PENJELASAN: Wakil Bupati Malang, Hj Lathifah Shohib (tengah) didampingi Field Product Manager Advanta, Ichwan Budi Prasetyo (kiri) saat melihat denah proses panen jagung. (Foto: Suseno/Malang Post)
MALANG POST – Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, menghadiri panen raya jagung Advanta Harvest Festival di Desa Purwosekar, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Rabu (7/10/2026), menyusul lonjakan produktivitas panen dari 2 ton menjadi 12 ton per hektare sejak pertama kali dikembangkan pada 2021.
Angka capaian tersebut melesat signifikan. Dari semula hanya memproduksi sekitar 2 ton jagung per hektare pada awal masa perintisan tahun 2021, produktivitas lahan di Desa Purwosekar, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, kini dilaporkan mampu menembus 12 ton per hektare.
Lompatan enam kali lipat ini menarik perhatian Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, saat menghadiri ajang panen raya Advanta Harvest Festival di Purwosekar, Rabu (7/10/2026).
Menurut Lathifah, peningkatan hasil panen tersebut membuka kran ekonomi yang lebih melimpah bagi para petani lokal. Apalagi, komoditas jagung memiliki masa tanam relatif singkat, yakni kisaran tiga hingga empat bulan.
“Alhamdulillah, ada lonjakan hasil sejak panen perdana 2021. Saat itu satu hektare hanya menghasilkan sekitar 2 ton, kini pada 2025–2026 sudah melonjak menjadi 12 ton,” tutur Lathifah, Rabu (7/10/2026).
Di Purwosekar sendiri, luas area budidaya jagung saat ini berkisar antara 70 hingga 80 hektare. Dari total hamparan tersebut, sekitar 40 hektare di antaranya memasuki masa petik dalam festival panen kali ini.
Petani Tebu Mulai Beralih
Tingginya angka produktivitas serta durasi panen yang ringkas mulai menggeser preferensi petani setempat. Sebagian warga kini mulai mengalihfungsikan lahan tebu mereka ke tanaman jagung.

PETANI: Wakil Bupati Malang, Hj Lathifah Shohib didampingi Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Avicena dan perwakilan Advanta. (Foto: Suseno/Malang Post)
“Banyak petani mengalihkan lahan tebu untuk menanam jagung karena siklus usahanya lebih pendek, sekitar tiga sampai empat bulan sudah bisa dipetik,” ungkapnya.
Siklus penanaman yang cepat tersebut membuat perputaran modal usaha tani berjalan lebih dinamis. Tanaman tebu membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk sekali tebang, sedangkan dalam periode yang sama, petani dapat mengombinasikan pola tanam jagung dan padi.
Lathifah mencontohkan, petani bisa menanam jagung dua kali diselingi padi satu kali dalam setahun. Hasil panen beras diplot untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sedangkan kelebihan hasilnya dapat dijual guna menutupi biaya operasional usaha tani maupun keperluan rumah tangga.
“Kalau tebu harus menunggu satu tahun. Dalam kurun waktu yang sama, petani dapat menanam jagung dua kali dan padi satu kali. Hasilnya sangat membantu keuangan warga,” terangnya.
Potensi finansial ini tergambar dari kalkulasi sederhana yang dipaparkan Lathifah. Untuk luas garapan sekitar 2.000 meter persegi, estimasi pundi pendapatan dari jagung dapat mencapai Rp12 juta.
Setelah dikurangi pengeluaran operasional sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta, keuntungan bersih yang diraup berkisar Rp9 juta. Jika dikonversikan ke dalam skala satu hektare, omzet kotornya mencapai Rp45 juta per periode petik.
“Dalam setahun bisa dua kali panen jagung. Perhitungan kasarnya, Rp45 juta dikali dua berarti sekitar Rp90 juta per tahun,” kalkulasinya.
Kendati demikian, kalkulasi tersebut merupakan gambaran umum di lapangan. Pendapatan riil petani tetap dipengaruhi oleh fluktuasi harga pasar, kalkulasi biaya input produksi, serta dinamika cuaca tiap musim tanam.
Dorong Digitalisasi dan Pertanian Modern
Bagi Lathifah, penguatan sektor pertanian tidak bisa lagi sekadar mengandalkan perluasan lahan (ekstensifikasi). Penggunaan varietas benih unggul serta adopsi teknologi tepat guna menjadi kunci agar volume produksi terus meroket.

KEBERSAMAAN: Wakil Bupati Malang, Hj Lathifah Shohib bersama beberapa OPD, perwakilan Direksi Advanta dan paragraf petani jagung. (Foto: Suseno/Malang Post)
“Pemerintah Kabupaten Malang sangat terbuka terhadap kemitraan strategis yang menguntungkan warga, sekaligus menjadi wadah alih teknologi (transfer of technology). Kita ingin bertransformasi dari cara konvensional menuju pertanian modern,” tegasnya.
Ia menambahkan, generasi muda memiliki akselerasi lebih cepat dalam menyerap inovasi teknologi agribisnis, sedangkan petani senior memerlukan masa pendampingan gradual. Peningkatan taraf hidup petani ini diharapkan mampu mengakselerasi agenda penanggulangan kemiskinan daerah.
1.700 Hektare Kawasan Kemitraan di 30 Desa
Pada kesempatan yang sama, Field Product Manager PT Advanta Seeds Indonesia, Ichwan Budi Prasetya, menjelaskan bahwa pengembangan budidaya jagung di Kabupaten Malang dijalankan melalui skema kemitraan dengan desa-desa berpotensi.
Total area garapan yang dibina Advanta telah mencapai 1.700 hektare yang tersebar di 30 desa se-Kabupaten Malang.
“Kami fokus menjalin kerja sama dengan desa-desa yang memiliki potensi pengembangan agribisnis,” ungkap Ichwan.
Kemitraan tersebut tidak semata-mata berburu tonase produksi. Petani dibekali akses benih bermutu tinggi serta bimbingan teknis agar nilai kesejahteraan mereka terangkat.
Advanta juga berkomitmen membangun hubungan kemitraan berkelanjutan (sustainable partnership), salah satunya melalui alokasi program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (Corporate Social Responsibility/CSR) yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik tiap desa mitra.
Mengenai akumulasi produksi, Ichwan mencatat wilayah kemitraan di Kabupaten Malang menyumbang sekitar 800 ton pada 2025. Khusus Desa Purwosekar pada 2026, dengan proyeksi luas tanam 80 hektare, total hasil panen diperkirakan mampu menembus 900 hingga 950 ton. (Suseno/Ra Indrata)




