LOLOS: Arema saat turun di babak penyisihan Piala Presiden 2029 di Stadion Si Jalak Harupat. Ketika bermain di Kapten I Wayan Dipta, di babak semi final, seluruh laga tidak boleh ada penonton. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Panitia Pengarah Piala Presiden 2026 bersama PSSI, memastikan laga semifinal dan final yang mempertemukan Arema FC, Persebaya, Persib, dan Persija di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, pada 4–6 Agustus 2026, dilaksanakan tanpa penonton akibat pertimbangan ketat aspek keamanan.
Panggung puncak Piala Presiden 2026 dipastikan hening. Tak ada chant membahana, tak ada kibaran bendera raksasa, apalagi dentum drum di tribun.
Pertarungan babak semifinal dan final yang dipusatkan di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Kabupaten Gianyar, Bali, pada 4–6 Agustus 2026 mendatang bakal digelar steril tanpa penonton.
Keputusan drastis ini diambil demi mencegah risiko bentrokan massal. Bagaimana tidak, babak empat besar turnamen pramusim ini mempertemukan empat poros rivalitas paling membara di tanah air.
Ada Derbi Indonesia antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta, serta Derbi Jawa Timur antara Persebaya Surabaya versus Arema FC yang bertanding pada Selasa (4/8/2026). Partai final sendiri dijadwalkan menyulut persaingan pada Kamis (6/8/2026).
“Sesuai arahan Ketua Umum PSSI (Erick Thohir), lokasi semifinal dan final resmi dipindahkan ke Bali,” tegas Ketua Panitia Pengarah (Steering Committee) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, saat konferensi pers di Balai Kota Surabaya, Minggu (2/8/2026) sore.
Di hadapan media, Maruarar sempat menelepon Erick Thohir yang suaranya dilantangkan via mikrofon. Erick menegaskan bahwa Surabaya maupun Bandung resmi batal menjadi tuan rumah laga-laga puncak tersebut demi alasan keamanan menyeluruh.
Panitia penyelenggara lantas mempertegas imbauan tersebut lewat akun resmi Instagram @officialpialapresiden. Mereka memastikan tidak ada selembar pun tiket yang dijual untuk fase semifinal dan final. Publik diwanti-wanti tidak tergiur tawaran calo tiket dari pihak mana pun.
Anggota SC Piala Presiden 2026 sekaligus Anggota Exco PSSI, Arya Mahendra Sinulingga, blak-blakan menyebut bahwa keputusan pengosongan stadion dipicu oleh rentannya friksi di tingkat akar rumput yang belum sepenuhnya dingin.
“Mohon maaf, selama masih ada perilaku rasisme, pemukulan, dan belum ada perdamaian sejati antarsuporter, sepak bola kita akan tetap seperti ini,” ujar Arya blak-blakan lewat akun media sosialnya.
Bagi PSSI, keselamatan jiwa suporter jauh di atas segalanya. Taruhannya terlalu tinggi. Publik belum lupa pada luka kelam Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 yang merenggut 135 jiwa, maupun bentrokan usai final Piala Presiden 2019 silam.
“Masalah keamanan itu bukan cuma di dalam stadion, tapi di sepanjang jalan sampai ke rumah suporter. Jangan sampai ada lagi jatuh korban jiwa gara-gara permusuhan sepak bola,” sentil Arya tajam.
Meski tribun dipastikan lengang, semangat para pemain di lapangan tak lantas kendur. Panggung Bali tetap menjanjikan duel sarat gengsi.
Bek Persija Jakarta, Rio Fahmi, menegaskan skuad Macan Kemayoran tak terpengaruh situasi tanpa penonton. “Kepalang tanggung, sudah sampai semifinal, ya target kita jelas optimistis juara,” tegas Rio.
Dari kubu Persebaya Surabaya, gelandang muda Toni Firmansyah mengusung misi balas dendam atas kekalahan final edisi 2019 lalu dari Arema FC. Namun, sang pelatih Bernardo Tavares tetap membumi. Tavares menegaskan ajang pramusim ini murni difokuskan untuk mematangkan kerangka tim menyongsong usia seabad Green Force.
Sementara itu, bintang baru Persib Bandung asal Argentina, Mariano Peralta, mematok target manis di musim perdananya. “Saya ingin bantu tim ini angkat trofi. Juara Piala Presiden bakal jadi kado perdana saya untuk pendukung Persib,” ujar pemain terbaik Liga 1 musim lalu itu.
Bali kini menjadi saksi. Tanpa gemuruh penonton, empat raksasa akan membuktikan siapa penguasa sejati sepak bola Indonesia di atas rumput hijau. (Ra Indrata)




