MALANG POST – Badan Pusat Statistik Kota Batu mencatat fenomena paradoks pasar kerja di Batu, Selasa (20/10/2026), ketika Tingkat Pengangguran Terbuka melandai menjadi 3,53 persen, tetapi secara absolut jumlah penganggur justru bertambah sebanyak 357 orang hingga menyentuh angka 5.024 jiwa.
Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Batu ternyata tidak serta-merta mengindikasikan kondisi pasar kerja lokal kian membaik. Pasalnya, secara statistik kuantitatif, jumlah pencari kerja yang menganggur justru bertambah sepanjang periode 2025.
Berdasarkan data rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, tercatat sebanyak 5.024 jiwa menganggur pada Agustus 2025. Angka tersebut membengkak 357 orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di posisi 4.667 jiwa. Kendati demikian, secara rasio TPT melandai tipis dari 3,63 persen menjadi 3,53 persen.
Kepala BPS Kota Batu, Herlina Prasetyowati Sambodo, menjelaskan bahwa penurunan rasio TPT dipicu oleh laju pertumbuhan penduduk usia kerja dan angkatan kerja yang jauh lebih besar. Pada Agustus 2025, jumlah penduduk usia kerja menembus 176.927 orang atau melonjak bertambah 2.221 jiwa dibandingkan periode 2024.
“Eskalasi jumlah tersebut mengerek Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menjadi 80,53 persen. Angka ini naik signifikan jika disandingkan dengan TPAK Agustus 2024 yang berada di level 73,53 persen,” paparnya, Selasa (20/10/2026).
Sejalan dengan dinamika tersebut, jumlah angkatan kerja melonjak pesat dari 128.470 orang menjadi 142.486 orang. Artinya, partisipasi warga usia produktif yang masuk ke dalam pasar kerja kian besar. Namun, penambahan pasokan tenaga kerja tersebut belum sepenuhnya terserap oleh ketersediaan lapangan pekerjaan baru.
“Lonjakan jumlah angkatan kerja baru yang tidak sebanding dengan kapasitas penyerapan industri menjadi pemicu utama bertambahnya deretan penganggur,” ujar Herlina.
Kerentanan pasar kerja juga tecermin dari kualifikasi latar belakang pendidikan. TPT tertinggi justru didominasi oleh lulusan SMA umum yang menyentuh angka 7,26 persen. Rasio ini melonjak tajam dibanding periode 2024 yang bertengger di posisi 3,84 persen.

JOB FAIR: Salah satu cara Kota Batu untuk menekan angka pengangguran dengan menggelar Job Fair yang mempertemukan pencaker dan perusahaan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Menurut Herlina, lulusan SMA umum relatif minim dibekali keterampilannya (vocational skills) spesifik tidak seperti lulusan SMK. Akibatnya, mereka dihadapkan pada kompetisi ketat saat melamar pekerjaan teknis. Durasi masa tunggu lulusan, lamanya proses rekrutmen, keterbatasan sertifikasi kompetensi, hingga persiapan studi lanjut turut memengaruhi tingginya TPT kelompok ini.
Sementara itu, TPT lulusan jenjang diploma tercatat berada di angka 6,37 persen. Adapun TPT lulusan SMK berada di level 3,68 persen, mengalami penurunan membaik dari angka 5,53 persen pada Agustus 2024.
Di luar pengangguran terbuka, struktur ketenagakerjaan di Kota Batu diwarnai tingginya angka setengah penganggur. BPS mencatat rasionya berada di level 4,62 persen. Secara statistik kelompok ini tergolong bekerja, namun memiliki jam kerja di bawah batas normal 35 jam dalam sepekan.
Kondisi tersebut bertaut erat dengan karakteristik perekonomian Kota Batu yang bertumpu pada sektor jasa dan pariwisata. Kebutuhan tenaga kerja di sektor perhotelan, pusat kuliner, dan destinasi wisata sangat bergantung pada ritme fluktuasi kunjungan wisatawan.
Pekerja lepas (casual worker) menjadi contoh nyata. Mereka tidak bekerja penuh waktu dan umumnya hanya dipanggil bekerja saat puncak kunjungan (high season) atau akhir pekan. “Contohnya pekerja casual di perhotelan, mereka biasanya baru dipanggil kerja saat weekend atau ketika tingkat okupansi kamar melonjak,” tambahnya.
Realitas tersebut dipertegas oleh dominasi sektor informal dalam struktur tenaga kerja daerah. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batu, M. Forkan, menyebutkan bahwa 52,31 persen pekerja di Kota Batu terserap di sektor informal, sementara sisanya mengisi sektor formal.
“Proporsi pekerja di sektor informal lebih tinggi dibandingkan sektor formal, yakni menyentuh 52,31 persen,” terang Forkan.
Dominasi lapangan kerja informal memicu pendapatan dan jam kerja buruh menjadi sangat fluktuatif. Aktivitas niaga, wisata, dan kuliner sangat bergantung pada mobilitas wisatawan. Saat musim liburan tiba, serapan tenaga kerja melonjak. Sebaliknya, ketika musim sepi pengunjung (low season), jam kerja dan pendapatan buruh ikut tergerus.
Rangkaian data tersebut menegaskan bahwa evaluasi pasar kerja Kota Batu tidak bisa sekadar bertumpu pada rasio TPT yang melandai. Di balik angka 3,53 persen, jumlah penganggur absolut meningkat, setengah penganggur bertahan di angka 4,62 persen, dan sektor informal masih menjadi penopang utama warga.
“Tantangan krusial pemerintah ke depan bukan sekadar mencetak lapangan kerja secara kuantitas, melainkan memicu hadirnya lapangan kerja yang stabil, produktif, serta presisi dengan kualifikasi pencari kerja,” pukasnya. (Ananto Wibowo)




