MALANG POST – Pakar transportasi Universitas Widya Gama Malang, Prof. Aji Suraji bersama Sosiolog Universitas Brawijaya, Dr. Iwan Nurhadi menegaskan, indikator keberhasilan Operasi Patuh Semeru 2026, tidak cukup diukur dari jumlah tilang selama 14 hari, melainkan dari penurunan angka kecelakaan serta perubahan budaya tertib masyarakat pascaoperasi berakhir, Rabu (28/10/2026).
Penertiban lalu lintas di jalan raya tidak boleh berhenti sebatas seremoni razia berkala.
Dalam dialog talkshow di Radio City Guide FM pada Rabu (28/10/2026), Pengamat Transportasi UWG Malang, Prof. Aji Suraji, menekankan pentingnya evaluasi berbasis data riil perbandingan sebelum dan sesudah Operasi Patuh Semeru 2026.
Efektivitas operasi 14 hari tersebut wajib mengukur tingkat fatalitas kecelakaan serta perubahan perilaku berkendara.
Edukasi bertahap dari teguran simpatik hingga sanksi tilang harus dibarengi pembentukan kesadaran mandiri, bukan sekadar patuh saat melihat petugas baju cokelat.
“Keberhasilan operasi diukur saat razia usai. Masyarakat harus tetap tertib memakai helm dan sabuk keselamatan karena jalan raya milik bersama,” tegas Prof. Aji Suraji.
Pandangan tersebut diperkuat Ketua Program Studi Doktor Sosiologi UB, Dr. Iwan Nurhadi.
Iwan menyoroti bahaya pembenaran (normalisasi) pelanggaran ringan yang melekat dalam kebiasaan warga, seperti tidak memakai helm saat jarak dekat atau nekat melawan arus demi kepraktisan.
Perilaku salah tersebut terus berulang jika tak segera diintervensi lewat edukasi berkelanjutan.
Wadah Balap Liar dan Keteladanan Komunitas
Menanggapi keluhan publik soal arogansi klub motor, Aji Suraji mendorong komunitas otomotif untuk berkolaborasi dengan kepolisian menjadi pelopor tertib lalu lintas.
Anggota komunitas diwanti-wanti untuk mematuhi batas kecepatan, menjaga jarak aman, dan tidak memblokir jalan umum.
Sementara itu, menyoal maraknya aksi balap liar malam hari, Iwan Nurhadi menilai penindakan hukum wajib berjalan seiring dengan penyediaan ruang fasilitas ekspresi bagi pemuda.
Pemerintah daerah didesak memikirkan wadah pembinaan bakat balap agar energi anak muda terarah secara aman dan terorganisasi.
Mengakhiri diskusinya, Iwan menekankan bahwa benteng utama pembentukan karakter tertib lalu lintas bermula dari keteladanan orang tua di dalam rumah tangga.
“Pendekatan keselamatan harus lebih empatik. Menghormati aturan di jalan raya adalah upaya nyata melindungi keselamatan keluarga kita sendiri,” pangkas Iwan Nurhadi. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




