DUEL SAYAP: Achmad Maulana dan Samuel Otusanya, dalam sebuah sesi latihan rutin. Koneksivitas penyerang Arema FC mendapat sorotan tajam dari pelatih. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Kendati menobatkan diri sebagai tim paling subur hingga Pekan ke-4 BRI Super League 2026/2027 dengan raihan 10 gol, pelatih kepala Arema FC Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, mengaku belum puas dan fokus membenahi koneksi lini serang nomor 9, jelang laga tandang krusial melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari, Bogor, Kamis (15/10/2026).
Secara hitungan statistik di atas kertas, performa lini depan Arema FC, sebenarnya sangat menjanjikan dan mengerikan bagi lini belakang lawan.
Dari empat laga awal kompetisi, skuad Singo Edan sukses mengemas 10 gol, tujuh assist, serta melepaskan 18 tembakan tepat sasaran (on target) dari total 34 kali Percobaan.
Namun di mata pelatih kepala asal Brasil, Marcos Santos, angka-angka mentereng tersebut, belum sepenuhnya mencerminkan keselarasan permainan tim.
Pelatih 48 tahun itu menilai, aliran bola dari lini tengah menuju ujung tombak atau penyerang murni (pemain nomor 9), masih sering tersendat dan kurang padu.
Bongkar pasang komposisi pemain pada bursa transfer awal musim, diakuinya membawa dampak pada lambatnya pembentukan ikatan permainan (chemistry).
“Masalah utamanya adalah pergantian musim dan kedatangan pemain-pemain baru. Kami masih kesulitan membangun koneksi ideal dengan pemain nomor 9. Tapi sudah ada peningkatan bagus dari Samuel Otusanya dan Mauro Zijlstra,” tutur Marcos Santos, Kamis (15/10/2026).
Dilema Tim Paling Subur dan Keseimbangan Taktis
Tantangan terbesar pelatih berlisensi Pro Conmebol saat ini, adalah menjaga keseimbangan (balance) antara agresivitas menyerang dan kerapian organisasi bertahan.
Singo Edan memang tercatat sebagai kontestan paling produktif menjebol gawang lawan, di kasta tertinggi liga musim ini.
Namun, kebiasaan terlalu asyik menyerang sering kali membuat benteng pertahanan terbuka lebar dan gampang dihukum lewat skema serangan balik cepat lawan.
“Sangat disayangkan, tim yang mencetak gol paling banyak di kompetisi ini adalah Arema. Tapi kami tetap butuh organisasi permainan yang solid agar tidak mudah kehilangan kendali,” tegas juru taktik yang sudah dua musim bersama Arema ini.
Tantangan ini kian nyata usai Arema FC dipaksa bersusah payah menghindari kekalahan, saat menjamu Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (10/10/2026) lalu.
Sempat tertinggal dua gol di babak pertama lewat aksi Matias Ocampo dan Milan Ristovski, Arema FC baru bangkit di babak kedua melalui gol Marcos Vinicius dan sundulan Samuel Otusanya untuk memaksakan skor imbang 2-2.
Sikap Ksatria dan Uji Nyali di Pakansari
Menariknya, Marcos Santos menolak mencari alasan atau menyalahkan pilar pertahanannya atas kelengahan pada babak pertama laga tersebut.
Pelatih berpaspor Brasil itu secara ksatria pasang badan dan mengambil tanggung jawab penuh atas hasil imbang di kandang sendiri.
“Tidak ada pemain yang harus disalahkan atas gol lawan. Tanggung jawab penuh ada di tangan saya. Kami memang tidak puas dengan hasil seri, tetapi tim ini membuktikan punya mentalitas pantang menyerah,” tegasnya.
Kini, tambahan satu poin menempatkan Arema FC di urutan ke-8 klasemen sementara BRI Super League 2026/2027.
Laga Pekan ke-5 menghadapi Garudayaksa FC di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, pada Sabtu (17/10/2026) sore mendatang bakal menjadi panggung pembuktian hasil evaluasi.
Arema FC tidak sekadar dituntut mempertahankan takhta tim tersubur, melainkan wajib memperagakan pola serangan yang jauh lebih terorganisasi demi memboyong tiga poin penuh ke Malang. (Ra Indrata)




