MALANG POST – Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto memaparkan gagasan strategis “Batu Agrokreatif” dalam Rakornas ICCN 2026 di Jakarta, Selasa (27/10/2026), mengintegrasikan sektor pertanian, pariwisata, dan gastronomi guna mendorong UMKM lokal menembus jejaring UNESCO Creative Cities Network 2027.
Komoditas pertanian tidak lagi sekadar dijual sebagai bahan mentah. Di tangan para pelaku ekonomi kreatif, hasil bumi Kota Batu diolah menjadi karya kuliner bernilai jual tinggi, pengalaman wisata edukatif, hingga produk olahan yang siap menembus pasar global. Strategi tersebut dimaksimalkan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu melalui konsep Batu Agrokreatif.
Gagasan strategis tersebut dipaparkan secara rinci oleh Wakil Wali Kota (Wawali) Batu, Heli Suyanto, dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Indonesia Creative Cities Network (ICCN) 2026 di Gedung Film Pesona Indonesia, Jakarta.
Mengusung tema “Batu Agrokreatif: From Mountain Agriculture to Global Gastronomy”, Kota Batu berkomitmen mengintegrasikan pilar pertanian, gastronomi, pariwisata, dan kebudayaan. Langkah ini ditujukan untuk melipatgandakan daya saing produk lokal serta membuka pangsa pasar ekspor bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

RAKORNAS: Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat menghadiri Rakornas ICCN 2026 di Gedung Film Pesona Indonesia. (Foto: Istimewa)
Menurut Heli, Kota Batu memiliki keunggulan komparatif sebagai daerah agropolitan dan destinasi wisata utama.
“Hasil bumi tidak boleh berhenti sebagai komoditas mentah. Pertanian harus diolah menjadi olahan kuliner berkelas dan narasi pengalaman wisata yang memiliki nilai ekonomi berlipat,” ujar Heli, Selasa (27/10/2026).
Skema penataan ini ditopang oleh 17 subsektor ekonomi kreatif yang tumbuh di Kota Batu, seperti kuliner, seni pertunjukan, kriya, serta fesyen. Pemkot Batu pun mendorong penguatan ekosistem pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan jejaring kreatif.
Upaya tersebut diperkuat melalui pengembangan desa kreatif, pemetaan desa wisata, fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga penyelenggaraan festival budaya tahunan.
Pengembangan konsep Batu Agrokreatif sekaligus menjadi modal utama persiapan Kota Batu menuju penetapan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 di bidang gastronomi.
“Gastronomi bukan sekadar urusan makanan di atas piring. Lebih dari itu, gastronomi adalah pintu masuk utama untuk mengangkat harkat pertanian lokal, mengukuhkan identitas daerah, dan membuka keran ekonomi baru bagi UMKM,” pukasnya. (Ananto Wibowo)




