GELANDANG: Gustavo Franca yang baru masuk menit ke-86, mampu memberikan satu asis untuk gol keempat Arema FC, yang dicetak Julian Guevara. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Kemenangan telak 4-0 atas tim papan atas Dewa United FC, di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu (25/10/2026), menjadi panggung pembuktian sekaligus titik balik kebangkitan Arema FC, keluar dari krisis usai melewati persiapan singkat selama dua hari di bawah kendali pelatih interim Andre Caldas.
Hanya butuh waktu persiapan efektif selama dua hari bagi Andre Caldas, untuk menyalakan kembali api kepercayaan diri pilar Singo Edan.
Di tengah badai pergantian pelatih kepala dan rentetan hasil mengecewakan lima laga tanpa kemenangan, Arema FC justru menemukan titik balik permainan yang sangat krusial.
Menjamu salah satu tim papan atas BRI Super League 2026/2027, pada Pekan ke-7 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu (25/10/2026), Singo Edan mengamuk dengan menggulung Dewa United FC lewat skor mencolok 4-0.
Kemenangan raksasa tersebut terasa amat istimewa, lantaran lahir di tengah situasi internal tim yang sama sekali tidak ideal.
Pria berpaspor Brasil berusia 38 tahun tersebut, baru saja ditunjuk memegang kendali tim sebagai pelatih interim, usai manajemen mengakhiri kerja sama dengan Marcos Santos. Tepatnya pada Jumat (23/10/2026).
Namun, alih-alih melakukan pembongkaran skema secara drastis dalam waktu serba mepet, Andre memilih langkah psikologis, dengan membangun kembali keyakinan para pemain terhadap potensi besar diri mereka sendiri.
“Menurut saya, kami menjalani pertandingan yang sangat baik. Sebelum laga dimulai, saya menyampaikan kepada pemain, bahwa yang perlu kita lakukan hanyalah membuat mereka percaya, pada kemampuan sendiri dan membiarkan mereka bermain lepas,” ujar Andre Caldas.
Adaptasi Taktis dan Efisiensi Lini Belakang
Siasat pendekatan rasa percaya diri itu terbukti ampuh di atas lapangan hijau.
Arema FC tampil sangat produktif, dengan menyarangkan empat gol tanpa balas ke gawang Dewa United, lewat sumbangan brace Careca, serta gol penutup dari Samuel Otusanya dan Julian Guevara.
Tak sekadar tajam di lini serang, benteng pertahanan Singo Edan, juga tampil kokoh tanpa cela, hingga mencatatkan rekor cleansheet (tanpa kebobolan).
Andre menegaskan, dirinya tidak membuang seluruh warisan sistem permainan pelatih terdahulu.
Ia hanya memberikan sedikit sentuhan adaptasi taktis, pada beberapa sektor vital, agar organisasi permainan tim mengalir jauh lebih efektif.
“Perlu dipahami bahwa tidak semua hal di masa lalu itu salah. Banyak ide atau sistem taktis yang dianggap orang salah.”
“Sebenarnya hanya saya berikan sedikit adaptasi, sehingga tim tampil lebih baik. Ada suasana baru dan hal positif yang bekerja,” bebernya secara jujur.
Penghargaan Kerja Keras dan Kebahagiaan Aremania
Bagi juru taktik berusia 38 tahun tersebut, hasil manis di Kanjuruhan, bukan sekadar keberhasilan mengamankan tiga poin penuh di papan klasemen.
Hasil tersebut merupakan bentuk penghargaan tertinggi, atas komitmen seluruh anggota tim yang berjuang keras membebaskan diri dari himpitan tekanan publik.
Seluruh pemain yang turun—baik yang merumput selama 5 menit, 20 menit, hingga 90 menit penuh—mampu menunjukkan performa kolektif sebagai satu kesatuan tim yang utuh.
Di sisi lain, hasil sempurna di Kanjuruhan, menghadirkan makna emosional yang sangat mendalam bagi Aremania.
Suporter setia Singo Edan, akhirnya kembali menyaksikan tim kesayangannya tampil garang dan bertenaga.
Kendati demikian, Andre menyadari betul, satu kemenangan belum cukup untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah di dalam tim.
Hasil manis ini akan dijadikan pijakan awal yang kokoh, untuk membangun konsistensi permainan pada laga-laga berikutnya.
“Kami akan terus bekerja lebih keras lagi, ini baru permulaan. Saya sangat senang karena para pemain dan Aremania sangat layak mendapatkannya,” pungkas Andre Caldas. (Ra Indrata)




