MALANG POST – Kebutuhan akan wadah penyimpanan ikan yang mampu mempertahankan kesegaran hasil tangkapan mendorong tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Negeri Malang (UM) menciptakan HUSKIVA BAG. Produk yang dikembangkan oleh tim di bawah pimpinan Ulfa Nur Azizah bersama dosen pendamping Dyah Palupi Rohmiati, M.Pd., ini memadukan pemanfaatan limbah sabut kelapa dengan teknologi insulasi termal berlapis.
Gagasan pengembangan HUSKIVA BAG muncul dari permasalahan nyata yang dihadapi pemancing sport fishing selama berada di perairan. Dalam satu kali trip pemancingan, para pemancing rata-rata menghabiskan waktu sekitar lima jam, dengan kurang lebih empat jam di antaranya difokuskan untuk aktivitas memancing. Selama kurun waktu tersebut, hasil tangkapan membutuhkan wadah khusus yang mampu menjaga kualitas dan kesegarannya hingga kembali ke daratan.
Kebutuhan tersebut diperkuat melalui survei empiris terhadap 187 responden dari 10 komunitas pemancing. Hasil survei menunjukkan beberapa kendala utama yang kerap dialami pengguna, di antaranya kondisi mutu ikan yang menurun, timbulnya bau amis menyengat, hingga penggunaan wadah penyimpanan konvensional yang dinilai kurang praktis dan menyulitkan mobilitas.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Ulfa bersama tim mengoptimalkan potensi sabut kelapa sebagai komponen utama insulasi. Sebelum diolah, sabut kelapa terlebih dahulu melalui proses perlakuan alkali (alkali treatment) untuk meningkatkan kekuatan karakteristik serat sekaligus memaksimalkan daya insulasi termalnya.
Serat sabut kelapa tersebut kemudian dikombinasikan dengan beberapa lapisan material pendukung, yaitu aluminium foil, kain parasut tempel, dan poliester 300D. Kombinasi ini membentuk sistem insulasi termal berlapis yang efisien dalam mempertahankan suhu dingin ruang penyimpanan.
“Kami ingin menghadirkan wadah penyimpanan ikan yang tidak hanya praktis digunakan oleh pemancing, tetapi juga memiliki inovasi dari sisi material. Sabut kelapa kami manfaatkan sebagai bagian dari insulasi termal sehingga material tersebut memiliki nilai guna yang lebih tinggi,” ujar Ulfa.
Bertahan Hingga 72 Jam dan Desain Ergonomis
Selain mengedepankan fungsi penyimpanan, tim PKM UM juga merancang produk yang responsif terhadap aktivitas luar ruangan (outdoor). HUSKIVA BAG didesain dengan konstruksi yang ringan, fleksibel, serta mendukung pergerakan pemancing di lapangan.

Dari segi fitur eksterior, tas ini dilengkapi dengan pegangan multifungsi (handle), gantungan peralatan (hook holder), serta tali bahu (shoulder strap) yang dapat disesuaikan. Sementara pada bagian interior, lapisan tas dibuat kedap air (waterproof) sehingga mempermudah proses pembersihan dari sisa es maupun cairan ikan.
“Kami berusaha agar inovasi ini tidak berhenti pada fungsi penyimpanan saja. Dari sisi desain, kami juga mempertimbangkan bagaimana tas ini bisa dibawa dengan lebih mudah dan digunakan dalam aktivitas pemancingan,” jelas Ulfa.
Sistem insulasi berlapis pada HUSKIVA BAG teruji efektif menjaga kestabilan suhu interior, dengan kemampuan menjaga kesegaran ikan hingga durasi 72 jam.
Produk ini hadir dalam dua variasi ukuran:
- Varian Medium: Kapasitas 23 liter dengan dimensi 40 × 24 × 24 sentimeter.
- Varian Large (Besar): Dimensi 60 × 40 × 35 sentimeter untuk menampung tangkapan berukuran lebih besar.
Mendukung Pencapaian SDGs dan Inovasi Pendanaan PKM
Pemanfaatan sabut kelapa menjadi nilai tambah utama dari inovasi ini. Bahan yang sebelumnya sering dikategorikan sebagai limbah pertanian kini diubah menjadi komponen produk teknis yang fungsional dan bernilai ekonomi tinggi.
“Harapannya HUSKIVA BAG dapat menjadi alternatif bagi pemancing yang selama ini masih menggunakan berbagai jenis wadah penyimpanan yang kurang praktis. Kami juga ingin menunjukkan bahwa material seperti sabut kelapa masih dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna,” tutur Ulfa.
Pengembangan HUSKIVA BAG selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui prinsip daur ulang material lokal, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dalam pengembangan teknologi berbasis bahan alam.
Atas keunggulan konsep dan dampak aplikatifnya, inovasi HUSKIVA BAG berhasil meraih hibah pendanaan dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. (M. Abd. Rachman. Rozzi – Januar Triwahyudi)




