MALANG POST – Berawal dari keprihatinan melihat melimpahnya potensi tanaman herbal Indonesia yang belum maksimal diolah dan diserap oleh tubuh, Dr. Anitarakhmi Handaratri, S.T., M.T., berhasil merampungkan studi doktornya di bidang Teknik Kimia (Teknologi Proses) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Juli 2026.
Dosen Program Studi S-1 Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) ini sukses memodifikasi kurkumin—senyawa bioaktif utama pada kunyit dan temulawak—menjadi ukuran nano agar jauh lebih mudah larut dan berkhasiat tinggi bagi kesehatan.
Keberhasilan peneliti Aremanita asal Malang ini sekaligus menegaskan komitmen ITN Malang sebagai kampus berdampak yang terus menghadirkan inovasi teknologi pangan dan kesehatan berbasis potensi lokal.
Kesuksesannya dalam menempuh jenjang doktor ini juga tidak lepas dari arahan serta bimbingan tim promotor, yakni Prof. Dr. Ir. Sumarno, M.Eng., dan Firman Kurniawansyah, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D.
Anita menceritakan, selama ini kebiasaan masyarakat mengolah kunyit atau temulawak dengan cara direbus sebenarnya kurang efektif. Selain senyawa kurkumin sensitif terhadap paparan panas dan cahaya, tingkat kelarutannya di dalam air sangatlah rendah.
Alhasil, dari total kurkumin yang masuk ke tubuh secara oral (diminum), hanya sekitar 20 persen yang berhasil terserap oleh tubuh, sementara 80 persen sisanya terbuang lewat ekskresi.

Dr. Anitarakhmi Handaratri, S.T., M.T.. (Foto: Istimewa)
“Kalau dengan direbus, pigmen warnanya yang punya khasiat antibiotik dan antioksidan itu gampang rusak karena kena panas. Makanya, kami mencari cara yang lebih efektif lewat rekayasa teknologi supaya manfaat kunyit ini bisa diserap maksimal oleh tubuh,” ujar alumnus S-1 dan S-2 ITS Surabaya tersebut saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.
Inovasi Metode UALA dan Lonjakan Antioksidan 15 Kali Lipat
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Anita mengecilkan ukuran partikel kurkumin dari skala mikrometer menjadi skala nanometer, yakni berkisar antara 100 hingga 350 nanometer. Proses rekayasa ini memanfaatkan metode ultrasound-assisted liquid antisolvent (UALA), yaitu penggabungan teknologi gelombang ultrasonik dan sistem antisolven.
Dalam prosesnya, kurkumin dilarutkan dalam diklorometana (DCM) atau aseton, lalu diinjeksikan ke dalam air sebagai antisolven dengan pengadukan mekanis cepat pada variasi suhu dan waktu tertentu. Penggunaan gelombang ultrasonik berfungsi mempercepat pembentukan inti partikel sekaligus mencegah partikel menggumpal kembali.
Menariknya, metode ini dirancang sederhana sehingga dinilai lebih aplikatif dibandingkan metode canggih lain yang berbiaya mahal.
“Bedanya, kalau di luar sana sudah banyak yang memakai homogenizer atau kondisi superkritis. Kami coba pakai pendekatan yang paling sederhana dan ramah proses. Tapi, tantangannya kami harus merakit sendiri alat pengaduk mekanisnya dan menjaga alur injeksi cairan di setiap titik agar konsisten,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, pada penelitian tahun kedua, Anita menambahkan lesitin sebagai bahan alami untuk membungkus (coating) nanopartikel kurkumin. Penambahan lesitin terbukti membuat produk jauh lebih stabil.
Saat diuji pada kondisi tingkat keasaman tubuh (pH 1,2 dan pH 7,4), serta disimpan selama 30 hari, tingkat kelarutan (disolusi) nanokurkumin ini tetap bertahan hingga 84,20 persen.
Uji laboratorium juga mencatat lonjakan aktivitas antioksidan yang signifikan. Nilai IC₅₀ nanokurkumin melonjak drastis hingga lebih dari 15 kali lipat dibandingkan kurkumin biasa tanpa perlakuan ultrasonik.
Tentu perjalanan meraih gelar doktor ini tidak selalu mulus. Anita mengaku naskah jurnal pertamanya sempat ditolak beberapa kali oleh jurnal internasional sebelum akhirnya berhasil menembus publikasi bereputasi Scopus Q1 dan Q2.
“Jurnal pertama sempat ditolak beberapa kali sampai harus banyak merevisi. Tapi begitu masuk paper kedua, alhamdulillah langsung diterima,” kenangnya.
Ke depan, Anita berharap hasil riset kinetika disolusi dan pemodelan Response Surface Methodology (RSM) yang dikembangkannya bisa terus dilanjutkan ke tahap rekayasa peralatan industri.
“Penguji kemarin menyarankan agar penelitian ini bisa ditarik lebih jauh ke arah kinetika proses yang terhubung langsung dengan desain alat produksi skala industri.”
“Harapan saya riset ini kelak betul-betul bisa direalisasikan menjadi produk kapsul atau minuman herbal fungsional yang siap dikonsumsi masyarakat,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi – Januar Triwahyudi)




