MALANG POST – Para peternak sapi perah di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, mengeksekusi strategi penyesuaian komposisi pakan dan kemitraan pemanfaatan lahan Perhutani, Kamis (15/10/2026), guna menjaga kontinuitas produksi 10.000 liter susu per hari di tengah ancaman musim kemarau.
Dampak iklim musim kemarau menjadi tantangan krusial bagi keberlangsungan peternakan sapi perah. Ketersediaan kuota pakan hijauan berpotensi terancam akibat menyusutnya pasokan irigasi air. Kendati demikian, para peternak di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, telah menyiapkan jurus terobosan guna mengamankan ketersediaan pakan sekaligus menjaga konsistensi mutu dan volume produksi susu segar.
Para peternak lokal mengandalkan kombinasi presisi antara pakan konsentrat berkalori tinggi dan hijauan pakan ternak yang ditanam secara mandiri. Formulasi ini diterapkan agar ketercukupan nutrisi harian sapi perah tetap terpenuhi, meski eskalasi biaya pakan menjadi ujian finansial selama musim kemarau.
Salah seorang peternak setempat, M. Munir, menjelaskan bahwa komunitas peternak memilih membudidayakan rumput gajah di lahan persawahan produktif demi menjamin ketersediaan pasokan pakan hijau. Penentuan petak lahan tanam dikalkulasi secara cermat dengan mempertimbangkan keterjangkauan akses air melalui sistem irigasi (dilep).
“Kami sengaja menanam rumput gajah di areal persawahan agar pasokan air tetap terjangkau melalui sistem pengairan irigasi atau dilep,” ujar Munir, Kamis (15/10/2026).
Selain mengoptimalkan lahan sawah pribadi, para peternak mengikat kemitraan strategis bersama Perum Perhutani. Lewat skema pinjam pakai kawasan hutan, sebagian area pangkuan Perhutani difungsikan sebagai lahan budi daya tanaman pakan ternak.
Sebagai kompensasi timbal balik, para peternak berkewajiban aktif merawat, menjaga, dan memelihara keasrian tanaman lindung milik Perhutani di area persil tersebut. Skema kolaboratif ini tidak hanya menggaransi ketahanan pakan ternak, melainkan juga memacu keterlibatan komunitas peternak dalam aksi konservasi kawasan hutan.
“Sebagai kompensasi pemanfaatan lahan, para peternak berkewajiban ikut serta merawat dan memelihara tanaman lindung milik Perhutani di kawasan hutan tersebut,” tutur Munir.

BERI PAKAN: Peternak di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kota Batu saat memberikan pakan ternak mereka. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Langkah taktis berikutnya dieksekusi lewat formulasi penyesuaian porsi komposisi pakan berdasarkan dinamika iklim. Sewaktu musim kemarau melanda, porsi penggunaan konsentrat ditingkatkan hingga mencapai 60–65 persen, sedangkan porsi hijauan diberikan sebesar 35–40 persen dari total ransum.
Sebaliknya, ketika musim hujan tiba, komposisi tersebut diputar balik. Porsi penggunaan pakan konsentrat dikurangi dan porsi pemberian hijauan dinaikkan secara signifikan menyesuaikan melimpahnya ketersediaan pakan hijau di lapangan.
“Begitu memasuki musim hujan, porsi ini kami balik. Penggunaan konsentrat dikurangi dan porsi hijauan dinaikkan,” imbuhnya.
Di tengah gejolak biaya pakan saat kemarau, para peternak konsisten menjaga standar kualitas gizi harian ternak. Jenis pakan hijau yang digunakan meliputi rumput gajah segar dan tebon (tanaman jagung muda yang dicacah utuh).
Munir menjamin bahwa sinergi strategi pengadaan lahan, penanaman mandiri, dan pengaturan porsi komposisi ransum pakan ini menjadi jaminan utama koperasi dalam menjaga vitalitas populasi sapi perah selama kemarau.
“Yang pasti pasokan pakan sapi perah kami pastikan tetap aman dan mencukupi sepanjang musim kemarau ini,” jelasnya.
Dusun Brau sendiri telah lama ditasbiskan sebagai salah satu ikon sentra industri susu sapi segar terkemuka di Kota Batu. Potensi peternakan terpadu ini juga dikembangkan secara kreatif oleh warga lokal menjadi destinasi wisata edukasi peternakan sapi perah.
Kawasan lereng pegunungan ini menyimpan kekuatan ekonomi yang sangat dominan meski jumlah penduduknya terbilang padat terbatas. Dusun Brau hanya dihuni oleh sekitar 700 jiwa warga, namun menampung populasi mencapai 2.500 ekor sapi perah dengan kapasitas produksi susu segar menembus 10.000 liter per hari. (Ananto Wibowo)




