing Wetan, dr. Dian Rahma, mengapresiasi ruang temu interaktif ini. Menurutnya, keselarasan tugas antara kader Posyandu, kader KB, kader PKK, dan TPK menjadi pilar vital agar data hasil pemantauan berlanjut ke tahap pendampingan keluarga.
“Kami menyambut baik inisiatif ini sebagai ruang komunikasi terbuka antara Puskesmas dan kader TPK. Pada dasarnya, kami berada dalam satu perahu perjuangan yang sama, yakni mempercepat penurunan angka stunting di Kabupaten Malang,” tutur dr. Dian.
Digitalisasi Aplikasi Berbasis Web dan Rencana Evaluasi

Sebagai langkah konkrit, Poltekkes Malang merancang aplikasi berbasis web untuk mempermudah pencatatan dan pelaporan antropometri balita, baik dari penimbangan rutin di Posyandu maupun hasil penyisiran (sweeping) oleh kader TPK.
Sistem digital ini dirancang agar rekapitulasi data terstruktur secara otomatis dan menjangkau sasaran balita yang belum terpantau.
Rangkaian pengabdian masyarakat ini bakal dilanjutkan dengan evaluasi wilayah binaan yang dijadwalkan pada 20 November 2026 di Puskesmas Sumbermanjing Wetan.
Kolaborasi institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan dapat memperkokoh sistem pemantauan tengkes (stunting) yang presisi di Kabupaten Malang. (*/Ra Indrata)




