MALANG POST – Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menargetkan program Angkutan Pelajar Gratis beranggaran Rp1,9 miliar untuk 90 unit angkutan kota (angkot) mulai beroperasi resmi paling lambat 1 September 2026.
Program pembenahan transportasi publik bagi kaum pelajar di Kota Malang akhirnya menemukan titik terang. Setelah sempat tertunda, angkutan gratis ini siap mengaspal dalam waktu dekat.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Drs. R. Widjaja Saleh Putra, membeberkan kepastian jadwal tersebut.
Dalam perbincangan Talkshow Radio City Guide, Widjaja menegaskan bahwa armada angkutan pelajar gratis ditargetkan mengangkut siswa paling lambat pada 1 September 2026.
Mundurnya jadwal peluncuran dari rencana awal pada Juli lalu bukan tanpa alasan. Proses penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) membutuhkan waktu penyelarasan yang cukup cermat di tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Pemkot Malang tidak main-main dalam menyiapkan program sosial ini. Anggaran jumbo sebesar Rp1,9 miliar telah dialokasikan murni dari APBD.
Dana tersebut disiapkan untuk membiayai operasional sekitar 90 unit angkot yang akan melayani 15 rute sekolah.
”Keterlambatan jadwal peluncuran akibat proses penyusunan Peraturan Wali Kota yang membutuhkan penyelarasan di provinsi. Anggaran Rp1,9 miliar siap mengoperasikan 90 unit angkot,” kata Widjaja, Rabu (26/8/2026).
Skema teknis di lapangan ikut dimatangkan oleh pihak Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Malang.
Sekretaris Organda Kota Malang, Purwono Tjokro Darsono, mengusulkan skema rolling rute mingguan bagi seluruh armada yang bertugas.
Rotasi jadwal perjalanan ini sangat penting untuk menjaga pemerataan pendapatan para sopir. Pasalnya, terdapat kesenjangan jarak rute yang cukup lebar di lapangan, mulai dari 16 hingga 40 kilometer.
Dengan nilai subsidi pemerintah sebesar Rp6.300 per kilometer, sistem rotasi dipandang krusial. Maksudnya agar tidak memicu gesekan atau kecemburuan sosial antar pengemudi.
”Sistem rotasi ini sangat krusial agar tidak memicu potensi konflik atau kecemburuan sosial antar pengemudi akibat perbedaan jarak rute,” tutur Purwono.
Sisi pengawasan layanan juga diperketat secara digital. Sebanyak 73 armada angkutan pelajar saat ini sudah rampung dipasangi perangkat GPS tracker.
Teknologi ini memungkinkan pemantauan posisi armada secara real time.
Jika armada di lapangan kedapatan terlambat dari jadwal penjemputan, pihak operator akan langsung menerjunkan armada cadangan ke lokasi.
Seluruh pengemudi wajib mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan khusus.
Sopir dilarang keras merokok saat membawa siswa. Pengemudi juga diwajibkan mengantongi sertifikasi Sistem Manajemen Keselamatan Penumpang Umum (SMKPU).
Sementara itu, dari kacamata akademisi, Kepala Laboratorium Transportasi FT Universitas Brawijaya, Ir. Hendi Bowoputro, memberikan catatan strategis.
Hendi menyarankan agar efektivitas rute dievaluasi berkala melalui pemantauan tingkat keterisian penumpang (load factor).
Pengembangan trayek bisa meniru pola sukses Kota Batu. Pengoperasian dimulai dari trayek utama terlebih dahulu, lalu disesuaikan secara dinamis.
Hendi bahkan melihat peluang besar di luar jam sekolah. Armada angkot ini berpotensi dikembangkan menjadi angkutan pasar untuk melayani kebutuhan masyarakat luas.
”Evaluasi rute berkala penting dilakukan. Ke depan, program ini berpotensi dikembangkan menjadi angkutan pasar di luar jam sekolah,” pungkas Hendi. (Iqbal Dzuqarnain/Ra Indrata)




