MALANG POST – Capai 81 persen hingga pertengahan 2026, Dispendukcapil Kota Batu intensifkan strategi jemput bola di sekolah dan diskon wisata demi tuntaskan KIA 10.009 anak.
Kesadaran orang tua di Kota Batu untuk melengkapi identitas kependudukan anak terus meningkat. Hingga pertengahan 2026, kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) tercatat sudah mencapai 81 persen.
Dari total 52.680 anak yang menjadi sasaran, sebanyak 42.671 anak telah memiliki KIA. Artinya, masih ada 10.009 anak atau sekitar 19 persen yang belum mengantongi kartu identitas tersebut.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Batu Wiwik Nuryati menyampaikan bahwa capaian tersebut menunjukkan semakin baiknya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya dokumen kependudukan bagi anak.
“Capaian ini menunjukkan pemahaman masyarakat sudah semakin baik,” ujar Wiwik, Kamis (20/8/2026).
Kendati demikian, mengejar sisa 19 persen bukan perkara mudah. Salah satu kendalanya adalah belum adanya regulasi sanksi yang mengikat bagi masyarakat yang belum memiliki KIA. Kondisi itu membuat sebagian orang tua belum menjadikan pengurusan KIA sebagai kebutuhan mendesak.

JEMPUT BOLA: Dispendukcapil Kota Batu saat melakukan jemput bola, agar semua anak-anak Kota Batu memiliki KIA. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Salah satu tantangannya karena tidak ada sanksi yang mengikat, sehingga kesadaran masyarakat mengurus KIA secara mandiri masih relatif rendah,” jelasnya.
Kondisi serupa juga terlihat dalam layanan administrasi publik. KIA belum sepenuhnya menjadi persyaratan mutlak di berbagai sektor, termasuk dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang belum seluruhnya mewajibkan kepemilikan kartu identitas tersebut.
Oleh karena itu, Dispendukcapil Kota Batu tidak hanya menunggu masyarakat datang ke kantor pelayanan. Strategi jemput bola terus diperkuat dengan menyasar langsung lembaga-lembaga pendidikan.
Layanan jemput bola tersebut dilakukan secara masif mulai dari tingkat PAUD, TK, hingga SMP. Sekolah menjadi lokasi strategis karena petugas dapat menjangkau sasaran anak dalam jumlah banyak sekaligus.
Pola pelayanan ini terbukti efektif mendongkrak capaian kepemilikan KIA di Kota Batu. Orang tua tidak perlu secara khusus meluangkan waktu datang ke kantor Dispendukcapil karena proses pengurusan difasilitasi penuh melalui pihak sekolah.

Tak hanya mengandalkan kemudahan layanan, Pemkot Batu juga berupaya membuat KIA semakin bernilai bagi anak dan orang tua. Sejumlah pelaku usaha UMKM maupun pengelola destinasi wisata diajak bekerja sama memberikan keuntungan (benefit) berupa potongan harga khusus bagi pemegang KIA.
“Kepemilikan KIA memberikan berbagai keuntungan langsung bagi anak,” kata Wiwik.
Skema insentif tersebut diharapkan membuat KIA tidak sekadar dipandang sebagai kartu identitas administratif semata, melainkan juga memberikan kemudahan nyata saat mengakses berbagai fasilitas rekreasi maupun pelayanan komersial.
Di sisi lain, KIA tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai identitas resmi anak. Dokumen ini dibutuhkan untuk mempermudah anak memperoleh akses terhadap pelayanan publik dasar, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga jaminan perlindungan anak.
“Mulai dari akses fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga jaminan perlindungan hukum,” imbuh Wiwik.
Dengan capaian 81 persen, Dispendukcapil Kota Batu kini fokus menyelesaikan pekerjaan rumah untuk menuntaskan kepemilikan KIA bagi 10.009 anak tersisa. Integrasi layanan jemput bola di sekolah serta perluasan kemitraan benefit KIA menjadi strategi utama untuk mengejar target cakupan 100 persen.
Langkah ini menegaskan bahwa sejak usia dini, setiap anak di Kota Batu berhak tercatat secara sah dan memiliki identitas kependudukan resmi sebagai warga negara. (*/Ananto Wibowo)




