MALANG POST – Melalui PPK Ormawa Kemendiktisaintek, Himagri UMM mengusung inovasi Craft-Hub untuk menyulap tanaman mendong di Desa Blayu, Wajak, menjadi produk eco-living bernilai jual tinggi.
Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi pemanfaatan tanaman mendong menjadi berbagai produk ramah lingkungan (eco-living product) melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).
Kegiatan yang berlangsung di Desa Blayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang sejak Juli hingga September 2026 ini merupakan program pengabdian masyarakat yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa).
Mengusung tema “Craft-Hub”, program tersebut diarahkan untuk menghidupkan kembali potensi ekonomi Desa Blayu sebagai sentra kerajinan mendong.
Sejak lama, Desa Blayu dikenal sebagai daerah penghasil mendong yang menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu, kejayaan komoditas tersebut mulai memudar akibat terbatasnya inovasi produk, menurunnya permintaan pasar, serta berkurangnya minat masyarakat dalam membudidayakan tanaman mendong.

Salah satu anggota tim mahasiswa, Adryan Rizky, menjelaskan bahwa konsep desa wirausaha dipilih berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat setempat. Menurutnya, program ini tidak hanya berfokus pada pengembangan produk berbahan mendong, melainkan juga memperluas akses pemasaran sekaligus mengembalikan posisi mendong sebagai komoditas unggulan Desa Blayu.
”Dari hasil pengamatan kami, Desa Blayu memiliki potensi besar yang belum dimaksimalkan. Melalui program ini, kami ingin menghadirkan inovasi produk, memperluas pasar, dan mengangkat kembali mendong sebagai identitas ekonomi desa,” ungkapnya.
Dengan dukungan pendanaan serta pendampingan dari Belmawa Kemendiktisaintek, tim mahasiswa berupaya meningkatkan nilai ekonomi tanaman mendong melalui berbagai pelatihan. Masyarakat dibekali pengetahuan mengenai manajemen usaha, penyusunan harga pokok produksi (HPP), strategi branding, hingga pemasaran digital.
Selain itu, tanaman mendong dikembangkan menjadi aneka produk bernilai tambah seperti tas, sandal hotel, dekorasi interior, serta aksesori berbahan alami yang sesuai dengan tren gaya hidup berkelanjutan.

Dosen Pembimbing Lapangan Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P. mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menilai bahwa penguatan identitas Desa Blayu perlu dilakukan melalui inovasi yang mampu mengikuti perkembangan pasar tanpa menghilangkan nilai-nilai lokal yang telah diwariskan masyarakat.
”Tren konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, melainkan juga aspek keberlanjutan dan cerita di balik proses pembuatannya. Karena itu, kami mengembangkan mendong menjadi eco-living product agar memiliki daya saing yang lebih tinggi sekaligus memperkuat identitas Desa Blayu,” jelas Festy.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, mahasiswa UMM juga membentuk kelompok usaha baru yang akan memperoleh pendampingan mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Kolaborasi antara Kemendiktisaintek, perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan dampak jangka panjang.
Melalui program ini, potensi ekonomi Desa Blayu diharapkan kembali tumbuh, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman nyata dalam pemberdayaan masyarakat sekaligus mengasah jiwa kewirausahaan yang berorientasi pada solusi dan keberlanjutan. (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




