MALANG POST – Jawa Timur Park Group akan meresmikan Museum Mega Science Center dan Budaya di kawasan Jatim Park 1, Kota Batu, Rabu (16/9/2026), guna menyajikan wisata edukasi interaktif berskala internasional dengan koleksi 617 alat peraga yang diklaim terbanyak di Asia.
Belajar sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan tidak harus selalu berhadapan dengan buku dan ruang kelas. Di Kota Batu, pengalaman tersebut bakal dikemas secara lebih interaktif melalui Museum Mega Science Center dan Budaya milik Jawa Timur Park (JTP) Group.
Destinasi wisata edukasi baru tersebut dijadwalkan peluncurannya (launching) pada Rabu (16/9/2026). Berada di kawasan Jatim Park 1, museum ini berdiri di atas lahan seluas sekitar tiga hektare. Tidak sekadar menyajikan benda koleksi, wisatawan diajak menjelajah perjalanan sejarah, budaya, hingga perkembangan ilmu pengetahuan melalui berbagai alat peraga interaktif.
Begitu memasuki area museum, pengunjung langsung disambut oleh patung Pandawa yang menjadi simbol patriotik. Perjalanan kemudian berlanjut ke sejumlah adegan sejarah, seperti Perang Bharatayudha, Sumpah Palapa Patih Gajah Mada, pertarungan para raja, hingga kemenangan Pandawa.
Dari sana, pengunjung diarahkan menuju zona Glory of Islam. Zona tersebut menyajikan perjalanan sejarah Islam mulai dari Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Kekhalifahan Abbasiyah, Dinasti Mughal, hingga Kesultanan Utsmaniyah.

Tidak berhenti di situ, jejak perkembangan Islam di Eropa Barat hingga masuknya Islam ke Nusantara juga ditampilkan. Termasuk tokoh-tokoh dari berbagai bangsa yang membawa Islam ke Nusantara, proses penyebarannya, serta penjelasan mengenai masjid-masjid tertua di Nusantara.
Sejumlah kerajaan dan kesultanan Islam di Indonesia juga mendapatkan ruang, mulai dari Samudera Pasai, Kesultanan Aceh, jejak awal Islam di Majapahit, Wali Songo, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, hingga Kerajaan Kalinyamat.
Perjalanan kemudian berlanjut pada sejarah perkembangan Islam di berbagai wilayah Nusantara, seperti Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Sumatra, dan daerah lainnya. Pengunjung juga bisa mengenal Kasunanan Surakarta Hadiningrat serta Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Menariknya, informasi di zona tersebut tidak hanya disajikan melalui tulisan. Pengunjung dapat menggunakan teknologi pemindaian kenyataan tertambah (augmented reality/AR scan) dan QR movie untuk memperoleh cerita serta informasi yang lebih terperinci.
Setelah menelusuri sejarah Islam, perjalanan berlanjut menuju kawasan sejarah Tiongkok yang menyajikan berbagai peradaban dan perjalanan sejarah negeri bambu tersebut.

DILAUNCHING: Museum Mega Science Center dan Budaya punya ratusan alat peraga dan menjadi yang terbanyak di Asia, akan dilauching pada 16 September besok. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Berikutnya, pengunjung memasuki Museum Wilwatikta. Di zona ini terdapat sekitar 1.000 artefak budaya yang ditampilkan melalui berbagai koleksi dan patung yang menggambarkan perjalanan sejarah.
Tidak melulu soal sejarah, Museum Mega Science Center dan Budaya juga membawa pengunjung masuk ke dunia sains. Zona astronomi menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Di dalamnya terdapat pertunjukan Tesla. Kemudian ada zona ilusi optik, listrik dan magnet, hingga zona bencana alam yang dilengkapi berbagai alat peraga simulasi.
Pengunjung dapat mencoba simulasi gempa, angin tornado, jembatan gempa, dan sejumlah alat peraga lainnya. Perjalanan kemudian berlanjut ke zona biologi dan robotik. Berbagai jenis robot ditampilkan, termasuk robot anjing cerdas dan robot menari. Ada pula permainan asah otak (brain games) serta mobil balap (race car) yang mengajak pengunjung berinteraksi langsung dengan teknologi.
Manajer Pemasaran dan Hubungan Masyarakat (Manager Marketing and Public Relations) Jatim Park Group, Titik S. Ariyanto, mengatakan bahwa Museum Mega Science Center dan Budaya menjadi destinasi baru yang tetap membawa konsep edukasi sebagai salah satu ciri khas JTP Group.
“Ini adalah salah satu konsep destinasi wisata baru yang ada di bawah naungan Jatim Park Group. Selama ini kami juga konsentrasi (konsen) membangun destinasi wisata berunsur edukasi,” ujarnya, Kamis (10/9/2026).
Titik mengungkapkan bahwa museum tersebut memiliki sekitar 617 alat peraga yang memadukan edukasi sains (science) dan budaya. Jumlah tersebut diklaim menjadi yang terbanyak di Asia dan mengungguli museum sejenis yang ada di Tiongkok.

Selain koleksi sejarah dan alat peraga sains, JTP Group juga menghadirkan pertunjukan budaya. Salah satunya wayang potehi yang saat ini mulai jarang ditemui. “Pertunjukan Srimulat juga sebagai bentuk apresiasi kami bahwa budaya tradisional Indonesia seperti ini tetap harus kita pelihara sampai kapan pun,” tutur Titik.
Ia menyebut pengembangan museum tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan konsep edukasi di Jatim Park 1. Sebab, Jatim Park 1 merupakan destinasi yang menjadi cikal bakal (embrio) berdirinya JTP Group. “Di sini ada zona science center dengan luas sekitar satu hektare. Itu kecil, kemudian kami perbesar di Museum Mega Science Center dan Budaya,” paparnya.
Untuk harga tiket, pengunjung tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Tiket untuk siswa SD ke bawah, termasuk TK dan kelompok bermain (playgroup), dipatok Rp50.000. Harga tersebut berlaku, baik pada hari kerja (weekday) maupun akhir pekan (weekend). Sementara itu, tiket untuk umum dibanderol Rp70.000.
JTP Group juga menyiapkan pra-pembukaan (pre-opening) dengan mengundang pelajar di Kota Batu. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat lokal menjadi yang pertama mengenal destinasi baru tersebut. “Anak sekolah di Kota Batu akan kami undang dalam pra-pembukaan untuk memperkenalkan kepada mereka. Warga Batu harus tahu dulu,” kata Titik.
Titik menegaskan bahwa konsep museum tersebut tidak hanya diarahkan untuk menjadi tempat wisata, melainkan juga sebagai ruang pembelajaran yang dapat terus relevan mengikuti perkembangan zaman.
“Hal yang dibangun oleh Jatim Park Group ini menurut kami adalah salah satu warisan, terutama budaya. Kemudian sains tidak pernah berhenti dan sains ini akan terus dipelajari sampai kita tua mengikuti perkembangan sains,” ujarnya.
Titik optimistis konsep tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan karena sasaran utamanya adalah pelajar yang terus berganti setiap tahun. “Ini adalah proses yang menurut kami strategis. Kami optimistis ini akan berlanjut seterusnya karena anak-anak sekolah itu datang, lulus, datang lagi, lulus, dan seterusnya. Mereka harus mempelajari dinamika ilmu pengetahuan yang ada di sekitar kita dan bisa dipelajari secara langsung di tempat ini,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




