MALANG POST – Tim peneliti Universitas Negeri Malang merancang buku cerita interaktif Tigra dan Mata Air Terakhir berbasis augmented reality di Malang, Rabu (28/10/2026), memadukan ilustrasi, animasi tiga dimensi, dan audio guna memupuk kesadaran konservasi satwa langka pada anak usia sekolah dasar.
Tim peneliti Universitas Negeri Malang (UM) merancang inovasi buku cerita bertajuk Tigra dan Mata Air Terakhir berbasis realitas tertambah (augmented reality/AR). Terobosan ini ditujukan untuk mengenalkan fauna endemik Indonesia serta menumbuhkan kepedulian konservasi lingkungan bagi murid sekolah dasar.
Buku ini memadukan alur narasi, ilustrasi visual, animasi tiga dimensi (3D), dan tata suara guna menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif serta komunikatif.
Pengembangan media yang berlangsung sepanjang Mei hingga Oktober 2026 tersebut merupakan bagian dari proyek penelitian bertajuk “Inovasi Pembelajaran Edu-Short Movie Berbasis Socio-Scientific Issue (SSI) Storyline sebagai Media Kampanye dan Peningkatan Kesadaran Climate Change dalam Pembelajaran Berbasis Kehidupan”.
Tim penelitian ini diketuai oleh Umi Fitriyati, S.Pd., M.Pd., dengan beranggotakan Agung Wibowo, M.Pd., Bagus Priambodo, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., Zahra Firdaus, M.Pd., Devi Mariya Sulfa, M.Pd., dan Claresia Tsany Kusmayadi, M.Pd.
Ketua Tim Peneliti, Umi Fitriyati, menjelaskan bahwa pengembangan media digital ini berawal dari kebutuhan akan peranti edukasi lingkungan yang solutif dan adaptif dengan dunia anak.

“Kami menghadirkan isu konservasi dan perubahan iklim melalui media yang interaktif. Anak-anak tidak hanya membaca teks, melainkan diajak mengalami cerita serta berinteraksi langsung dengan konten lewat gawai,” jelas Umi, Rabu (28/10/2026).
Buku Tigra dan Mata Air Terakhir diformulasikan bagi pembaca rentang usia 6–12 tahun. Tokoh utamanya adalah Tigra, seekor anak harimau sumatra yang cerdik dan tinggal di Hutan Rimba Zamrud. Melalui pengembaraan Tigra, anak-anak diperkenalkan pada keanekaragaman satwa Nusantara, karakteristik habitat, serta krisis lingkungan yang mengancam kepunahan.
Keunggulan buku fisik ini terletak pada integrasi pemindaian kode penanda (marker) teknologi AR. Saat halaman dipindai melalui kamera perangkat pintar, karakter satwa akan muncul sebagai animasi 3D hidup lengkap dengan efek audio alami.
Melalui pendekatan socio-scientific issue (SSI), isu nyata seperti kerusakan hutan, krisis iklim, dan ancaman perburuan liar dikemas secara proporsional. Langkah ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Poin 4 (Pendidikan Berkualitas), Poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan Poin 15 (Ekosistem Daratan).
Umi berharap buku ini dapat diproduksi secara massal sebagai peranti pendamping pembelajaran bagi guru IPA dan bahasa di sekolah dasar.
“Teknologi bagi kami merupakan sarana pemantik rasa ingin tahu. Yang paling utama adalah bagaimana teknologi dapat membantu anak belajar secara bermakna dan tergerak membela kelestarian alam sejak dini,” pukasnya. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




