MALANG POST – Merasa kondisi tubuh sehat justru membuat sebagian warga enggan menjalani pemeriksaan tuberkulosis (TBC). Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan berat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dalam mencegah mata rantai penularan penyakit yang berpotensi menyebar luas di lingkungan keluarga.
Hingga kini, partisipasi masyarakat dalam program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di Kota Batu baru mencapai sekitar 30 persen. Rendahnya cakupan tersebut terutama dipengaruhi oleh sikap anggota keluarga pasien TBC yang menolak diperiksa lantaran merasa tidak mengalami keluhan kesehatan sama sekali.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, menyampaikan bahwa persepsi “merasa sehat” tersebut perlu segera diluruskan. Pasalnya, anggota keluarga yang tinggal serumah atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC aktif merupakan kelompok yang paling berisiko tinggi terpapar bakteri Mycobacterium tuberculosis.
“Yang masih menjadi kendala adalah banyak anggota keluarga pasien menolak diperiksa karena merasa sehat. Padahal mereka merupakan kontak erat yang memiliki potensi tertular,” ujar dr. Icang, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, upaya pengendalian TBC tidak cukup hanya bertumpu pada pengobatan pasien yang sudah terkonfirmasi positif. Orang-orang yang tinggal serumah maupun memiliki kontak erat wajib ikut diperiksa. Apabila dinyatakan memenuhi syarat oleh tenaga medis, mereka disarankan menjalani TPT guna mencegah berkembangnya infeksi laten menjadi TBC aktif.
“Kami tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien TBC, tetapi juga memberikan terapi pencegahan kepada anggota keluarga maupun kontak erat agar penyebaran penyakit dapat dihentikan sedini mungkin,” tegasnya.

SKRINING TBC: Petugas Kesehatan Dinkes Kota Batu saat melakukan skrining TBC, namun banyak masyarakat yang menolak dilakukan skrining karena merasa sehat. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Dinkes Batu Gandeng IDI dan Puskesmas Perluas Skrining
Guna mengejar target eliminasi, Dinkes Kota Batu terus memperluas jangkauan skrining TBC secara masif. Pelaksanaannya mengintegrasikan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (faskes), mulai dari puskesmas, klinik pratama/utama, hingga dukungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Batu.
Kegiatan skrining tersebut difokuskan sebagai bagian dari pelacakan kontak erat (contact tracing) pasien. Masyarakat yang memiliki riwayat kontak dengan penderita TBC diimbau tidak menunggu hingga muncul gejala klinis seperti batuk berdahak panjang untuk memeriksakan diri.
dr. Icang menegaskan bahwa deteksi dini merupakan kunci utama dalam pengendalian TBC. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula tindakan pengobatan medis maupun proteksi pencegahan dilakukan. Dengan begitu, angka penularan di lingkungan keluarga dan masyarakat dapat ditekan secara signifikan.
“Deteksi dini merupakan kunci utama dalam pengendalian TBC. Namun hingga saat ini, jumlah masyarakat yang mengikuti skrining masih belum sesuai dengan yang kami harapkan,” terangnya.
Durasi Pengobatan dan Imbauan Masyarakat
Untuk diketahui, TBC merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui percikan dahak (droplet) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Risiko penularan jauh lebih tinggi ketika seseorang berada dalam kontak dekat dan berdurasi lama di ruangan tertutup tanpa ventilasi memadai.
Sesuai standar penanganan medis nasional:
- Pasien TBC Aktif: Wajib menjalani pengobatan teratur menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) minimal selama 6 bulan berturut-turut hingga tuntas.
- Kontak Erat (Tanpa Gejala): Menjalani program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) selama 3 bulan setelah dinyatakan layak oleh tim medis.
Dinkes Kota Batu mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan pemeriksaan kesehatan hanya karena merasa tidak bergejala, terutama bagi mereka yang pernah atau sedang tinggal serumah dengan pasien TBC.
“Kami berharap masyarakat tidak takut menjalani pemeriksaan. Semakin cepat TBC ditemukan, semakin cepat pula pengobatan dilakukan sehingga risiko penularan kepada keluarga maupun lingkungan sekitar dapat diminimalkan,” pungkas dr. Icang. (Ananto Wibowo)




