(Kiri) Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. dan Muhammad Fath Mashuri, S.Psi., M.A. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Dua dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang menggagas pola pengasuhan eco-parenting berbasis kearifan lokal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan guna membekali orang tua menghadapi ancaman perubahan iklim, sekaligus berhasil meraih hibah penelitian internasional dari Pemerintah Britania Raya, Minggu (4/10/2026).
Perubahan iklim dan krisis ekologis yang kian mengkhawatirkan menuntut keterlibatan aktif masyarakat yang dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga.
Merespons tantangan global tersebut, dua akademisi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggagas inovasi pengasuhan anak ramah lingkungan (eco-parenting) yang diintegrasikan dengan nilai-nilai kearifan lokal Nusantara.
Gagasan solutif ini dicetuskan oleh Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., berkolaborasi dengan dosen Fakultas Psikologi UMM, Muhammad Fath Mashuri, S.Psi., M.A.
Keterbaruan (novelty) dari konsep riset dan pengabdian ini menjadi keunggulan utama. Salis memaparkan bahwa wacana parenting atau pola asuh di tengah masyarakat selama ini cenderung berfokus pada isu pemanfaatan gawai (gadget), prestasi akademik, karier, atau kesehatan fisik anak belaka.
“Apabila kita mendiskusikan parenting, topik utama yang diangkat hampir selalu berkisar pada gadget, pendidikan, atau kesehatan. Kita hampir tidak pernah menyentuh pentingnya pengasuhan untuk mengedukasi anak mengenai perubahan iklim (climate change) atau keberlanjutan (sustainability),” tutur Salis, Minggu (4/10/2026).
“Padahal, literasi lingkungan harus menjadi kesadaran mendasar bagi orang tua. Sebab, anak-anak kitalah yang akan menghuni bumi ini selama 50 tahun ke depan,” tegasnya.
Menariknya, materi eco-parenting ini tidak mengadopsi teori Barat secara mentah-mentah, melainkan digali langsung dari akar kebudayaan tradisi Indonesia. Mereka sepakat mengombinasikan nilai-nilai kebudayaan Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, khususnya kearifan lokal masyarakat Bugis dan Makassar. Kombinasi silang budaya ini makin padu mengingat Fath Mashuri berdarah Sulawesi Selatan.
“Di Jawa, misalnya, terdapat tradisi bersih desa serta ritual menjaga kesucian sumber air. Ada pula kearifan lokal petani kuno yang menaburkan parutan kelapa ke sawah sebagai pupuk alami. Kesadaran untuk kembali ke alam dan meminimalkan bahan kimia inilah yang kami jadikan materi edukasi budaya bagi orang tua,” urainya.
Inovasi ini sekaligus memperluas spektrum keilmuan psikologi. Keterlibatan Fath Mashuri yang mengawal psikologi sosial membuktikan bahwa ranah psikologi mampu berkontribusi nyata pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama di tengah ancaman pemanasan global (global warming) dan cuaca ekstrem.
Berkat kebaruan dan bobot kontribusinya, riset pengabdian dosen UMM ini sukses memenangkan hibah internasional bergengsi dari Pemerintah Britania Raya (UK Government). Salis, yang merupakan alumnus program doktoral dari Newcastle University, Inggris, menjelaskan bahwa hibah kompetitif ini disediakan secara eksklusif bagi para alumni perguruan tinggi Inggris di seluruh dunia.
“Seleksinya sangat ketat dan kompetitif. Setiap tahun hanya sekitar 15 penerima yang terpilih secara global. Saya pernah mencoba dua tahun lalu dan gagal tiga kali, hingga akhirnya tahun ini berhasil lolos,” ungkapnya.
Proyek pengabdian masyarakat ini dijadwalkan mulai diimplementasikan pada November 2026. Usai penandatanganan kontrak pada Oktober ini, seluruh rangkaian edukasi eco-parenting ditargetkan rampung sepenuhnya pada Juni 2027. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




