MALANG POST – Kota Batu optimistis meraih predikat Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (KaTa Kreatif) subsektor gastronomi, usai Tim Penilai Nasional Kemenekraf menuntaskan verifikasi lapangan dan uji petik PMK3I di Balai Kota Among Tani.
Kota Batu kian percaya diri memburu predikat Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (KaTa Kreatif) pada subsektor gastronomi. Optimisme itu menguat setelah Tim Penilai Nasional Kementerian Ekonomi Kreatif menuntaskan verifikasi lapangan sekaligus uji petik Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) di Balai Kota Among Tani, beberapa waktu lalu.
Salah satu rangkaian penilaian ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Hasil Uji Petik PMK3I oleh Wali Kota Batu, Nurochman, bersama Tim Penilai Nasional. Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses untuk mengukur kesiapan Kota Batu dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis gastronomi.
Wali Kota Batu, Nurochman, mengatakan bahwa gastronomi menjadi salah satu sektor yang paling potensial dikembangkan di Kota Batu. Melimpahnya hasil pertanian, tumbuhnya pelaku UMKM kuliner, serta kuatnya sektor pariwisata menjadi modal besar untuk memperkuat ekonomi kreatif daerah.
“Kami optimistis Kota Batu dapat meraih predikat Kota Kreatif Indonesia pada subsektor gastronomi. Pengakuan ini bukan sekadar prestasi, melainkan menjadi peluang untuk memperkuat promosi kuliner lokal, meningkatkan kunjungan wisatawan, sekaligus membuka lebih banyak peluang usaha bagi masyarakat,” ujarnya, kemarin.

PENANDATANGANAN: Wali Kota Batu, Nurochman saat menandatangani berita acara hasil uni petik PMK3I. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Menurut Cak Nur, sapaan akrab Nurochman, pemerintah daerah tidak ingin sektor pertanian, UMKM, industri kuliner, dan pariwisata berjalan sendiri-sendiri. Seluruh potensi tersebut terus dihubungkan agar saling menguatkan dalam satu rantai ekonomi yang utuh.
Dengan pola tersebut, hasil pertanian lokal tidak lagi hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah, melainkan diolah menjadi berbagai produk kuliner bernilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan petani, memperluas pasar UMKM, sekaligus memperkaya daya tarik wisata Kota Batu.
“Kami ingin membangun rantai ekonomi yang saling terhubung, mulai dari petani, pelaku UMKM, hingga sektor pariwisata. Dengan begitu, manfaat ekonomi kreatif benar-benar dirasakan masyarakat secara luas,” tegasnya.
Untuk menjaga keberlanjutan sektor tersebut, Pemkot Batu juga memperkuat program regenerasi petani melalui Smart and Integrated Farming. Program itu disiapkan untuk memastikan pasokan bahan baku berkualitas tetap terjaga sekaligus mendorong lahirnya generasi petani muda yang mampu mengikuti perkembangan teknologi pertanian.
Keberadaan program tersebut dinilai penting karena gastronomi tidak hanya berbicara tentang makanan, melainkan juga menyangkut keberlanjutan produksi, identitas budaya, hingga pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.
Predikat KaTa Kreatif pun diharapkan menjadi pintu masuk bagi Kota Batu untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata unggulan. Tidak hanya menawarkan panorama alam dan udara sejuk, tetapi juga menghadirkan kekayaan kuliner berbasis hasil pertanian lokal yang memiliki daya saing di tingkat nasional. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




