JALAN SEHAT: Wakil Bupati Malang, Hj Lathifah Shohib didampingi Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (LP Ma'arif NU) Kabupaten Malang, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, M.Pd.I. dan Ketua panitia pelaksana, Imron Syahroni saat memberangkatkan jalan sehat Ma'arif Day. (Foto: Suseno/Malang Post)
MALANG POST – Sekolah swasta bukan sekadar alternatif ketika kursi sekolah negeri tidak tersedia. Di Kabupaten Malang, keberadaan lembaga pendidikan swasta dinilai ikut menopang tugas pemerintah dalam memastikan anak-anak memperoleh akses pendidikan.
Karena itu, Wakil Bupati Malang Hj. Lathifah Shohib mendorong pemerintah, memberikan perhatian yang seimbang kepada lembaga pendidikan negeri dan swasta.
Hal tersebut disampaikan Lathifah, di sela-sela memberangkatkan puluhan ribu peserta Jalan Sehat dalam puncak Harlah ke-97 Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU, yang dikemas dalam Ma’arif Day di Lapangan Desa Wonomulyo, Kabupaten Malang, Sabtu (26/9/2026).
“Alhamdulillah, ini ulang tahun yang ke-97 Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Saya berharap LP Ma’arif Kabupaten Malang yang sudah luar biasa ini semakin maju,” kata Lathifah.
Menurut dia, sekolah swasta memiliki posisi strategis, dalam membantu pemerintah memperluas akses pendidikan sekaligus menekan angka anak tidak sekolah. Kapasitas sekolah negeri, kata dia, tidak selalu mampu menampung seluruh kebutuhan masyarakat.
“Sekolah-sekolah swasta ini perannya luar biasa. Saya pernah meminta kepada pemerintah supaya perhatian kepada sekolah swasta juga menjadi prioritas,” tegasnya.
Sekolah Swasta Disebut Aset Negara
Lathifah mengingatkan, kontribusi lembaga pendidikan swasta sudah berlangsung jauh sebelum pemerintah memiliki kemampuan membangun sekolah negeri dalam jumlah besar.
Yayasan-yayasan pendidikan swasta, menurut dia, telah mengambil bagian dalam memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat sekaligus membantu negara mencerdaskan anak bangsa.
“Yang membantu negara ini adalah yayasan-yayasan swasta yang merasa punya tanggung jawab untuk ikut mencerdaskan anak bangsa,” ujarnya.
Karena itu, ketika kemampuan pemerintah semakin besar, dukungan terhadap lembaga pendidikan tidak seharusnya hanya berorientasi pada sekolah negeri.
“Memang negeri miliknya negara. Tetapi swasta ini juga aset, aset negara yang dibina dan dipelihara oleh negara,” jelas Lathifah.

WAKIL Bupati Malang, Hj Lathifah Shohib saat diwawancara awak media. (Foto: Suseno/Malang Post)
Dia mengakui, sekolah negeri tetap memiliki skala prioritas dalam kebijakan pemerintah. Namun, perhatian terhadap sekolah swasta juga diperlukan agar anak-anak memiliki kesempatan memperoleh layanan pendidikan yang layak.
“Saya berharap pemerintah punya perhatian yang sama untuk sekolah-sekolah swasta, sehingga anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan sekolah di negeri, atau memang sejak awal orang tuanya mempersiapkan untuk sekolah di swasta mempunyai akses yang sama untuk mendapatkan pendidikan,” katanya.
Menurut Lathifah, pendidikan merupakan hak setiap anak, sekaligus bagian dari amanat Undang-Undang. Karena itu, akses pendidikan tidak semestinya dibedakan hanya berdasarkan status lembaga pendidikan negeri atau swasta.
Kualitas Ma’arif Dinilai Mampu Bersaing
Lathifah juga memberikan apresiasi terhadap perkembangan lembaga pendidikan Ma’arif NU di Kabupaten Malang. Pengalaman pribadi keluarganya bahkan menjadi salah satu alasan, dia menilai sekolah Ma’arif mampu memberikan pendidikan berkualitas.
