JAJARAN pimpinan dekanat Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) tahun 2026 dipimpin oleh Dekan Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM. (Foto: M. Abd. Rachman Rozzi/Malang Post)
MALANG POST – Buka penerimaan Jalur Mandiri Penyandang Disabilitas (SMPD) dan terima enam mahasiswa baru disabilitas pada 2026, Dekan FILKOM UB Ir. Tri Astoto Kurniawan tegaskan komitmen pendidikan inklusif berstandar SPMI.
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menegaskan komitmennya dalam menyediakan akses pendidikan yang setara, inklusif, dan berkeadilan bagi seluruh calon mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas.
Komitmen ini diwujudkan mulai dari jalur penerimaan, penyediaan fasilitas ramah disabilitas, hingga pendampingan selama masa studi.
Dekan FILKOM UB Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM. menegaskan bahwa prinsip inklusivitas merupakan bagian inti dari penyelenggaraan pendidikan di lingkungannya.
“Kami berkomitmen memastikan setiap calon mahasiswa memiliki kesempatan setara untuk memperoleh pendidikan tinggi, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas. Dukungan tidak hanya diberikan pada proses penerimaan, melainkan juga berlanjut selama kegiatan akademik dan nonakademik,” ujar Tri Astoto, Kamis (13/8/2026).

KESETARAAN: Tahun 2026, sedikitnya enam mahasiswa penyandang disabilitas telah diterima melalui SPKPD di Filkom UB. (Foto: Istimewa)
Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut tercermin pada Program Studi S1 Pendidikan Teknologi Informasi (PTI). Prodi ini membuka pintu luas bagi calon mahasiswa dari berbagai latar belakang tanpa membedakan suku, agama, ras, asal wilayah, maupun kondisi fisik.
Pelaksanaannya mengacu pada regulasi nasional serta tata kelola UB yang memenuhi standar mutu BAN-PT dan Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK), serta terintegrasi dengan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).
Khusus bagi calon mahasiswa disabilitas, S1 PTI FILKOM UB menyediakan Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas (SMPD). Jalur ini dirancang untuk menilai potensi akademik dan kapabilitas calon mahasiswa sekaligus mengidentifikasi kebutuhan aksesibilitas mereka. Dalam prosesnya, peserta mengikuti seleksi administratif dan asesmen kapabilitas yang didampingi oleh tim ahli.
“Seleksi ini tidak melihat keterbatasan, melainkan potensi, kemampuan, dan kesiapan calon mahasiswa untuk berkembang di bidang teknologi informasi,” jelas Tri Astoto.
Untuk menunjang proses belajar, FILKOM UB terus memperkuat sarana dan prasarana. Hal ini mencakup aksesibilitas ruang kelas, laboratorium, fasilitas umum, hingga materi pembelajaran digital yang adaptif.
Mahasiswa disabilitas juga mendapat layanan bimbingan konseling, pendampingan personal, serta penyesuaian saat menjalani praktikum di sekolah mitra maupun dunia industri.
Tri Astoto menekankan bahwa pendidikan inklusif harus dibangun secara menyeluruh. Oleh karena itu, FILKOM UB rutin menggelar monitoring dan evaluasi (monev) berkala melalui audit internal mutu, tinjauan manajemen, serta survei kepuasan.
“Kami ingin membangun lingkungan akademik yang memberi ruang bagi setiap mahasiswa untuk berkembang optimal. Evaluasi terus dilakukan agar layanan semakin responsif,” pungkasnya.
Pada tahun 2026 ini, tercatat sedikitnya ada enam mahasiswa penyandang disabilitas yang diterima di FILKOM UB melalui jalur Seleksi Penerimaan Keuangan/Kemitraan dan Penyandang Disabilitas (SPKPD/SMPD). (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




