SIDAK SPBU: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, saat meninjau SPBU Mergan, menyapa salah seorang pengendara, Mitha (38), untuk mendengar, Jumat (16/10/2026). (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
MALANG RAYA – Pemandangan antrean panjang kendaraan bermotor hingga berjam-jam lamanya, mendadak mengepung sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Malang, akibat fenomena peralihan (shifting) konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite, Jumat (16/10/2026).
Geliat rutinitas warga di Kota Malang dalam beberapa pekan terakhir, mendadak terganggu oleh urusan pengisian bahan bakar minyak.
Antrean kendaraan roda dua maupun roda empat, mengular panjang hampir di setiap sudut SPBU kawasan perkotaan.
Mitha (38), warga asal Kecamatan Sukun, mengaku sangat merasakan dampak kelelahan, dari fenomena perburuan BBM bersubsidi jenis Pertalite ini.
Dalam kurun waktu berdekatan, ia sudah dua kali terjebak dalam pusaran antrean mengular, dengan durasi hingga satu jam lamanya.
Pengalaman pertama dirasakannya di SPBU Sukun, saat larut malam antara pukul 22.00 hingga 23.00 WIB.
Kejadian serupa kembali terulang di SPBU Mergan, pada Jumat (16/10/2026) pagi dari pukul 08.15 hingga 09.15 WIB.
”Antre sejam itu sangat menyita waktu dan merugikan masyarakat. Keterpaksaan membuat pengendara rela antre lama, karena butuh bensin murah.”
“Kasihan para pengemudi ojek online (ojol) yang jam kerjanya terbuang di jalan,” keluh Mitha dengan nada dongkol.
Beda Harga Bikin Konsumsi Pertalite Melonjak

ISI BENSIN: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyaksikan pengisian BBM bersubsidi jenis pertalite di SPBU Mergan. Memastikan pengisiannya berjalan lancar. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Merespons keresahan warga di lapangan, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, angkat bicara usai meninjau kondisi SPBU bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Wahyu membeberkan, biang kerok utama penyebab antrean mengular di SPBU, murni dipicu oleh lonjakan konsumsi Pertalite sebesar 11 persen.
Kenaikan tersebut terjadi akibat migrasi massal para pemilik kendaraan, dari BBM nonsubsidi jenis Pertamax 92 ke Pertalite.
Selisih harga Pertamax yang merangkak naik cukup jauh, dibanding Pertalite yang disubsidi pemerintah, menjadi alasan logis warga berbondong-bondong pindah haluan.
Dampak langsungnya, angka konsumsi Pertamax meluncur turun drastis hingga menembus 50 persen.
”Masyarakat tidak perlu panik atau resah dengan isu kelangkaan. Stok dan pasokan BBM di jamin aman terkendali. Peralihan pengguna dari Pertamax ke Pertalite memang menaikkan konsumsi subsidi, tapi TPID terus mengawasi agar tidak ada panic buying,” tegas Wahyu Hidayat.
Di luar urusan bahan bakar, Wahyu menambahkan, Pemkot Malang bersama TPID juga mengintervensi lonjakan harga cabai rawit di pasar tradisional, yang sempat menembus Rp65 ribu per kilogram akibat dinamika cuaca dan musim hajatan.
Injeksi Kuota Dan Skema Marshaling

ANTRE: Situasi antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat di SPBU Mergan, terlihat sejak pagi hari, terlebih pada jam kerja atau berangkat antar anak sekolah. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Penjelasan senada dipaparkan oleh Sales Area Manager Retail Malang PT Pertamina Patra Niaga, Angga Yodi W. Putra.
Angga membenarkan, pergeseran pilihan konsumen dari Pertamax ke Pertalite dipicu oleh pertimbangan ekonomis warga.
Merespons lonjakan permintaan tersebut, Pertamina sebenarnya telah mengambil langkah taktis, dengan menginjeksi pasokan harian Pertalite melebihi batas normal hingga 120 persen.
Jika dalam kondisi biasa penyaluran harian Pertalite di Kota Malang berada di kisaran 300 sampai 340 Kilo Liter (KL), kini Pertamina menggelontorkan hingga 407 KL per hari.
Guna mengurai kemacetan dan kesemrawutan antrean di area dispenser SPBU, Pertamina bakal menerapkan skema Marshaling.
Skema ini menyiagakan petugas khusus di lapangan, untuk menata alur antrean, mengatur posisi lajur kendaraan, serta memastikan proses pengisian berjalan cepat, tertib, dan aman.
”Bila ada SPBU yang tampak kosong sementara, itu hanya jeda proses bongkar muat truk tangki dan hari itu juga langsung kita isi kembali.”
“Kami imbau masyarakat tidak perlu panic buying karena kuota pasokan sangat aman,” pangkas Angga Yodi W. Putra. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




