MALANG POST – Menatap Porprov Jatim 2027 di Surabaya, KONI Kota Batu bergerak cepat menggelar regenerasi dan pemusatan latihan setelah terancam kehilangan 35 atlet andalan peraih medali akibat terbentur aturan batas usia.
Regenerasi. Itulah pekerjaan rumah terbesar yang kini dihadapi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Batu. Menatap Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim 2027 di Surabaya, organisasi olahraga itu harus rela kehilangan sekitar 35 atlet andalan yang selama ini menjadi tulang punggung prestasi. Penyebabnya bukan cedera atau pindah daerah, melainkan terbentur batas usia.
Kondisi tersebut membuat KONI Kota Batu bergerak cepat. Program regenerasi langsung digeber bersamaan dengan persiapan menuju pesta olahraga terbesar di Jawa Timur itu.
Ketua KONI Kota Batu Sentot Ari Wahyudi mengatakan, sekitar 35 atlet yang tampil pada Porprov Jatim 2025 dipastikan tidak bisa kembali memperkuat Kota Batu pada edisi 2027. Oleh karena itu, setiap cabang olahraga (cabor) diminta segera melakukan seleksi atlet baru sesuai kebutuhan masing-masing.
”Proses seleksi kami serahkan kepada cabor. Mereka yang paling memahami potensi atletnya. Memang kapasitas atlet nantinya akan berkurang dibandingkan tahun 2025,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Di saat bersamaan, KONI mulai menggelar pemusatan latihan (puslat) sebagai langkah awal membangun kekuatan baru. Program tersebut berlangsung mulai awal Agustus hingga Oktober 2026 dengan melibatkan atlet-atlet peraih prestasi pada Porprov Jatim 2025 yang masih memenuhi syarat usia.

RAIH MEDALI: Jajaran atlet Kota Batu yang berhasil mempersembahkan medali Porprov IX Jatim untuk Kota Batu, di Porprov X ada 35 atlet andalan Kora Batu yang dipastikan tidak tampil. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sentot menjelaskan, sebelum memasuki program latihan, seluruh atlet telah menjalani tes VO2 max untuk mengukur tingkat kebugaran. Hasil tes tersebut akan menjadi dasar penyusunan porsi latihan selama puslat berlangsung.
”Puslat ini penting sebagai bagian dari persiapan atlet menuju Porprov 2027. Semua diawali dengan pemetaan kondisi fisik agar program latihannya tepat,” katanya.
Meski kehilangan cukup banyak atlet senior, Sentot optimistis Kota Batu tetap memiliki peluang bersaing. Sejumlah cabang olahraga diprediksi kembali menjadi lumbung medali, di antaranya selam, wushu, mixed martial arts (MMA), serta beberapa cabang bela diri lain yang selama ini konsisten menyumbang prestasi.
Namun, ia mengingatkan persaingan pada Porprov 2027 dipastikan jauh lebih berat. Surabaya sebagai tuan rumah dikenal memiliki kedalaman atlet yang sangat kuat di berbagai cabang olahraga.
”Kami sudah menyampaikan kepada semua cabor bahwa Porprov 2027 akan penuh tantangan. Hanya atlet yang benar-benar memiliki potensi besar yang nantinya diturunkan,” tegasnya.

Karena itu, KONI meminta seluruh cabor mempercepat pembinaan atlet, khususnya atlet lapis kedua dan ketiga. Menurut Sentot, kelompok atlet tersebut perlu lebih banyak jam terbang melalui berbagai kejuaraan agar siap bersaing di level Porprov.
”Tahun 2026 ini harus dimanfaatkan untuk memperbanyak kompetisi. Dari sana akan muncul atlet-atlet yang layak tampil di Porprov 2027. Peran pelatih juga sangat menentukan,” ujarnya.
Sebagai catatan, Kota Batu mencatatkan prestasi membanggakan saat menjadi tuan rumah Porprov Jatim 2025 dengan raihan 33 medali emas, 40 perak, dan 40 perunggu. Capaian tersebut menjadi standar yang ingin dipertahankan, meski tantangan kali ini jauh lebih berat.
Sentot menegaskan, tidak semua cabang olahraga otomatis diberangkatkan ke Surabaya. KONI akan menerapkan seleksi secara ketat agar anggaran dan pembinaan benar-benar difokuskan kepada atlet maupun cabor yang memiliki peluang realistis meraih medali.
”Tidak semua cabor akan ikut Porprov 2027. Surabaya adalah gudangnya atlet berprestasi. Karena itu, setiap cabor harus menjadikan kondisi ini sebagai tantangan dan mempersiapkan atletnya sebaik mungkin,” pungkas Sentot. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




