MALANG POST – Universitas Islam Malang menggelar Rutinan Halaqoh Diniyah dan Orasi Kebangsaan pasca-Oshika Maba di Gedung Gedung Al-Asy’ari Unisma, Malang, Kamis (1/10/2026), dengan menghadirkan penceramah Kyai Sableng dan budayawan Cak Suro guna memperkuat integrasi keilmuan dan karakter santri-sarjana.
Rangkaian kegiatan Orientasi Studi dan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (Oshika Maba) Universitas Islam Malang (Unisma) Tahun Akademik 2026/2027 tidak berhenti pada seremoni penerimaan. Sebagai wujud keberlanjutan pembinaan karakter berakhlak mulia (akhlakul karimah), kampus kebanggaan warga Nahdlatul Ulama (NU) ini melanjutkannya dengan menggelar Rutinan Halaqoh Diniyah dan Orasi Kebangsaan.
Agenda keagamaan tersebut berlangsung khidmat dan marak di Gedung Bundar Al-Asy’ari Unisma, Kamis (1/10/2026). Suasana halaqoh terasa istimewa dan bernuansa hangat berkat kehadiran Kyai Sableng—penceramah yang dikenal dengan gaya dakwah nyentrik—bersama budayawan sekaligus presenter JTV, Cak Suro.
Kolaborasi apik keduanya, yang diiringi oleh alunan irama musik gamelan dari Jagong Maton Pesantren, berhasil menambah kekhusyukan sekaligus kehangatan acara.
Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D., menyampaikan bahwa melalui kegiatan berkala ini, Unisma terus berkomitmen memperkokoh internalisasi nilai-nilai keislaman (ahlussunnah wal jamaah) dan wawasan kebangsaan bagi para mahasiswa baru pada fase awal perjalanan akademik mereka.
Prof. Junaidi menjelaskan bahwa Halaqoh Diniyah merupakan tradisi kebudayaan akademik penyambutan mahasiswa baru yang menjadi ciri khas tunggal Unisma.
“Saya kira belum ada perguruan tinggi lain yang menyelenggarakan program kelanjutan penyambutan mahasiswa baru pasca-Oshika Maba dengan format halaqoh diniyah seperti di Unisma ini,” ujar Rektor, Kamis (1/10/2026).
“Para mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai intelektualitas ilmu pengetahuan maupun kemajuan teknologi semata. Lebih dari itu, mahasiswa Unisma wajib mampu mengintegrasikan antara ilmu sains dengan pemahaman nilai-nilai agama,” lanjutnya.
Prof. Junaidi menegaskan, perhelatan Halaqoh Diniyah bertujuan mendidik para mahasiswa baru agar memiliki standar karakter berakhlak mulia (akhlakul karimah) yang selaras dengan ajaran Islam. Pembentukan profil kelulusan Unisma yang memadukan karakter santri sekaligus profesional sarjana menjadi target utama kelembagaan.
Fondasi profil santri tersebut dibangun melalui pembiasaan kegiatan keagamaan seperti Halaqoh Diniyah. Di sisi lain, Unisma berkomitmen merangkul mahasiswa dari pelbagai latar belakang sosial, menciptakan lingkungan kampus yang inklusif, serta menyiapkan mahasiswa menjadi pribadi yang bermanfaat di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Kyai Sableng dalam tausiyahnya mengajak para mahasiswa baru untuk memaknai kesuksesan dari perspektif yang lebih holistik. Menurutnya, kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient/IQ) wajib berjalan seiring dengan kecerdasan emosional (Emotional Quotient/EQ) dan kecerdasan sosial (Social Quotient/SQ). Ia menekankan pentingnya mahasiswa membangun jejaring silaturahmi selama menempuh studi.
“Jika hanya mengandalkan IQ tanpa diimbangi kecerdasan emosional dan sosial, seseorang akan kesulitan menjadi pribadi yang utuh di tengah masyarakat,” tuturnya.
Jejaring pertemanan, lanjutnya, bukan sekadar kebutuhan interaksi sosial. Relasi yang dibangun secara sehat dan positif akan menjadi modal sosial (social capital) mahasiswa dalam membuka peluang karier pascakampus.
Di tengah pesatnya disrupsi teknologi, Kyai Sableng juga mengimbau mahasiswa untuk mengasah kecerdasan digital (Digital Quotient/DQ). “Apabila kita tidak segera mengadopsi kecerdasan digital (digital quotient), kita akan tergilas oleh zaman,” tegasnya.
Pesan tersebut krusial mengingat hampir seluruh sektor kehidupan saat ini bertransformasi secara digital, mulai dari ekosistem pendidikan, ekonomi, komunikasi, hingga dunia kerja.
Tujuh Ukhuwah untuk Kehidupan Mahasiswa
Pada sesi Orasi Kebangsaan, Kyai Sableng juga mengajak mahasiswa memahami konsep persaudaraan (ukhuwah) secara komprehensif. Persaudaraan tidak hanya dibangun dalam tataran interaksi antarteman, melainkan dimulai dari kemampuan menjaga kedamaian dengan diri sendiri.
Ia mengenalkan tujuh pilar dimensi ukhuwah, yakni:
- Ukhuwah Nafsiyah, persaudaraan dan kedamaian dengan diri sendiri.
- Ukhuwah Zaujiyah, keharmonisan hubungan dalam ikatan pernikahan.
- Ukhuwah Ahliah, ikatan kekeluargaan dan pertalian darah.
- Ukhuwah Wathaniyah, persaudaraan atas dasar kesamaan bangsa dan tanah air.
- Ukhuwah Diniyah, persaudaraan antarsesama umat beragama.
- Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah, persaudaraan atas dasar kemanusiaan universal.
- Ukhuwah Jam’iyah, persaudaraan dalam wadah organisasi, komunitas, dan kelembagaan. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




