MALANG POST – Menempuh magister di Rusia dan menjadi penerjemah lintas budaya, alumnus UM Yudhistira Pramana Adji tekankan pentingnya pustakawan berevolusi menjadi mediator pengetahuan di era AI.
Di tengah ledakan informasi dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kemampuan mengelola, memverifikasi, dan memahami informasi justru semakin dibutuhkan.
Prinsip tersebut dibuktikan oleh perjalanan Yudhistira Pramana Adji, alumnus Ilmu Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM) yang melanjutkan studi magister di Saint Petersburg State Institute of Culture, Rusia, sekaligus berkiprah sebagai penerjemah lintas budaya.
Awalnya, Yudhis mengira ilmu perpustakaan hanya seputar pengelolaan buku. Namun, pandangannya berubah setelah mendalami perkuliahan.
“Saya tertarik pada bagaimana informasi dikelola, koleksi dilestarikan, dan pengetahuan tetap tersedia untuk generasi berikutnya,” ungkapnya, Selasa (11/8/2026).
Baginya, perpustakaan berperan penting menjaga memori masyarakat agar tetap dapat diakses. Pengalaman di luar kelas selama kuliah di UM—seperti berorganisasi, bekerja dalam tim, dan membangun jejaring—sangat membentuk kapasitas dirinya.
“Lulusan Ilmu Perpustakaan tidak cukup hanya pintar secara teknis. Mereka harus mampu berkomunikasi, membangun networking, dan beradaptasi,” tegasnya.
Rusia dipilih karena tradisi perpustakaan dan kebudayaannya yang panjang, sekaligus sebagai langkah untuk keluar dari zona nyaman.
“Dipaksa belajar dari awal di negara dengan bahasa dan budaya berbeda adalah proses yang sangat berharga,” tuturnya.

ANDALAN: Yudhistira Pramana Adji, S.IP. (paling kiri) bersama Rektor UM Prof. Hariyono saat mendampingi Prof. Connie Rahakundini Bakrie dalam acara PKKMB UM 2026. (Foto: Istimewa)
Ia melihat pembelajaran di Indonesia sangat dekat dengan kebutuhan praktis, sedangkan di Rusia perpustakaan dipandang sebagai sistem sosial, ilmiah, dan teknologi. Ia tidak menganggap salah satu lebih unggul, sebab perbedaan persepsi tersebut justru memperluas pemahamannya.
Sebagai penerjemah, Yudhis menegaskan bahwa pekerjaannya tidak sekadar mengubah kata. “Penerjemahan berkaitan dengan memahami manusia dan konteks, bukan cuma bahasa,” ujarnya. Latar belakang Ilmu Perpustakaan sangat membantunya dalam mencari, memilah, dan memverifikasi informasi secara akurat.
Menghadapi perkembangan AI, Yudhis justru melihat peluang besar. “Persoalan masyarakat saat ini bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan melimpahnya informasi yang belum tentu benar,” terangnya.
Pustakawan kini dituntut membantu masyarakat mengevaluasi kredibilitas sumber serta memanfaatkan AI secara bertanggung jawab. “AI bukan ancaman. Yang menjadi ancaman justru kalau kita tidak ikut berkembang,” tegasnya.
Ia menekankan tiga kompetensi kunci yang harus dimiliki mahasiswa saat ini, yakni pengelolaan informasi, penguasaan teknologi, dan komunikasi. Ia juga mendorong para lulusan agar tidak membatasi diri pada profesi pustakawan konvensional, sebab kompetensi ini sangat relevan di bidang kearsipan, riset, digitalisasi, hingga knowledge management.
“Sekarang saya melihat pustakawan bukan lagi sekadar pengelola koleksi, melainkan mediator pengetahuan,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




