MALANG POST – Dosen Linguistik Universitas Negeri Malang, Dr Nurenzia Yannuar, bersama Dekan FISIP Universitas Brawijaya, Dr Ahmad Imron Rozuli, membedah perjalanan sejarah, fonemik, hingga strategi pelestarian Osob Kiwalan (Boso Walikan) dalam talkshow Idjen Talk di Radio City Guide FM, Sabtu (3/10/2026).
Bahasa identitas sebuah kota bukan sekadar alat komunikasi harian. Ia merupakan rekam jejak perjuangan, simbol perlawanan, sekaligus perekat sosial warga lokal dan pendatang.
Perjalanan panjang itulah yang melekat erat pada Osob Kiwalan atau Boso Walikan khas Malang.
Dalam dialog interaktif Idjen Talk di Radio City Guide FM pada Sabtu (3/10/2026), Dosen Linguistik Universitas Negeri Malang (UM), Dr Nurenzia Yannuar, memaparkan evolusi bahasa unik ini sejak dekade 1940-an.
Awalnya, boso walikan dipakai sebagai bahasa kode pejuang kemerdekaan.
Fungsinya kemudian bergeser menjadi simbol anti-kemapanan pada 1950-an, merambah anak muda SMA Tugu pada 1970-an, hingga menjadi perekat solidaritas Aremania sejak era 2000-an.
“Pada 2026 ini, Kementerian Kebudayaan resmi menetapkan Osob Kiwalan sebagai tradisi lisan yang unik,” ungkap Nurenzia.
Nurenzia meluruskan kaprah bahwa Osob Kiwalan sekadar membalik susunan huruf.
Aturan mainnya berpijak pada pembalikan bunyi atau fonem mengacu kaidah pengucapan bahasa Jawa.
Contohnya, kata ‘Malang’ menjadi ‘Ngalam’, dan ‘Klambi’ bergeser menjadi ‘Imblak’.
“Tidak semua kata bisa asal dibalik. Ada pola bunyi tertentu yang wajib dipatuhi,” tegasnya.
Kini, keberadaan Osob Kiwalan menghadapi tantangan tergerus gaya bahasa anak muda yang makin terpengaruh istilah Jakarta dan bahasa Inggris.
Generasi Z kerap menganggap boso walikan terlalu lokal, meski kantong pemakainya masih bertahan di Gandekan, Kauman, Mergosono, dan Celaket.
Guna membentengi kelestariannya, Nurenzia mendorong penerapan linguistic landscape dengan menghadirkan Osob Kiwalan di ruang publik, seperti kawasan Kayutangan, hotel, kafe, hingga materi pengayaan muatan lokal bahasa Jawa di sekolah.
Dekan FISIP UB, Dr Ahmad Imron Rozuli, sepakat bahwa Osob Kiwalan merupakan identitas inklusif perekat semangat ‘Ngalam Hebat’.
“Kiwalan adalah ruang sosial bersama bagi warga asli maupun pendatang. Perlu kajian sosial-linguistik lintas akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha untuk merawatnya,” pangkas Imron. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