“Ma’arif sudah luar biasa di Kabupaten Malang. Anak saya yang pertama dulu SMP-nya di SMP Ma’arif Singosari,” ungkapnya.
Menurut Lathifah, anaknya tersebut mampu menunjukkan prestasi selama menempuh pendidikan di SMP Ma’arif Singosari hingga kemudian melanjutkan pendidikan ke SMA negeri.
“Dia berprestasi, selalu juara, kemudian bisa masuk SMA negeri. Sekarang menjadi dosen di Universitas Negeri Malang dan sudah doktor. Artinya, SMA Ma’arif itu tidak kalah dengan negeri,” tuturnya.
Namun, Lathifah mengingatkan, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh lembaga sekolah. Peran keluarga dalam mendampingi, mengawasi, dan membangun kebiasaan positif anak juga sangat menentukan.
Terlebih di tengah derasnya arus informasi, orang tua dinilai perlu semakin memahami perkembangan pendidikan dan kebutuhan anak.
“Yang penting bagaimana pendampingan orang tua kepada anak-anak, baik itu anak negeri maupun anak swasta. Saya kira peran orang tua itu sangat luar biasa,” katanya.
Karena itu, dia mendorong kolaborasi antara sekolah dan orang tua, termasuk dalam menerapkan berbagai kebiasaan positif bagi anak.
Lathifah mencontohkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat yang sebagian besar penerapannya justru dimulai dari lingkungan keluarga.
“Seperti bangun pagi, olahraga, makanan bergizi, kemudian sosialisasi, beribadah, itu pengawasan orang tua semua. Maka orang tua harus diberitahu bahwa ada program seperti ini. Harus ada kolaborasi antara sekolah dan orang tua,” tegasnya.
Ma’arif Day Diikuti 2.764 Peserta
Sementara itu, Ketua Panitia Puncak Ma’arif Day Imron Syahroni, S.Pd., M.Pd., yang juga Kepala SMK Sunan Ampel (Nusa) Poncokusumo, mengatakan Ma’arif Day menjadi wadah pengembangan talenta dan prestasi peserta didik di lingkungan LP Ma’arif NU Kabupaten Malang.
“Ma’arif Day merupakan kegiatan pengembangan talenta dan prestasi di lembaga-lembaga di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Kabupaten Malang,” jelas Imron.
Tahun ini, rangkaian Ma’arif Day diisi 19 bidang lomba yang melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, hingga kategori umum.
Rangkaian perlombaan berlangsung pada 19–25 September 2026. Dari seluruh rangkaian tersebut, panitia menetapkan juara umum dalam tiga kategori, yakni jenjang SD/MI, SMP/MTs, serta SMA/SMK/MA.
“Untuk peraih medali emas terbanyak adalah SMK Sunan Ampel Poncokusumo,” ungkap Imron.
Secara keseluruhan, perlombaan Ma’arif Day melibatkan 2.764 peserta.
Puncak kegiatan kemudian ditandai dengan Gerak Jalan Sehat di Desa Wonomulyo. Antusiasme peserta dan masyarakat bahkan disebut melebihi jumlah kupon yang disiapkan panitia.
“Kami mencetak 27 ribu kupon untuk Gerak Jalan Sehat. Ternyata yang hadir melebihi kuota,” ujarnya.
Gerak Jalan Sehat tersebut menjadi penutup sekaligus puncak rangkaian Ma’arif Day yang digelar secara tahunan.
“Insyaallah ini yang kedua,” kata Imron.
Kegiatan juga mendapat dukungan Yamaha dengan hadiah satu unit kendaraan. Selain itu, LP Ma’arif NU Kabupaten Malang menyiapkan hadiah umrah bagi peserta.
Puncak Harlah ke-97 LP Ma’arif NU Kabupaten Malang tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran lembaga pendidikan swasta dalam memperluas akses pendidikan sekaligus mendorong prestasi peserta didik.
Bagi Lathifah, penguatan peran tersebut membutuhkan dukungan pemerintah, sekolah, dan keluarga secara bersamaan. Sebab, pendidikan tidak berhenti pada status sekolah, tetapi menyangkut bagaimana setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal. (Suseno/Ra Indrata)




