MALANG POST – Pelaku usaha di Kota Batu kini memiliki ruang kolaborasi yang semakin terhubung. Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) resmi meluncurkan Perintis Berdaya Connect (PBC) Kota Batu di PLUT KUMKM Kota Batu pada Rabu (26/8/2026).
Program strategis ini menjadi lokasi replikasi perdana PBC setelah sebelumnya diuji coba di Kota Bandung sejak 2025. Konsep dasarnya tidak dibangun dengan gedung baru, melainkan mengoptimalkan fasilitas pemerintah yang telah tersedia—seperti Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT), creative hub, dan co-working space—sebagai pusat terpadu pengembangan usaha masyarakat.
Di Bandung, model ini mencatatkan berbagai performa positif:
- 38 kegiatan peningkatan kapasitas (capacity building)
- 2 fasilitasi business matching
- 2.370 pelaku usaha terlayani (UMKM, ekonomi kreatif, dan koperasi)
- 21 mitra lintas unsur pentahelix terlibat aktif
Praktik baik tersebut kini diboyong ke Kota Batu. Pemilihan lokasi ini tak lepas dari keselarasan visi pembangunan daerah Mbatu Sae (Madani, Berkelanjutan, Agrokreatif, Terpadu, Unggul, Sinergi, Akomodatif, dan Ekologis).

PELUNCURAN: Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A Muhaimin Iskandar saat meluncurkan PBC Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar, menyatakan bahwa PBC merupakan ikhtiar nyata pemerintah untuk mendorong UMKM naik kelas sekaligus memperkuat laju pertumbuhan ekonomi kreatif.
Menurutnya, peran pemerintah tidak harus selalu menjadi pelaksana utama, melainkan beradaptasi sesuai kebutuhan daerah—baik sebagai regulator, pendamping, fasilitator, maupun penyambung akses usaha.
“Kolaborasi ini bagaimana pemerintah menjadi agregator. Masing-masing kota tentu berbeda dalam memainkan peran pemerintah untuk menumbuhkembangkan dan mendorong ekonomi UMKM naik kelas,” ujar Muhaimin.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem tidak cukup hanya mengandalkan pelatihan instan. Pelaku usaha membutuhkan kepastian pasokan bahan baku, kemudahan permodalan, jaringan pemasaran, hingga adopsi teknologi.
“Ini menjadi bagian integral dari penciptaan dan penumbuhan ekosistem sehingga Kota Batu bisa menjadi percontohan bagi peran negara untuk mendorong tumbuh kembang ekonomi UMKM dan ekonomi kreatif,” tegas pria yang akrab disapa Cak Imin tersebut.
Cak Imin juga memuji operasional PLUT Kota Batu yang berjalan secara berkelanjutan. Keberadaan pusat pendampingan yang aktif secara kontinu—bukan sekadar muncul saat ada event—menjadi model ideal yang wajib dipertahankan.
Sinergi Visi Mbatu Sae dan Penguatan Integrasi Lokal
Wali Kota Batu, Nurochman, menyambut hangat penunjukan Kota Batu sebagai garda depan replikasi PBC. Kehadiran program ini dinilai sangat koheren dengan karakter Kota Batu sebagai destinasi pariwisata dan agropolitan yang ditopang oleh kekuatan UMKM, koperasi, serta ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
“Bagi kami, pemberdayaan bukan sekadar menambah jumlah pelaku usaha, melainkan bagaimana usaha yang sudah tumbuh dapat naik kelas, semakin mandiri, mampu memanfaatkan teknologi, memperluas pasar, dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” papar Cak Nur, sapaan akrab Nurochman.
Pemkot Batu sendiri terus memperkuat daya dukung PLUT-KUMKM. Terbukti, PLUT-KUMKM Kota Batu sukses mengait penghargaan sebagai konsultan terbaik se-Indonesia sekaligus PLUT dengan kinerja terbaik secara nasional pada ajang PLUT Award 2024.
Selain itu, Pemkot Batu memiliki program pendampingan intensif 365 UP, yang memfasilitasi 40 UMKM terkurasi selama 365 hari penuh mencakup aspek legalitas, manajemen, pemasaran, digitalisasi, hingga pengembangan bisnis.
Melalui PBC, PLUT Kota Batu didorong menjadi One Stop Business Development Ecosystem. Berbagai simpul kekuatan lokal diintegrasikan dalam satu jejaring:
- Generasi Muda: Dihubungkan melalui Cafe Cubees dan Karang Taruna.
- Koperasi & Agregasi: Diwadahi oleh Dekopinda dan CooSAE.
- Kreativitas & Produk: Diakselerasi oleh Komite Ekonomi Kreatif dan Rumah Kemasan.
- Rantai Pasok & Talenta: Ditopang oleh cold storage pertanian dan Magang Hub.
“PBC menjadi connector sekaligus orchestrator, agar semuanya tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan. Sehingga kebutuhan pelaku usaha dapat bertemu dengan solusi, produk bertemu pasar, talenta bertemu dunia kerja, dan potensi lokal bertemu jejaring yang lebih luas,” terang Cak Nur.
Implementasi PBC Batu menggalang kolaborasi multidimensi antara Pemkot Batu, PLUT KUMKM Batu sebagai basis operasional, Batu Creative Hub, Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu, CooSAE, serta Rumah BUMN Malang.
Cak Nur berharap PBC menjadi wadah kolaborasi yang benar-benar hidup serta berdampak langsung bagi UMKM, koperasi, pelaku ekraf, petani, hingga generasi muda.
“Manfaatkan ruang ini. Perluas jejaring. Tingkatkan kapasitas. Dan teruslah naik kelas. Semoga PBC Batu menjadi bagian dari perjalanan kita membangun masyarakat Kota Batu yang mandiri, produktif, inovatif, dan semakin berdaya saing,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




