JEEP ADVENTURE: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat menikmati keseruan Jeep Adventure di Bukit Jengkoang, Desa Wisata Bulukerto. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Mengombinasikan olahraga offroad, konservasi Elang Jawa, dan agrowisata kopi, Pemdes Bulukerto bersama Disparta Kota Batu kembangkan Desa Wisata Bulukerto berbasis sustainable agriculture.
Lereng Gunung Arjuno menyimpan cara lain menikmati Kota Batu. Bukan sekadar memandangi pegunungan, wisatawan diajak menyusuri kebun, menembus jalur offroad, mengamati burung liar hingga menikmati segarnya mata air.
Semua pengalaman itu dirangkai Desa Wisata Bulukerto dalam konsep wisata berbasis alam dan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Lanskap pertanian yang hijau, udara sejuk, hingga sumber mata air alami berpadu menjadi pengalaman wisata yang berbeda dari destinasi perkotaan.
Potensi tersebut kini terus dikembangkan. Tidak sekadar mengandalkan panorama alam, berbagai aktivitas wisata disiapkan agar wisatawan bisa menikmati desa secara lebih dekat.
Salah satu yang menjadi daya tarik adalah paket wisata olahraga otomotif (motorsport). Pengunjung bisa menjelajahi jalur pedesaan menggunakan ATV, motor trail, maupun mobil jip offroad.
Kepala Desa Bulukerto Suhermawan mengatakan, wisatawan diajak menyusuri sejumlah kawasan dengan pemandangan khas pegunungan. Rute tersebut antara lain mengarah dari Gunung Pucung hingga Bukit Jengkoang.
“Kami menyuguhkan kepada pengunjung untuk menikmati potensi wisata alam dengan jip offroad. Paket wisata ini tentunya menjadi hal yang berbeda dengan wisata lainnya,” kata Suhermawan, Rabu (12/8/2026).
Menurut dia, wisatawan tidak hanya mendapatkan pengalaman berkendara. Sepanjang perjalanan, mereka bisa menikmati hamparan lahan pertanian dan lanskap pegunungan yang menjadi karakter Desa Bulukerto.
Bagi wisatawan yang menginginkan aktivitas lebih santai, ATV bisa menjadi pilihan. Sementara motor trail dan jip disiapkan bagi pengunjung yang ingin merasakan tantangan lebih.

NYORE: Wisatawan saat ngecamp di kawasan Bukit Jengkoang, dengan lanskap suasana sore hari. (Foto: Istimewa)
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya desa mengemas potensi alam menjadi pengalaman wisata. Masyarakat tidak ditempatkan sekadar sebagai penonton, melainkan ikut terlibat dalam pengelolaan dan aktivitas pariwisata.
Potensi Desa Wisata Bulukerto tidak berhenti pada wisata petualangan. Kawasan hutan di lereng Gunung Pucung juga dikembangkan sebagai lokasi pengamatan burung (bird watching).
Kawasan tersebut dikenal sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Keberadaan satwa yang dilindungi itu sekaligus menjadi bagian penting dari upaya menjaga ekosistem kawasan.
Konsep konservasi tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan pertanian berkelanjutan. Salah satunya melalui pengembangan kopi Arabika di kawasan pegunungan.
Suhermawan mengatakan, pengembangan kopi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi lahan pertanian. Tanaman kopi juga diharapkan mendukung konservasi lingkungan karena dibudidayakan dengan sistem tumpang sari. Sistem budidaya yang diterapkan masyarakat turut memengaruhi kualitas panen dan cita rasa kopi yang dihasilkan.
Konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan Desa Wisata Bulukerto sebagai desa wisata berbasis konservasi alam dan sustainable agriculture.
Salah satu destinasi yang lebih dulu dikenal pencinta alam adalah Wisata Alam Bukit Jengkoang. Kawasan perbukitan tersebut menawarkan panorama pegunungan dengan latar hutan pinus dan perkebunan warga.
Suasananya relatif tenang. Pengunjung dapat menikmati lanskap pegunungan dan hamparan kebun sayur yang menjadi ciri khas wilayah Bumiaji. Aktivitas yang bisa dilakukan pun beragam. Mulai trekking ringan, berkemah, hingga berburu foto dengan latar alam pegunungan.

SEGAR: Pemuda Kota Batu saat menikmati kesegaran alami dari sumber mata air Umbul Gemulo di Desa Wisata Bulukerto. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Tidak kalah menarik adalah Sumber Umbul Gemulo. Mata air tersebut telah menjadi salah satu pilihan warga dan wisatawan untuk bermain air. Kolam sumber memiliki kedalaman sekitar satu meter dengan luas kurang lebih 100 meter persegi. Airnya jernih sehingga dasar kolam dapat terlihat dengan jelas.
Selain wisata alam, Bulukerto juga memiliki potensi wisata budaya. Salah satunya Punden Mbah Jagal Abilowo di Punden Kasepuhan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya desa.
Untuk menggerakkan seluruh potensi tersebut, Pemdes Bulukerto membentuk tim kelembagaan tersendiri. Tim penggerak pariwisata ini diharapkan menjadi ujung tombak pengembangan destinasi sekaligus membuka ruang lebih besar bagi partisipasi masyarakat.
Pengembangan Desa Wisata Bulukerto juga mendapat dukungan dari Pemkot Batu melalui Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu.
Kepala Disparta Kota Batu Onny Ardianto mengatakan, pengembangan desa wisata dilakukan melalui berbagai program pembinaan. Pendampingan tidak hanya menyasar atraksi, melainkan juga sumber daya manusia, kelembagaan, pemasaran hingga infrastruktur.
“Salah satunya melalui bimbingan teknis dan peningkatan kapasitas SDM. Pengelola, termasuk Pokdarwis dan BUMDes, didorong memiliki kemampuan pelayanan wisata atau hospitality, bahasa asing, storytelling, hingga mitigasi bencana pariwisata,” tuturnya.
Penguatan tata kelola dan kelembagaan juga menjadi perhatian. Pendampingan diarahkan pada transparansi manajerial, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta regulasi desa agar pengelolaan destinasi semakin profesional dan akuntabel.
“Kami mendorong desa wisata agar tidak hanya memiliki atraksi, melainkan juga mempunyai tata kelola yang baik, SDM yang siap, serta produk wisata yang mampu memberikan pengalaman bagi pengunjung,” ujar Onny.
Dari sisi pemasaran, Disparta mendorong setiap desa menemukan unique selling proposition (USP) atau keunggulan yang menjadi pembeda. Potensi seperti wisata petik apel, kriya lokal, agrowisata bunga hingga olahraga ekstrem kemudian dapat dikemas melalui identitas visual dan kampanye digital.
Promosi juga dilakukan melalui fun trip atau familiarization trip (famtrip). Langkah berikutnya adalah mendorong kenaikan kategori desa wisata. Mulai dari Rintisan, Berkembang, Maju hingga Mandiri sesuai indikator yang digunakan dalam pengembangan desa wisata dan jejaring pariwisata nasional.
“Penguatan infrastruktur turut menjadi bagian dari dukungan tersebut. Mulai akses jalan, penunjuk arah, hingga amenitas publik seperti toilet, balai pertemuan, serta fasilitas pendukung atraksi wisata,” imbuhnya.
Tidak berhenti di level nasional, desa-desa wisata berpotensi juga didorong mengikuti berbagai ajang tingkat nasional maupun ASEAN. Keikutsertaan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) maupun ajang pariwisata tingkat ASEAN diharapkan dapat menjadi sarana validasi kualitas sekaligus memperluas eksposur. (Adv/Ananto Wibowo)




