MALANG POST – Pemerintah Kota Batu menggelar pagelaran wayang kulit dua dalang di Batu, Selasa (20/10/2026) malam, untuk merayakan Peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu sekaligus memperkuat kebersamaan warga dan melestarikan seni tradisi di usia seperempat abad.
Suasana penuh rasa syukur dan kebersamaan mewarnai malam Peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu. Pagelaran wayang kulit yang menghadirkan dua dalang ternama menjadi ruang hiburan rakyat sekaligus wahana merawat warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menyajikan seni pertunjukan ini dengan menghadirkan Ki Ardhi Poerboantono, S.Pd., yang membawakan lakon “Satriya Garudha Nusantara”, serta Ki Oktavianus Eko Saputro, S.Sn., dengan lakon “Satriya Bangsa”. Kemeriahan panggung semakin lengkap dengan penampilan pelawak legendaris Cak Penthol dan Cak Sadirun.
Wali Kota Batu, Nurochman, bersama Wakil Wali Kota, Heli Suyanto, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan Perangkat Daerah, camat, lurah, hingga kepala desa se-Kota Batu hadir secara mendampingi masyarakat.
Cak Nur—sapaan akrab Nurochman—mengajak segenap lapisan warga untuk mensyukuri perjalanan Kota Batu yang kini genap berusia seperempat abad. Ia berharap momentum hari jadi ini tidak sekadar menjadi perayaan seremonial, melainkan memperkuat fondasi kebersamaan dalam membangun kota.
Ia turut menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat atas kekurangan selama mendampingi warga bersama Heli Suyanto. “Bapak dan Ibu sekalian, atas nama Pemkot Batu, saya dan Mas Wawali memohon maaf lahir dan batin kepada seluruh warga Kota Batu atas kekhilafan selama hampir dua tahun memimpin daerah ini,” ungkapnya, Selasa (20/10/2026).
Nurochman memohon doa serta restu dari masyarakat agar bersama jajaran Forkopimda dan aparatur pemerintah daerah, dirinya dapat terus mengemban amanah dengan baik. Dukungan publik dinilai menjadi energi utama untuk melahirkan kebijakan yang tepat sasaran.

GUNUGAN: Wali Kota Batu Nurochman saat menyerahkan gunungan wayang menjelang dimulainya pertunjukan wayang kulit. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Menurutnya, pencapaian paling berharga dari perjalanan 25 tahun Kota Batu adalah terpeliharanya iklim kerukunan warga. Kemajuan kota tidak sebatas diukur dari pembangunan fisik semata, melainkan dari kedewasaan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kerukunan.
“Kita patut bersyukur, selama 25 tahun Kota Batu berdiri, kita semua tetap guyub rukun dalam membangun daerah. Ini merupakan capaian paling fundamental di atas seluruh indikator pembangunan lainnya,” tegas Nurochman.
Sementara itu, Ketua Panitia HUT ke-25 Kota Batu, Badrut Tamam, menegaskan bahwa pergelaran wayang kulit bukan sekadar tontonan hiburan rakyat. Agenda ini menjadi ikhtiar menjaga identitas kultural agar nilai-nilai lokal tetap mengakar kuat.
Ia berharap semangat uri-uri budaya Jawa terus bersemi di sanubari warga. Menurutnya, laju kemajuan ekonomi daerah harus berjalan selaras dengan pelestarian tradisi agar masyarakat tidak kehilangan jati diri.
“Ikhtiar utamanya tentu uri-uri budaya. Seiring dinamika perkembangan zaman, warga Kota Batu diharapkan tidak kehilangan identitas kulturalnya dan tetap teguh melestarikan tradisi luhur kita,” terang Badrut.
Ia menambahkan bahwa seni wayang kulit kaya akan piwulang dan falsafah hidup yang relevan sebagai bahan perenungan. Melalui pergelaran ini, peringatan hari jadi Kota Batu menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, merawat cagar budaya, serta menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan. (Ananto Wibowo)




